Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kemajuan Harus Membuka Ruang bagi Pemuda dan Kemanusiaan

Kemajuan Harus Membuka Ruang bagi Pemuda dan Kemanusiaan
Minat|Asia Tenggara

Kemajuan yang memberi tempat bagi manusia

Kemajuan bangsa adalah proses membangun kesejahteraan dan masa depan bersama dengan melibatkan warga, terutama generasi muda, serta menjaga kepedulian terhadap sesama. Ukurannya bukan hanya gedung yang menjulang, teknologi yang semakin canggih, atau kekayaan yang terkumpul. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyampaikan pengingat itu saat menjadi inspektur upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Taman Proklamasi, Jakarta Pusat: keberhasilan kehilangan makna jika tak disertai kepedulian terhadap orang lain. Pesan tersebut penting karena kemajuan yang hanya tampak pada benda dan angka bisa berjalan beriringan dengan kesempatan yang timpang. Ukuran yang lebih adil juga mencakup siapa yang dapat belajar, bekerja, berpendapat, dan ikut membentuk keputusan. Tanpa ruang bagi pemuda dan nilai kemanusiaan, capaian pembangunan berisiko menjadi kemewahan yang tidak dirasakan bersama.

Ruang generasi muda bukan hadiah

Puan Maharani meminta pemerintah memperluas ruang generasi muda untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sekaligus mengajukan solusi. Ruang partisipasi itu, menurutnya, perlu ditopang demokrasi yang menghargai kebebasan berekspresi dan berpendapat. Ini bukan sekadar ajakan agar anak muda didengar dalam perayaan, melainkan tuntutan agar pengalaman mereka ikut memengaruhi kebijakan. Hambatan pendidikan, pekerjaan, dan usaha tidak selalu sama dengan persoalan generasi sebelumnya. Sebagian anak muda harus membagi waktu antara belajar dan bekerja, merintis usaha dengan sumber daya terbatas, serta membantu kebutuhan keluarga. Karena itu, dukungan pemerintah semestinya berkelanjutan, dari masa pendidikan hingga memasuki dunia kerja atau membangun usaha. Peran pemuda akan sulit berkembang bila kesempatan hanya tersedia bagi mereka yang sejak awal memiliki akses dan dukungan.

Partisipasi harus disertai kesempatan yang setara

Membuka ruang bicara belum cukup jika akses nyata tetap tertutup. Kesempatan mengembangkan kemampuan perlu menjangkau pemuda penyandang disabilitas, mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi, dan anak muda di wilayah yang sulit dijangkau. Puan menekankan bahwa gagasan dan keberanian mencoba ada pada anak muda dari beragam latar belakang; tanggung jawab negara ialah memperluas kesempatan agar potensi itu tumbuh. Tuntutan ini masuk akal: kebijakan pendidikan, lapangan kerja, dan dukungan usaha akan lebih tepat bila disusun dengan mendengar orang yang menghadapi hambatan tersebut. Hari Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa persatuan tidak berarti menyeragamkan pengalaman. Semangat 1928 justru relevan ketika perbedaan dihargai dan kesempatan dibuka lebih luas. Jika suara pemuda hanya dipuji tetapi tidak memengaruhi keputusan, ruang partisipasi tinggal menjadi simbol.

Kegigihan perlu berjalan bersama empati

Erick Thohir mengaitkan patriotisme, kegigihan, dan empati sebagai nilai yang perlu mengarahkan kontribusi generasi muda. Patriotisme, dalam pesannya, bukan hanya kebanggaan, tetapi kesediaan mengabdi; kegigihan membantu anak muda menghadapi kesulitan, sementara empati mencegah keberhasilan pribadi mengabaikan orang lain. Tema peringatan tahun ini, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, sejalan dengan seruan Puan agar kesempatan dibuka bagi semua. Keduanya menegaskan bahwa kemajuan bukan perlombaan individu atau pembangunan fisik semata. Ilmu, karya, dan cita-cita besar akan lebih berarti jika ikut menjawab kebutuhan masyarakat. Negara perlu menyediakan akses dan ruang bagi pemuda; generasi muda pun perlu membawa kepedulian ke dalam kerja nyata. Kemajuan yang manusiawi lahir ketika kesempatan dan tanggung jawab berjalan beriringan.

Kesimpulannya, membuka ruang bagi pemuda dan menjaga nilai kemanusiaan bukan dua agenda terpisah, melainkan syarat bagi kemajuan yang dapat dirasakan bersama. Pemerintah perlu mendengar pengalaman generasi muda dan menopang mereka dari pendidikan hingga kerja atau usaha. Pada saat yang sama, capaian pembangunan patut dinilai dari manfaatnya bagi sesama, bukan hanya dari gedung, teknologi, dan kekayaan. Itulah makna Hari Sumpah Pemuda yang layak diteruskan: persatuan yang memberi tempat bagi perbedaan, kesempatan yang lebih setara, dan keberhasilan yang tidak kehilangan empati.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!