Bagaimana Bank dan OJK Mengajarkan Literasi Keuangan kepada Puluhan Ribu Siswa Sekolah

Bagaimana Bank dan OJK Mengajarkan Literasi Keuangan kepada Puluhan Ribu Siswa Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi keuangan siswa: dari jargon jadi kebiasaan sehari-hari

Literasi keuangan siswa adalah upaya terstruktur untuk mengajarkan anak sekolah cara memahami, mengelola, dan mengambil keputusan terkait uang, mulai dari menabung, membelanjakan, hingga merencanakan keuangan, melalui pengalaman belajar langsung yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Fokusnya bukan sekadar hafal istilah perbankan, tetapi membentuk kebiasaan finansial sehat sejak kecil. Itu sebabnya bank, regulator, dan kampus mulai turun langsung ke sekolah, menjadikan kelas sebagai laboratorium keuangan mini. Pendekatan ini penting karena generasi muda tumbuh dalam ekosistem digital yang penuh tawaran transaksi instan, dari belanja online hingga dompet digital. Tanpa fondasi manajemen keuangan anak yang kuat, kemudahan ini bisa berubah menjadi jebakan utang dan konsumsi impulsif. Jadi pertanyaannya bukan lagi “perlu atau tidak”, melainkan “seberapa cepat dan serius sekolah mengintegrasikan literasi ini ke dalam keseharian siswa”.

Bagaimana Bank dan OJK Mengajarkan Literasi Keuangan kepada Puluhan Ribu Siswa Sekolah

Tour de Bank: saat kelas pindah ke kantor cabang

Program edukasi bank sekolah menemukan bentuk paling nyata dalam Tour de Bank (TDB) yang digelar sebuah bank di kantor cabang Graha mereka, membawa siswa SD langsung berinteraksi dengan dunia perbankan melalui aktivitas interaktif untuk mengenal tabungan, transaksi, dan pengelolaan uang. Ini bukan tur wisata; ini “laboratorium keuangan” yang memperlihatkan bagaimana uang disimpan, dicatat, dan digunakan secara aman. Program ini diperluas lewat Ayo Menabung dan Berbagi (AMDB) untuk siswa SMP, menekankan pentingnya mengelola keuangan secara bijak sejak dini. Sejak 2011 hingga Juni 2026, TDB dan AMDB telah menjangkau 112.461 siswa di 1.216 sekolah di 77 kota, dan khusus 2026 menyentuh 5.162 siswa di 62 sekolah. Ini angka besar, tetapi sekaligus pengingat: literasi keuangan generasi muda masih sangat tergantung pada inisiatif sukarela lembaga keuangan, bukan kewajiban kurikulum.

OJK dan Bulan Literasi: kampanye massal yang perlu diterjemahkan di kelas

Regulator keuangan memperluas OJK literasi generasi muda lewat kampanye nasional Bulan Literasi Keuangan (BLK) yang digelar sepanjang Mei hingga Agustus dengan tema “Cerdas Literasi Keuangan Digital, Hidup Sejahtera Menuju Indonesia Emas” dan melibatkan pelaku industri serta lembaga analisis transaksi. Secara konsep, ini adalah payung besar yang mendorong bank, sekolah, dan komunitas membuat program di lapangan, dari jambore nasional hingga kegiatan tematik di cabang bank. Menurut salah satu direktur bank yang terlibat, literasi keuangan adalah keterampilan penting yang perlu dibangun sejak usia dini karena perkembangan teknologi digital menuntut pemahaman lebih baik tentang pengelolaan keuangan, kebiasaan menabung, dan penggunaan produk keuangan sesuai kebutuhan. Namun, kampanye massal ini hanya efektif jika diterjemahkan menjadi praktik manajemen keuangan anak di kelas: simulasi, tugas proyek, hingga refleksi pengeluaran harian, bukan sekadar seremoni dan lomba poster.

KKN UGM: ketika game mengalahkan ceramah

Contoh paling menarik datang dari KKN PPM sebuah universitas di SD Negeri 42 Tarakan. Pada sesi MPLS, seorang mahasiswa akuntansi memandu games yang mengajarkan literasi finansial dan kesadaran menabung kepada seluruh siswa, mengganti ceramah dengan simulasi pengambilan keputusan uang yang mereka rasakan sendiri. Anak diberi uang “palsu”, diminta memilih menabung atau membelanjakan, lalu diajak masuk ke storytelling tentang konsekuensi finansial setiap pilihan. Ini adalah manajemen keuangan anak versi ramah, yang memaksa mereka berpikir: mana yang lebih menguntungkan dalam jangka panjang? Di akhir sesi, poin dihitung, strategi dievaluasi, dan anak melihat sendiri bahwa menunda kesenangan sering memberi hasil lebih besar. Respons siswa antusias, menunjukkan satu hal: pendekatan game interaktif mengalahkan ceramah, dan sekolah seharusnya belajar dari model ini alih-alih bertahan di metode papan tulis.

Bagaimana Bank dan OJK Mengajarkan Literasi Keuangan kepada Puluhan Ribu Siswa Sekolah

Dari program sporadis ke budaya finansial di sekolah

Semua contoh ini menunjukkan pola yang sama: literasi keuangan siswa mulai bergerak dari slogan ke praktik konkret. Bank merencanakan keberlanjutan program literasi hingga akhir tahun di berbagai kota untuk memperluas akses edukasi dan membentuk generasi muda yang lebih berdaya mengelola keuangan. Di sisi lain, tim KKN membuktikan bahwa edukasi efektif bisa lahir dari kreativitas tanpa fasilitas mahal, asalkan materi dikaitkan dengan pengalaman nyata anak. Namun selama program-program ini masih sporadis, dampaknya akan timpang: ada sekolah yang kaya pengalaman finansial, ada yang kosong sama sekali. Langkah selanjutnya harus lebih berani: menjadikan program edukasi bank sekolah, kampanye OJK, dan inisiatif kampus sebagai bagian dari budaya sekolah, bukan acara tahunan. Literasi keuangan generasi muda tidak boleh bergantung pada event; ia harus hidup dalam setiap keputusan kecil yang diambil anak tentang uang, setiap hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!