Literasi keuangan siswa: mengapa harus dimulai dari bangku SD?
Program menabung sekolah adalah rangkaian kegiatan terstruktur di lingkungan pendidikan dasar yang bertujuan membentuk literasi keuangan siswa sejak kecil lewat pembiasaan menabung, pengenalan konsep kebutuhan dan keinginan, serta edukasi pengelolaan uang jajan, dengan menghubungkan teori sederhana tentang uang ke praktik sehari-hari yang dapat dilakukan anak secara konsisten di rumah maupun di sekolah. Literasi keuangan siswa bukan lagi isu untuk orang dewasa saja; ia sedang bergeser menjadi agenda utama di ruang kelas. Ketika uang jajan tidak sekadar dihabiskan di kantin, tetapi mulai dipahami sebagai sumber keputusan finansial, sekolah ikut berperan membentuk kebiasaan finansial anak. Di titik ini, program menabung berbasis KKN tampil sebagai intervensi konkret: mahasiswa turun langsung, guru membuka ruang, dan siswa diajak memikirkan setiap rupiah yang mereka pegang sebagai bagian dari masa depan, bukan hanya kesenangan sesaat.
‘Kuy Menabung’: celengan kaleng bekas dan lahirnya kebiasaan hemat
Di SD Negeri 1 Jatirunggo, program literasi keuangan bertajuk “Kuy Menabung” digelar oleh mahasiswa KKN Posko 17 UIN Walisongo Semarang pada Kamis, 30 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti 30 siswa kelas III sebagai upaya menanamkan kebiasaan menabung dan mengenalkan pengelolaan keuangan sejak usia dini. Pendekatannya jelas berpihak pada anak: materi disampaikan lewat permainan edukatif, kuis, hingga praktik membuat celengan dari kaleng bekas yang dihias sesuai kreativitas masing-masing. Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, ada pesan kuat tentang kebiasaan finansial anak. Mahasiswa menjelaskan pengertian menabung, manfaat menyisihkan uang saku, dan perbedaan kebutuhan serta keinginan. Kepala sekolah menegaskan, pembiasaan mengelola uang sejak kecil membentuk karakter hemat, disiplin, dan bertanggung jawab. Praktik membuat celengan bukan sekadar proyek kerajinan tangan; ia adalah simbol bahwa keputusan menyimpan atau menghabiskan uang kini benar-benar hadir di meja belajar siswa.

Program Celeng Emas: menabung ceria, membangun generasi yang lebih siap
Di SDN 69 Sikapaya, Desa Minasa Upa, mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin menggelar program Celeng Emas (Ceria Menabung, Generasi Emas) sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan sejak usia dini bagi siswa sekolah dasar. Fokusnya tetap sama: menanamkan kebiasaan menabung dan kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan sebagai fondasi perilaku keuangan yang sehat sejak usia dini. Materi disampaikan secara interaktif dengan contoh yang dekat pada kehidupan siswa, sehingga konsep abstrak seperti "masa depan" dan "prioritas pengeluaran" menjadi lebih konkret. Lembar aktivitas bergambar digunakan untuk mengelompokkan ilustrasi ke kategori kebutuhan dan keinginan, lalu diwarnai sebagai bagian dari permainan edukatif. Di sini tampak jelas bahwa edukasi pengelolaan uang tidak harus kaku atau teoritis; ia bisa ceria, penuh warna, namun tetap kritis. Program seperti Celeng Emas menunjukkan bahwa kebiasaan finansial anak dibentuk lewat pengulangan aktivitas kecil, bukan lewat ceramah panjang yang mudah dilupakan begitu bel istirahat berbunyi.

Bijak kelola uang jajan: literasi keuangan yang bersentuhan dengan realitas sosial
Di UPTD SDN 48 Bontokapetta, mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin Gelombang 116 menggelar penyuluhan literasi keuangan bertajuk “Bijak Kelola Uang Jajanmu!” bagi 44 siswa kelas 6, dilaksanakan selama dua hari dengan durasi sekitar 60 menit per kelas. Berbeda dari dua program sebelumnya, inisiatif ini secara eksplisit mengaitkan edukasi pengelolaan uang dengan kondisi sosial ekonomi warga sekitar yang mayoritas petani, dengan pendapatan yang bergantung pada musim panen. Tema literasi keuangan dipilih agar anak terbiasa mengatur uang saku, tidak hanya menghabiskan, tetapi juga menyisihkan untuk ditabung. Siswa diajak mengenal konsep dasar uang, fungsi uang, dan membedakan kebutuhan serta keinginan melalui permainan edukatif “Kebutuhan vs Keinginan” dan pre-test serta post-test untuk mengukur pemahaman. Ucapan salah satu siswa yang merasa "jadi paham cara menabung dan mengelola uang jajan" menunjukkan dampak praktis: literasi keuangan siswa bergerak dari wacana menjadi keterampilan sehari-hari.
Dari KKN ke kebijakan sekolah: saatnya program menabung jadi budaya, bukan kegiatan sekali lewat
Tiga contoh di atas menegaskan satu hal: ketika mahasiswa hadir sebagai fasilitator, literasi keuangan siswa berubah dari konsep abstrak menjadi pengalaman nyata di kelas. Namun ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: apakah program menabung sekolah ini akan berhenti ketika KKN selesai, atau justru diadopsi sebagai budaya permanen? Jika sekolah memandang uang jajan sebagai instrumen pendidikan, bukan sekadar urusan kantin, maka kebiasaan finansial anak bisa dibentuk secara konsisten. Program seperti “Kuy Menabung”, "Celeng Emas", dan "Bijak Kelola Uang Jajanmu" sudah membuktikan bahwa metode interaktif dan praktis—celengan kaleng bekas, lembar aktivitas, permainan kebutuhan vs keinginan—lebih efektif daripada nasihat kosong tentang "jangan boros". Tantangannya sekarang ada pada kepala sekolah, guru, dan orang tua: berani menjadikan literasi keuangan bagian dari kurikulum hidup sehari-hari, bukan hanya proyek menarik di kalender KKN tahunan.




