Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mahasiswa Jadi Garda Depan Cegah Perundungan dan Narkoba

Mahasiswa Jadi Garda Depan Cegah Perundungan dan Narkoba
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Pencegahan dimulai dari lingkungan terdekat

Pencegahan perundungan dan penyalahgunaan narkoba adalah upaya bersama untuk mengenali risiko, membangun lingkungan aman, dan bertindak sebelum perilaku berbahaya merugikan orang lain. Itulah pesan penting dari ajakan Polres Kebumen kepada mahasiswa agar aktif menjaga kampus serta masyarakat. Ajakan itu disampaikan dalam talk show “Kewaspadaan Dini dalam Rangka Pencegahan Perundungan dan Bahaya Narkoba di Kalangan Anak Muda Kebumen”, yang digelar HMI Cabang Kebumen bersama Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah di Universitas Putra Bangsa, Jumat (30/10/2026). Dorongan ini tepat waktu: peredaran narkoba disebut kian masif dan kalangan kampus mulai menjadi sasaran. Karena itu, isu narkoba di kampus tidak semestinya dianggap jauh dari kehidupan mahasiswa. Pencegahan yang berhenti pada seminar atau imbauan tidak cukup; lingkungan kampus perlu membangun kepedulian dan kebiasaan bertindak ketika ada tanda bahaya.

Mahasiswa Jadi Garda Depan Cegah Perundungan dan Narkoba

Mahasiswa bukan sekadar penerima edukasi

Peran mahasiswa dalam pencegahan akan terasa ketika pengetahuan berubah menjadi tindakan sehari-hari. Polres Kebumen, melalui Kasihumas Aiptu Nanang Faulatun D yang mewakili Kapolres AKBP Rachmad C Yusuf, mengajak mahasiswa menjadi pelopor pencegahan perundungan dan penyalahgunaan narkoba. Ia menegaskan bahwa kampus harus menjadi tempat aman, sehat, dan mendukung perkembangan generasi muda. Mahasiswa berada dalam posisi strategis: mereka dapat mengenali perubahan di lingkungan pertemanan, menyampaikan informasi yang benar, dan mengajak sesama menjauhi perilaku berisiko. Namun, tanggung jawab ini bukan berarti mahasiswa harus menghadapi masalah sendirian atau mengambil alih tugas penegak hukum. Langkah yang lebih berguna ialah saling mengedukasi, mendukung teman yang terdampak, dan mencari bantuan melalui pihak kampus atau jalur pelaporan yang tepat.

Ajakan cegah perundungan kampus juga menuntut keberanian untuk tidak menormalkan ejekan, intimidasi, atau pengucilan sebagai candaan. Sikap diam dapat membuat korban merasa sendirian dan pelaku merasa tindakannya diterima. Pencegahan narkoba pun memerlukan lebih dari pengetahuan tentang bahaya: mahasiswa perlu mampu menolak ajakan, menjaga ruang pergaulan, dan menanggapi dugaan penyalahgunaan secara bertanggung jawab. Menurut Nanang, pencegahan perlu dimulai dari lingkungan terdekat melalui edukasi, kepedulian, serta keberanian melaporkan indikasi narkoba atau perundungan.

Dari kampus ke masyarakat

Ajakan Polres tidak dibatasi pada ruang kuliah. Mahasiswa diminta ikut mencegah perundungan dan penyalahgunaan narkoba di lingkungan kampus maupun masyarakat. Perluasan ini masuk akal: mahasiswa berhubungan dengan keluarga, organisasi, dan warga sekitar, sehingga pesan pencegahan dapat menjangkau lebih banyak orang. Dalam talk show, perspektif penegakan hukum disampaikan Polres, kewaspadaan nasional dibahas Kesbangpol, dan peran organisasi kepemudaan diangkat HMI. Kolaborasi semacam ini penting, tetapi dampaknya bergantung pada tindak lanjut. Peserta tidak seharusnya pulang hanya membawa catatan materi; mereka dapat meneruskan informasi yang akurat, mengajak komunitas berdiskusi, dan membantu menghubungkan orang yang membutuhkan dukungan dengan pihak yang berwenang.

Ketua Umum HMI Cabang Kebumen Nasikin menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan melahirkan penggerak kampanye pencegahan dari kalangan mahasiswa. Ia berharap mahasiswa menyebarluaskan pemahaman dan mengajak lingkungan masing-masing menjauhi perundungan serta penyalahgunaan narkoba. Harapan ini sebaiknya diterjemahkan menjadi kegiatan berkelanjutan, bukan berhenti pada satu forum. Kampus dapat memperkuat ruang aman untuk melapor, sementara organisasi mahasiswa dapat merawat kampanye edukasi yang terbuka dan tidak menghakimi. Dengan begitu, mahasiswa berperan sebagai penghubung antara pengetahuan, kepedulian, dan tindakan nyata.

Ajakan harus berujung pada kebiasaan nyata

Ajakan Polres Kebumen memberi arah yang jelas: pencegahan perundungan dan narkoba tidak bisa diserahkan hanya kepada aparat atau pengelola kampus. Mahasiswa perlu ikut mengenali risiko, memahami dampaknya, dan berani mengambil sikap untuk menghindarinya. Langkah berikutnya adalah menyebarkan edukasi, membangun kepedulian, serta melaporkan indikasi masalah dengan cara yang aman dan bertanggung jawab. Sinergi mahasiswa, kampus, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan kepolisian diharapkan memperkuat pencegahan sejak dini serta menjaga lingkungan sosial Kebumen tetap aman dan kondusif. Ukuran keberhasilan bukan banyaknya imbauan, melainkan apakah warga kampus dan masyarakat merasa lebih mampu mencegah bahaya, mendukung korban, dan meminta bantuan. Mahasiswa dapat menjadi penggerak perubahan jika ajakan ini diwujudkan dalam tindakan konsisten.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!