Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kemiskinan Turun ke 8,07 Persen: Dua Tahun Kebijakan Prabowo-Gibran

Kemiskinan Turun ke 8,07 Persen: Dua Tahun Kebijakan Prabowo-Gibran
Minat|Asia Tenggara

Penurunan Kemiskinan: Angka Membaik, Tantangan Masih Besar

Penurunan kemiskinan adalah proses berkurangnya proporsi dan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang diukur melalui indikator resmi seperti persentase penduduk miskin, jumlah orang miskin, dan tingkat ketimpangan pendapatan dalam suatu periode tertentu. Dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, kemiskinan turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026 dengan total 22,93 juta penduduk miskin, berdasarkan data resmi BPS yang disampaikan Bakom RI. Angka ini berarti penduduk miskin berkurang 920 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Secara politis, pemerintah menjadikannya bukti bahwa kebijakan pengentasan kemiskinan mulai menunjukkan hasil. Namun, 22,93 juta orang yang masih miskin mengingatkan bahwa keberhasilan ini baru langkah awal, bukan garis finis. Pertanyaannya: seberapa kokoh fondasi kebijakan yang membuat kemiskinan turun Indonesia, dan apakah penurunan ini bisa bertahan ketika situasi ekonomi berubah?

Di Balik Angka 8,07 Persen: Tren, Ketimpangan, dan Kemiskinan Ekstrem

Jika hanya melihat angka kemiskinan 8,07 persen, kesannya situasi sudah terkendali. Namun tren jangka menengah menunjukkan cerita yang lebih kompleks. Dalam periode 2021–2025, tingkat kemiskinan turun dari 10,14 persen menjadi 8,47 persen, sementara kemiskinan ekstrem menyusut dari 2,14 persen menjadi 0,85 persen. Rasio Gini, indikator ketimpangan, membaik tipis dari 0,384 menjadi 0,375. Secara statistik, ini adalah arah yang tepat: kemiskinan turun, penduduk miskin berkurang, dan ketimpangan tidak melebar. Tetapi penurunan yang relatif kecil pada rasio Gini menandakan bahwa distribusi manfaat pertumbuhan masih cenderung terkonsentrasi. Pemerintahan Prabowo-Gibran kesejahteraan tidak bisa hanya mengandalkan klaim penurunan angka; ia harus menjawab kritik bahwa kelompok paling rentan belum sepenuhnya merasakan perbaikan kualitas hidup, terutama di wilayah dengan kemiskinan ekstrem yang masih tersisa.

Perlindungan Sosial dan BSU: Jaring Pengaman atau Solusi Sementara?

Pemerintah menempatkan kebijakan pengentasan kemiskinan berbasis perlindungan sosial sebagai tulang punggung strategi. Bakom menegaskan bahwa pemerintah memperkuat perlindungan sosial, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Salah satu instrumen penting adalah perlindungan sosial berbasis data terpadu, yang bertujuan meningkatkan ketepatan sasaran bantuan dan membantu keluarga keluar dari kemiskinan secara bertahap. Di sisi lain, Bantuan Subsidi Upah (BSU) digunakan untuk menjaga daya beli pekerja, dengan target sekitar 17 juta penerima pada 2025 dan bantuan Rp300.000 per bulan selama dua bulan atau Rp600.000 dibayarkan sekaligus. "Pemerintah terus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan melalui perlindungan sosial, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat," ujar Deputi Bakom Kurnia Ramadhana. Pertanyaannya: apakah jaring pengaman ini cukup kuat untuk mengubah status pekerja rentan menjadi kelompok berpenghasilan stabil, atau masih sebatas penyangga sementara saat ekonomi bergejolak?

Program Magang Nasional dan Indeks Modal Manusia: Investasi Jangka Panjang

Di luar bantuan langsung, pemerintahan Prabowo-Gibran mendorong kebijakan yang menyasar akar kemiskinan: kualitas sumber daya manusia dan akses kerja. Program Magang Nasional bagi lulusan perguruan tinggi menargetkan 100.000 peserta pada 2025 dan naik menjadi 150.000 peserta pada 2026. Evaluasi 2025 menunjukkan sekitar 30 persen peserta ditawari menjadi karyawan tetap di perusahaan tempat mereka magang. Ini sinyal bahwa kebijakan pengentasan kemiskinan mulai bergeser dari sekadar bantuan ke penciptaan pekerjaan yang lebih stabil. Pemerintah juga memakai Indeks Modal Manusia dengan target 0,56 pada 2025 sebagai indikator daya saing sumber daya manusia. Jika konsisten, kombinasi magang, peningkatan kompetensi, dan pengukuran kualitas manusia bisa menjadi investasi jangka panjang yang membuat kemiskinan turun Indonesia bukan karena bantuan sesaat, melainkan karena produktivitas yang naik.

Kesimpulan: Capaian Nyata, Tanggung Jawab yang Belum Selesai

Penurunan kemiskinan menjadi 8,07 persen dengan 920 ribu penduduk miskin berkurang dalam satu tahun terakhir adalah capaian yang patut dicatat dalam dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran. Beragam kebijakan—dari perlindungan sosial berbasis data terpadu, BSU, Program Magang Nasional, hingga penggunaan Indeks Modal Manusia—membentuk paket Prabowo Gibran kesejahteraan yang mulai menunjukkan hasil. Namun, 22,93 juta orang yang masih hidup dalam kemiskinan adalah pengingat keras bahwa tugas belum selesai. Ke depan, tantangan utama adalah memastikan penurunan angka tidak berhenti di statistik: bantuan harus tepat sasaran, program kerja harus meluas ke sektor informal, dan peningkatan kualitas manusia harus terasa hingga lapisan terbawah. Jika tidak, penurunan kemiskinan bisa berubah menjadi sekadar angka yang indah di atas kertas, tanpa perubahan mendalam di kehidupan sehari-hari warga.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!