Tiga jalur, satu persoalan publik
Penanganan stunting kota adalah upaya pemerintah daerah mencegah gangguan pertumbuhan anak melalui layanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan dasar, dan intervensi yang disesuaikan dengan kondisi keluarga serta wilayah. Tiga pendekatan di Padang, Kendari, dan Surakarta menunjukkan bahwa strategi lokal tidak harus seragam: satu memperkuat tenaga medis, satu menargetkan akses air minum, dan satu memakai pemetaan data. Perbedaan ini penting karena stunting berkaitan dengan lebih dari satu faktor, sehingga respons yang berguna harus berangkat dari kebutuhan yang hendak ditangani, bukan sekadar meniru program kota lain. Namun, masing-masing langkah juga perlu dibaca sesuai bukti yang tersedia. Pengumuman anggaran atau penggunaan dashboard menjelaskan arah kebijakan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan penurunan kasus. Perbandingan yang cermat membantu melihat apa yang sedang dibangun tiap kota tanpa mengklaim hasil yang belum dilaporkan.
Padang: memperdekat layanan lewat kolaborasi dokter
Padang memilih memperkuat kapasitas layanan dengan menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Wakil Wali Kota Maigus Nasir menyampaikan dorongan agar dokter berperan lebih besar dalam agenda kesehatan masyarakat saat menghadiri Malam Keakraban Pertemuan Ilmiah Tahunan IDI Cabang Padang, Minggu, 1 November 2026. Arah ini masuk akal: tenaga medis dapat membantu memperluas akses, meningkatkan mutu pelayanan, serta mendukung pencegahan dan deteksi dini, termasuk untuk stunting dan tuberkulosis. Kota ini juga menyiapkan Dokter Warga melalui Call Center 112 bagi warga yang kesulitan mengakses rumah sakit. Komitmen layanan yang lebih luas turut mencakup BPJS Kesehatan gratis dengan dukungan APBD sekitar Rp65 miliar per tahun. Angka tersebut menggambarkan dukungan pembiayaan kesehatan secara umum, bukan anggaran khusus stunting. PIT IDI dirancang menjadi agenda tahunan untuk memperkuat kompetensi dan menyiapkan regenerasi kepengurusan pada 2027. Jadi, kekuatan pendekatan Padang terletak pada jejaring layanan kesehatan stunting dan kedekatannya dengan warga, bukan pada klaim hasil penurunan kasus yang belum disebut.

Kendari: anggaran untuk kebutuhan dasar
Kendari mengambil jalur berbeda: menghubungkan penanganan stunting dengan mutu dan jangkauan air minum. Pemerintah pusat mendukung program tersebut melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) lebih dari Rp5 miliar yang dijadwalkan direalisasikan pada 2027. Anggaran itu akan digunakan untuk peningkatan layanan air minum melalui Dinas PUPR, dengan PDAM Tirta Anoa sebagai pihak penerima manfaat dalam peningkatan distribusi kepada masyarakat. Persiapan koordinasi antara dinas dan PDAM menunjukkan bahwa langkah berikutnya adalah menyiapkan pelaksanaan, bukan melaporkan hasil yang sudah tercapai. Pilihan ini patut diperhatikan karena sanitasi dan kualitas air berkaitan dengan kesehatan lingkungan serta tumbuh kembang anak. Namun, anggaran stunting daerah di sini diarahkan pada layanan dasar, bukan layanan klinis atau pemetaan kasus. Nilai kebijakannya bergantung pada pelaksanaan dan terpenuhinya standar air minum; sumber yang tersedia belum menyatakan dampak program terhadap angka stunting.
Surakarta: data untuk menyesuaikan intervensi
Surakarta menempatkan ketepatan sasaran sebagai pusat strategi. Saat kunjungan pemantauan Program Investing in Nutrition and Early Years Fase 2 di Laweyan, Senin, 2 November 2026, Wakil Wali Kota Astrid Widayani memaparkan pendekatan pemetaan wilayah. Solo Stunting Dashboard membantu memetakan kondisi di lima kecamatan agar intervensi disesuaikan dengan persoalan setempat. Ini membuat dashboard data stunting berguna sebagai alat penentuan prioritas, bukan sekadar tampilan angka. Pendekatan kota ini juga mengakui bahwa gizi bukan satu-satunya faktor: sanitasi, pola asuh, kesehatan ibu dan anak, serta lingkungan keluarga ikut diperhitungkan. Surakarta masuk 20 besar daerah dengan kinerja nasional terbaik dalam percepatan penurunan stunting, menurut paparan sumber. Capaian itu dikaitkan dengan kerja bersama pemerintah, kader, akademisi, tenaga kesehatan, sektor swasta, dan masyarakat. Program seperti DASHAT dan Baby Cafe menyediakan MPASI bergizi setiap hari bagi bayi di bawah dua tahun; Posyandu Plus juga dikembangkan untuk memperluas layanan dan pendampingan keluarga. Kunjungan tersebut diharapkan memperkuat evaluasi dan koordinasi lintas sektor.

Bandingkan cara kerjanya, bukan sekadar angkanya
Ketiga kota memperlihatkan bahwa penanganan stunting tidak memiliki satu pintu masuk. Padang menekankan kemitraan profesi dan akses warga ke dokter; Kendari menyalurkan DAK untuk memperbaiki layanan air minum; Surakarta memakai data wilayah untuk mengarahkan intervensi yang lebih beragam. Mencampuradukkan ketiganya akan mengaburkan tujuan masing-masing. Kolaborasi dokter tidak sama dengan pembangunan layanan air, dan dashboard tidak menggantikan pelayanan di tingkat keluarga. Tolok ukur yang masuk akal adalah apakah rencana diterjemahkan menjadi layanan yang menjangkau sasaran serta dievaluasi dengan jelas. Bukti yang tersedia menyebut komitmen, instrumen, anggaran, dan capaian peringkat Surakarta, tetapi tidak memberikan hasil penurunan angka stunting yang sebanding untuk ketiga kota. Karena itu, perbandingan ini lebih berguna sebagai gambaran pilihan kebijakan daripada klaim bahwa satu model telah terbukti paling berhasil.
Kesimpulan: strategi lokal perlu diuji lewat pelaksanaan
Perbedaan strategi Padang, Kendari, dan Surakarta justru menunjukkan arah yang tepat: pemerintah kota dapat memilih titik intervensi sesuai tantangan setempat, asalkan tidak berhenti pada pengumuman program. Padang perlu menjaga agar jejaring dokter dan akses Call Center 112 benar-benar membantu warga; Kendari perlu memastikan DAK 2027 menjadi layanan air minum yang memenuhi standar; Surakarta perlu menggunakan pemetaan untuk menuntun intervensi dan evaluasi lintas sektor. Tidak ada dasar untuk menyebut salah satu pendekatan sebagai pemenang mutlak. Ukuran akhirnya adalah pelaksanaan, jangkauan, dan bukti hasil yang transparan. Untuk saat ini, tiga contoh tersebut menawarkan pelajaran yang berbeda: perkuat layanan, benahi kebutuhan dasar, dan gunakan data untuk menentukan sasaran.






