Dari pengguna menjadi pencipta
Pelatihan konten kreator adalah pembelajaran praktis untuk merancang, membuat, dan menyebarkan materi digital yang menarik sekaligus bermanfaat bagi audiens dan potensi setempat. Inilah nilai Gen Matic: keterampilan kreatif dapat membantu pemuda desa bercerita tentang tempat tinggal mereka, bukan hanya mengonsumsi konten dari luar. Pada Kamis, 5 November 2026, program Aktivasi Desa Kreatif Gen Matic (Generasi Muda Melek Teknologi) digelar di Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng, Bali, dengan 50 peserta lokal. Mereka mengikuti pelatihan pembuatan konten digital untuk mempromosikan potensi daerah. Langkah ini tepat karena ekosistem digital terus membesar, sementara banyak desa memiliki cerita dan produk yang belum dikenal luas. Teknologi baru bernilai bagi warga ketika mereka mampu menggunakannya untuk memperluas perhatian, membangun identitas, dan membuka manfaat ekonomi.
Budaya lokal sebagai bahan cerita
Bengkala dipilih karena kekayaan budaya, karakter unik, dan kearifan lokalnya dapat menjadi sumber konten kreatif berbasis budaya. Potensi edukasi, pariwisata, dan UMKM desa itu besar, tetapi promosi masih kurang, menurut Perbekel I Made Astika. Di sinilah konten digital lokal bisa berperan lebih jauh daripada sekadar mengejar viral: video pendek yang informatif, cerita tentang tradisi, atau pengenalan produk dapat mengundang orang untuk belajar, berkunjung, dan membeli. Pelatihan memberi anak muda alat untuk mengemas cerita tersebut dengan cara yang mudah dijangkau audiens. Namun, hasilnya tidak akan datang otomatis dari satu unggahan atau satu kelas. Agar promosi memberi dampak, kreator perlu konsisten, menjaga akurasi cerita, dan menghubungkan perhatian daring dengan layanan wisata, pelaku UMKM, serta pengalaman nyata di desa.
Media sosial sebagai ruang usaha
Di Karawang, Gen Matic mengajak peserta melihat media sosial sebagai sarana membangun kreativitas, memperluas pasar, mempromosikan produk, dan menciptakan sumber pendapatan, bukan semata tempat mencari hiburan. Kegiatan kolaborasi program aspirasi Anggota Komisi IX DPR RI dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan KADIN Karawang itu diikuti 160 peserta dalam dua sesi, masing-masing berisi 80 orang. Pesan ini relevan bagi pemuda dan pelaku UMKM: keterampilan membuat konten dapat menjadi bagian dari pemasaran, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif melalui pekerjaan produksi, pengelolaan akun, siaran langsung, hingga kerja sama promosi. Karawang memang dikenal sebagai kawasan manufaktur besar, tetapi masa depan ekonominya tak harus bertumpu pada pabrik saja. Kreativitas digital bisa menjadi jalur tambahan—asal peserta mendapat kesempatan menerapkan ilmu dan membangun jejaring usaha.
Dukungan usaha menentukan kelanjutan
Dukungan KADIN Karawang penting karena industri konten kreator dipandang sebagai sumber usaha dan lapangan kerja baru, bukan sekadar aktivitas sampingan. KADIN merencanakan kompetisi kreator konten dan siaran langsung sebagai tindak lanjut workshop, dengan hadiah total Rp25 juta untuk lima pemenang, masing-masing Rp5 juta. Nilai utama rencana itu bukan hanya hadiahnya, melainkan kesempatan bagi peserta untuk menguji keterampilan lewat karya nyata. KADIN juga menyebut penguasaan teknologi perlu berjalan bersama kemampuan pemasaran dan manajemen keuangan—bekal yang menentukan apakah kreativitas dapat bertahan sebagai pekerjaan. Pelatihan saja tidak menjamin penghasilan, tetapi rangkaian belajar, praktik, kompetisi, dan pendampingan yang berkelanjutan dapat memperbesar peluang. Ukuran keberhasilan seharusnya bukan jumlah konten yang dibuat, melainkan usaha lokal yang tumbuh dan pekerjaan yang benar-benar tercipta.
Konten kreatif perlu berujung pada manfaat nyata
Gen Matic di Bengkala dan Karawang menunjukkan bahwa keterampilan digital bisa menghubungkan cerita lokal dengan pasar, sekaligus membuka pilihan kerja bagi generasi muda. Namun, pelatihan akan kehilangan daya jika berhenti setelah peserta pulang: desa membutuhkan promosi yang konsisten, sementara calon kreator perlu akses ke pendampingan, jejaring, dan peluang menerapkan ilmunya. Rencana KADIN Karawang untuk membuat kompetisi dan kegiatan lanjutan dengan konsep bisnis yang lebih matang merupakan langkah yang patut diteruskan. Di Bengkala, keberhasilan dapat terlihat ketika konten budaya ikut mengangkat kunjungan dan usaha warga. Pada akhirnya, konten bukan tujuan, melainkan alat. Jika kreativitas pemuda ditautkan dengan kebutuhan UMKM, pariwisata, dan identitas budaya setempat, Gen Matic desa dapat berkembang dari kelas singkat menjadi jalan yang masuk akal menuju ekonomi kreatif yang lebih inklusif.






