Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Celengan hingga Uang Saku: Bekal Keuangan bagi Siswa

Dari Celengan hingga Uang Saku: Bekal Keuangan bagi Siswa
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi keuangan dimulai dari kebiasaan sehari-hari

Literasi keuangan siswa adalah kemampuan memahami dan mengelola uang melalui pilihan sehari-hari, seperti menyisihkan uang saku, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mengenali risiko sebelum mengambil keputusan. Keterampilan ini lebih mudah tumbuh bila diajarkan lewat praktik yang dekat dengan kehidupan anak, bukan hanya nasihat tentang berhemat. Pada Kamis, 29 Oktober 2026, mahasiswa KKN UNNES GIAT 17 Kelurahan Pakintelan mengajak siswa kelas IV SDN Pakintelan 03 belajar menabung lewat sosialisasi interaktif dan kegiatan menghias celengan. Program “Tabungan Ceria” menggabungkan penjelasan sederhana dengan aktivitas kreatif: siswa menghias kaleng memakai cat dan kuas, lalu dapat menjadikannya tempat menyimpan uang. Pendekatan ini tepat untuk usia sekolah dasar karena celengan menjadi pengingat yang terlihat dan bisa digunakan setiap hari. Kebiasaan menabung anak tidak perlu dimulai dengan jumlah besar; yang lebih penting adalah menyisihkan sebagian uang secara rutin, belajar mengendalikan keinginan, dan memahami bahwa tujuan masa depan dibangun sedikit demi sedikit.

Mengatur uang saku dengan tujuan yang jelas

Saat beranjak remaja, persoalan uang menjadi lebih beragam: uang jajan bersaing dengan biaya transportasi, makanan, top up gim, dan barang yang sedang tren. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 08.00–10.00 WIB, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Akuntansi UBSI Kampus Tegal mengadakan edukasi pengelolaan keuangan di SMPN 19 Kota Tegal. Materinya meliputi cara mengatur uang saku, metode 50/30/20, perilaku konsumtif, risiko judol dan pinjol, serta penentuan target tabungan. Metode itu diperkenalkan lewat simulasi: dari uang saku Rp20.000, Rp10.000 dialokasikan untuk kebutuhan, Rp6.000 untuk keinginan, dan Rp4.000 untuk tabungan. Pembagian tersebut bukan aturan kaku, melainkan contoh untuk membantu siswa membuat prioritas. Diskusi tentang kebutuhan dan keinginan lebih berguna daripada larangan umum membeli sesuatu, sebab siswa belajar menimbang pilihan dan menyesuaikan pengeluaran dengan keadaan mereka.

Dari Celengan hingga Uang Saku: Bekal Keuangan bagi Siswa

Mencatat uang dan mewaspadai risiko digital

Menabung akan lebih terarah jika siswa tahu ke mana uangnya pergi. Dalam kegiatan UBSI, siswa berlatih memakai aplikasi Sepran untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran, sehingga dapat melihat penggunaan uang dengan lebih teratur. Pencatatan sederhana—bahkan tanpa aplikasi—dapat membantu mengungkap pengeluaran kecil yang berulang dan memberi dasar untuk menetapkan target tabungan. Namun, literasi keuangan di SMP tidak cukup berhenti pada anggaran. Mahasiswa juga membahas bahaya judol pinjol, termasuk potensi kerugian finansial dan dampak terhadap kehidupan pribadi maupun sosial. Paparan media sosial dan layanan digital membuat kewaspadaan ini relevan bagi remaja. Siswa diingatkan agar tidak mudah tergiur tawaran mencurigakan dan lebih bijak menggunakan layanan digital. Pesannya patut diperkuat di rumah dan sekolah: tawaran yang menjanjikan keuntungan cepat atau pinjaman mudah perlu diperiksa, bukan ditanggapi terburu-buru.

Dari pelajaran menjadi kebiasaan

Kegiatan di Pakintelan dan Tegal memperlihatkan bahwa edukasi keuangan paling kuat ketika memberi siswa sesuatu untuk dilakukan: menghias celengan, membagi uang saku, menetapkan target, atau mencatat transaksi. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar latihan itu berlanjut setelah sesi selesai. Celengan yang dihias dapat mengingatkan anak untuk menyisihkan uang secara rutin, sementara pencatatan dan penentuan prioritas dapat menjadi kebiasaan remaja dalam mengelola pengeluaran sehari-hari. Mahasiswa UNNES berharap kolaborasi dengan SDN Pakintelan 03 menumbuhkan kebiasaan positif sejak sekolah dasar. Mahasiswa UBSI berharap siswa SMPN 19 Tegal mampu mengelola uang dengan bijak, membedakan kebutuhan dari keinginan, menabung, dan mencatat pengeluaran. Harapan itu akan lebih mudah tercapai bila keluarga dan sekolah ikut memberi ruang bagi anak untuk berlatih, berdiskusi, dan belajar dari pilihan finansialnya.

Kesimpulannya, menabung bukan tujuan tunggal pendidikan keuangan, melainkan pintu masuk untuk mengelola pilihan dan risiko. Anak SD dapat mulai dengan celengan dan kebiasaan menyisihkan uang; siswa SMP dapat melangkah ke anggaran, pencatatan, dan kewaspadaan terhadap judol serta pinjol. Pelajaran yang konsisten dan sesuai usia akan membekali mereka dengan keputusan finansial yang lebih bertanggung jawab.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!