Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bank Masuk Kelas: Literasi Keuangan Siswa dari Celengan ke Fitur Digital

Bank Masuk Kelas: Literasi Keuangan Siswa dari Celengan ke Fitur Digital
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi keuangan siswa bukan lagi teori, tetapi latihan mengelola uang sejak bangku sekolah

Literasi keuangan siswa adalah proses pembelajaran yang membuat anak memahami cara mendapatkan, menyimpan, menggunakan, dan membagikan uang melalui pengalaman langsung, mulai dari menabung, mencatat transaksi, hingga memanfaatkan layanan perbankan digital yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hari ini, bank tidak lagi menunggu generasi muda menjadi pekerja untuk diajak melek finansial; pendidikan finansial mereka dimulai saat masih duduk di bangku sekolah. Program tabungan sekolah dan fitur donasi digital menghubungkan teori di kelas dengan praktik nyata, sehingga kebiasaan menabung sejak dini dan berbagi menjadi bagian dari identitas generasi muda, bukan sekadar pesan moral dalam buku pelajaran. Pendekatan ini penting karena perilaku finansial yang sehat dibentuk oleh kebiasaan berulang, bukan oleh ceramah sesekali.

Di sini bank berperan lebih dari sekadar lembaga penyimpan uang. Mereka masuk ke ruang kelas sebagai mitra pendidikan yang membawa konteks dunia nyata: kartu identitas yang bisa dipindai, rekening yang bisa diakses, hingga aplikasi yang menunjukkan aliran uang secara transparan. Pendekatan ini layak disorot karena menggeser literasi keuangan dari konsep abstrak menjadi serangkaian tindakan sederhana yang bisa dilakukan siswa setiap hari—menyetor uang jajan, memeriksa saldo, atau menjadwalkan donasi kecil. Tanpa pengalaman konkret seperti ini, pesan tentang pentingnya menabung dan mengelola uang untuk masa depan mudah menguap begitu siswa keluar dari kelas.

Dari celengan ke rekening: program tabungan sekolah yang mengubah cara siswa memandang uang

Program BNI Sahabat Sekolah Rakyat memotong jalur panjang antara teori keuangan dan praktik dengan cara yang sangat sederhana: mengajak siswa pindah dari celengan ke rekening bank. Kebiasaan menabung sejak dini dikenalkan lewat pengalaman langsung, bukan sekadar penyuluhan lisan. Siswa diajak memahami bahwa uang yang mereka sisihkan untuk masa depan bisa dicatat, dipantau, dan diamankan oleh sistem perbankan, bukan hanya disimpan di kaleng atau botol plastik. Salah satu siswi, Selfi Nawawi, baru menyadari bahwa ia bisa memiliki tabungan melalui rekening meski belum bekerja, dan langsung menghubungkan hal itu dengan rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kekuatan program tabungan sekolah ini terletak pada praktik, bukan brosur. Guru Biologi SMA SRT 3, Tiyah Wasma Terru, menekankan bahwa siswa lebih mudah memahami materi ketika mereka bisa mencoba langsung, mulai dari penggunaan ID card yang dapat dipindai hingga melihat bentuk buku rekening. Siswa diajarkan bahwa menabung tidak hanya melalui celengan; dana juga dapat disimpan di rekening sehingga pencatatan dan nominal tabungan lebih jelas. Inilah inti literasi keuangan siswa: membiasakan mereka melihat angka, transaksi, dan catatan sebagai bagian dari keputusan sehari-hari. Tanpa struktur seperti ini, menabung hanya menjadi slogan, bukan kebiasaan.

Bank Masuk Kelas: Literasi Keuangan Siswa dari Celengan ke Fitur Digital

Infaq Rutin di BYOND: kebiasaan berbagi generasi muda dipandu teknologi

Jika program tabungan sekolah mengajarkan cara menyimpan uang, fitur Infaq Rutin di BYOND by BSI mengajarkan cara mengelola sisi lain dompet: kepedulian sosial. Gaya hidup generasi muda kini makin mempertimbangkan purpose, value, dan dampak sosial, sejalan dengan budaya kedermawanan yang kuat. Survei nasional potret ZISWAF menunjukkan total nilai ZISWAF dan kurban yang dikeluarkan masyarakat Muslim dalam setahun diperkirakan mencapai Rp343,08 triliun, dengan infak dan sedekah menyumbang Rp221,7 triliun. Angka ini adalah sinyal keras bahwa perilaku berbagi sudah tertanam; tugas bank adalah mempermudah dan menstrukturkannya.

Menangkap peluang tersebut, Bank Syariah Indonesia menghadirkan inovasi melalui BYOND by BSI dengan fitur Infaq Rutin. Fitur ini memungkinkan nasabah, termasuk generasi muda, melakukan infak secara otomatis dan terjadwal—harian, mingguan, atau bulanan—dengan nominal mulai dari Rp1.000. Dengan demikian, kebiasaan berbagi tidak bergantung pada ingatan atau momen emosional sesaat, tetapi dibangun sebagai rutinitas yang konsisten. Menurut bank, inovasi ini dirancang agar generasi muda tetap menjalani hobi dan aktivitasnya sekaligus terbiasa menyisihkan sebagian uang untuk sesama. Digitalisasi membuat aktivitas ZISWAF lebih mudah, relevan, dan terintegrasi dengan keseharian, dan hingga pertengahan 2026, transaksi ZISWAF melalui layanan BSI hampir mencapai 1 juta transaksi.

Edukasi finansial digital: ketika aplikasi dan kelas saling menguatkan

Kita sering mengeluh generasi muda terlalu lekat dengan gawai. Namun program seperti BNI Sahabat Sekolah Rakyat dan fitur Infaq Rutin menunjukkan bahwa layar yang sama bisa menjadi ruang belajar keuangan yang kuat. Program di sekolah rakyat memberi pengalaman langsung mengenai pentingnya menabung dan mengelola keuangan untuk kebutuhan masa depan, sementara aplikasi digital memudahkan tindakan berulang seperti menabung dan berinfaq secara terjadwal. Inilah bentuk edukasi finansial digital yang seharusnya: bukan mengganti guru, tetapi memperpanjang efek pembelajaran hingga ke ponsel siswa.

Integrasi teknologi perbankan digital membuat siswa terbiasa mengelola uang sejak usia sekolah melalui dua jalur: tabungan yang tercatat rapi dan donasi yang terjadwal. Di kelas, mereka belajar bahwa menabung tidak berhenti pada celengan; rekening memberikan transparansi dan catatan nominal yang jelas. Di dunia digital, mereka belajar bahwa berbagi bukan aktivitas musiman, tetapi bisa diatur otomatis dengan nilai kecil namun konsisten. Program-program ini secara praktis menyasar siswa sekolah rakyat dan sekolah negeri sebagai bagian dari strategi pendidikan finansial, menutup kesenjangan antara kelompok yang punya akses ke pengetahuan keuangan dan yang tidak.

Menuju generasi yang bukan hanya pandai menabung, tetapi juga bijak berbagi

Jika ditarik ke garis besar, strategi bank yang masuk ke sekolah dan ke ponsel siswa menyampaikan pesan yang jelas: mengelola uang itu keterampilan hidup, bukan ilmu tambahan. Program tabungan sekolah membentuk kebiasaan menabung sejak dini, sedangkan fitur infaq digital membentuk kebiasaan berbagi yang teratur. Keduanya mengajarkan bahwa setiap rupiah punya arah—sebagian untuk masa depan, sebagian untuk orang lain yang membutuhkan.

Tantangannya sekarang bukan lagi apakah siswa mampu memahami konsep keuangan, melainkan apakah sekolah, bank, dan orang tua siap menjadikannya praktik rutin. Tanpa konsistensi, program sebaik apa pun akan menguap sebagai seremonial. Ke depan, literasi keuangan siswa perlu diperlakukan setara pentingnya dengan literasi membaca dan numerasi: diukur, diulang, dan dikaitkan dengan kehidupan nyata. Jika bank terus mengembangkan edukasi finansial digital yang membumi, dan sekolah rakyat maupun negeri membuka ruang praktik yang cukup, kita berpeluang besar melahirkan generasi yang bukan hanya pandai menghitung uang, tetapi juga bijak memaknai dan menggunakannya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!