Tiga pendekatan, satu pekerjaan yang belum selesai
Penanganan stunting daerah adalah upaya pemerintah dan mitra setempat untuk mencegah serta menangani gangguan pertumbuhan anak melalui intervensi yang disesuaikan dengan kebutuhan keluarga dan wilayah. Perbandingan Solo, Semarang, dan Padang memperlihatkan bahwa strategi tidak harus berbentuk sama: data dapat mengarahkan sasaran, daycare dapat menyatukan dukungan bagi anak, sementara kolaborasi dokter dapat memperluas akses layanan. Ketiganya menjawab bagian berbeda dari persoalan, dan sumber yang tersedia tidak membuktikan bahwa salah satunya menghasilkan dampak lebih besar.
Perbedaan itu penting. Stunting bukan perkara yang selesai hanya dengan membagikan makanan tambahan; layanan, pengasuhan, kondisi keluarga, dan kemampuan menjangkau warga ikut menentukan mutu respons. Karena itu, menilai kebijakan hanya dari nama program atau penghargaan berisiko mengaburkan pertanyaan yang lebih berguna: apakah intervensi cocok dengan hambatan yang dihadapi keluarga? Pendekatan ketiga kota ini memberi gambaran tentang pilihan desain kebijakan, bukan dasar untuk menyamakan hasilnya.
Solo memakai data untuk menentukan sasaran
Solo menempatkan pemetaan sebagai alat untuk membuat intervensi lebih terarah. Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani memaparkan strategi tersebut dalam kunjungan lapangan pemantauan Program Investing in Nutrition and Early Years Fase 2 di Kecamatan Laweyan pada 2 November 2026. Solo Stunting Dashboard membantu memetakan kondisi di lima kecamatan, sehingga respons bisa menyesuaikan persoalan dan kebutuhan masyarakat setempat. Nilai utama dashboard data stunting bukan pada tampilannya, melainkan pada kemampuannya menghubungkan informasi dengan keputusan layanan.
Pemkot Surakarta juga menekankan bahwa penanganan perlu memperhitungkan sanitasi, pola asuh, kesehatan ibu dan anak, serta lingkungan keluarga, bukan gizi saja. Upaya pendampingan di tingkat keluarga mencakup DASHAT, Baby Cafe dengan MPASI untuk baduta, edukasi pola asuh melalui Sekolah Cegah Stunting dan Ndulang Bareng, serta stimulasi motorik lewat Baby Spa Gratis. Kota ini masuk 20 besar nasional dalam kinerja percepatan penurunan stunting, tetapi capaian tersebut tidak dengan sendirinya mengukur dampak setiap program secara terpisah. Pemkot menyatakan akan terus memperkuat kerja berbasis data dan manfaat bagi keluarga.

Semarang menyatukan layanan anak dan pengasuhan
Semarang memilih bentuk intervensi yang lebih terintegrasi melalui DAYCARE Stunting. Program ini dirancang untuk mendampingi kebutuhan anak lewat intervensi gizi, pemeriksaan kesehatan, pengasuhan, dan stimulasi tumbuh kembang. Cakupannya tidak berhenti pada pemeriksaan dan pemenuhan gizi: layanan juga mengintegrasikan Pendidikan Anak Usia Dini serta kelas pengasuhan bagi orang tua. Dengan rancangan tersebut, daycare stunting menghubungkan layanan kesehatan balita dengan dukungan perkembangan dan pendampingan keluarga.
Inovasi ini menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam Penghargaan Pembangunan Daerah Jawa Tengah 2026, saat Semarang meraih predikat Kota Terbaik II. Penghargaan memberi pengakuan terhadap arah perencanaan, tetapi tidak membuktikan sendiri seberapa besar perubahan status gizi anak yang dihasilkan DAYCARE Stunting. Justru kekuatan gagasan ini terletak pada keluasan layanan yang hendak disatukan; tantangannya adalah memastikan keluarga sasaran dapat mengakses dukungan tersebut secara konsisten. Pemerintah kota menyatakan ingin memastikan program memberi manfaat nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar capaian administratif.

Padang memperkuat akses melalui kemitraan dokter
Padang menonjolkan jalur yang berbeda: memperkuat layanan kesehatan dengan mengajak Ikatan Dokter Indonesia mengambil peran lebih besar. Wakil Wali Kota Maigus Nasir menyampaikan dorongan itu saat menghadiri Malam Keakraban Pertemuan Ilmiah Tahunan IDI Cabang Padang pada 1 November 2026. Kolaborasi pemerintah daerah dan tenaga medis diarahkan untuk memperluas akses, meningkatkan mutu pelayanan, serta mendukung penanganan stunting dan tuberkulosis.
Bagi warga yang kesulitan mengakses rumah sakit, Pemkot menyiapkan program Dokter Warga melalui Call Center 112. Kota ini juga menyampaikan komitmen BPJS Kesehatan gratis dengan dukungan APBD sekitar Rp65 miliar per tahun. Jumlah anggota IDI yang disebutkan turut menunjukkan kapasitas kemitraan: sekitar 2.800 dari 4.000 anggota IDI di Sumatera Barat berada di Padang. Namun, kerja sama profesi dan jalur akses medis bukan hal yang sama dengan pemetaan wilayah atau layanan daycare; sumber tidak mengaitkannya dengan hasil penurunan stunting tertentu. Pertemuan tahunan IDI berikutnya dirancang untuk memperkuat kompetensi dan menyiapkan regenerasi kepengurusan pada 2027.
Keberhasilan bergantung pada kecocokan intervensi
Ketiga kota menawarkan pelajaran yang saling melengkapi, bukan model yang bisa dipertukarkan tanpa penyesuaian. Solo menggunakan data untuk memilih lokasi dan bentuk intervensi; Semarang merangkai kebutuhan gizi, kesehatan, pendidikan usia dini, dan pengasuhan; Padang mengandalkan kemitraan dokter serta jalur bantuan layanan. Ukuran kerja mereka pun berbeda, sehingga klaim bahwa satu pendekatan lebih efektif daripada yang lain belum ditopang informasi yang tersedia.
Bagi pemerintah daerah lain, pilihan yang paling masuk akal adalah mengenali hambatan keluarga lebih dulu, lalu mencocokkan layanan dengan kebutuhan itu dan memantau pelaksanaannya. Dashboard berguna bila datanya mengubah keputusan; daycare bernilai bila dukungannya dapat dijangkau; kolaborasi tenaga medis berarti bila warga lebih mudah memperoleh layanan. Pada akhirnya, penanganan stunting yang kuat bukan lomba memilih inovasi paling menarik, melainkan kerja berkelanjutan yang menyambungkan sasaran, layanan, dan keluarga tanpa mengklaim dampak yang belum terukur.






