Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Tumbuh Stabil, Adil bagi Siapa?

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Tumbuh Stabil, Adil bagi Siapa?
Minat|Asia Tenggara

Ekonomi Prabowo Gibran: Stabil, Optimistis, tapi Belum Merata

Ekonomi Prabowo Gibran adalah arah kebijakan ekonomi nasional yang menekankan stabilitas pertumbuhan sekitar 5 persen, inflasi rendah, dan dorongan investasi dengan klaim pertumbuhan ekonomi inklusif yang mulai menyentuh kehidupan sehari-hari warga, namun masih menyisakan celah besar soal pemerataan manfaat bagi kelompok rentan dan kelas menengah. Memasuki dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, narasi resmi menonjolkan keberhasilan menjaga fondasi ekonomi di tengah guncangan global dan gangguan rantai pasok. Dari sisi angka, ceritanya tampak mengesankan: pertumbuhan, inflasi, pengangguran, hingga kemiskinan bergerak ke arah yang disebut “terkendali”. Namun pertanyaan kunci bagi warga sederhana tetap sama: apakah stabilitas di grafik sudah berubah menjadi rasa aman di dompet dan kepastian di meja makan?

Angka-angka Makro: Stabilitas Ekonomi Indonesia Bukan Sekadar Klaim

Dari perspektif makro, stabilitas ekonomi Indonesia di bawah Prabowo-Gibran memang bukan mitos. Data resmi menunjukkan ekonomi tumbuh 5,29 persen pada kuartal II, dengan inflasi tahunan 3,19 persen dan pengangguran terbuka 4,68 persen. Rata-rata inflasi sekitar 3 persen jauh lebih rendah dibanding periode ketika inflasi berada di kisaran 6–8 persen. “Secara makro kita bisa menjaga stabilitas ekonomi minimal di 5 persen,” ujar Prof. Telisa Falianty yang menilai fondasi tetap terjaga di tengah El Nino dan gangguan rantai pasok global. Tren kemiskinan menurun dengan angka 8,07 persen dan rasio gini 0,368, meski sedikit naik dibanding periode sebelumnya. Stabilitas ini memberi ruang fiskal: tarif listrik dan iuran layanan dasar ditahan, program prioritas tetap berjalan, dan investasi mulai mengambil porsi lebih besar dibanding konsumsi dalam struktur pertumbuhan.

Pertumbuhan Ekonomi Inklusif: Janji Investasi dan Kelas Menengah yang Tertekan

Pemerintah mengklaim bergerak menuju pertumbuhan ekonomi inklusif, terutama lewat perubahan struktur dari konsumsi ke investasi. Tenaga ahli ekonomi menilai masuknya investasi membuka peluang industri dan nilai tambah, dengan catatan manfaatnya harus diarahkan ke wilayah dan kelompok yang masih bergelut dengan kemiskinan dan pengangguran. Inilah titik krusial: tanpa desain distribusi yang sengaja, investasi mudah terkonsentrasi di kantong-kantong lama dan meninggalkan daerah pinggiran. Di sisi lain, kelas menengah – tulang punggung penerimaan pajak dan konsumsi – mulai disebut sebagai kelompok yang perlu perhatian khusus. Prof. Telisa mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi nasional harus terasa lewat pekerjaan layak, harga terjangkau, dan peluang usaha, bukan sekadar angka-angka di laporan. Cara membantu middle class, kata para ekonom, bukan dengan bansos, tetapi akses kerja formal dan industrialisasi yang memperluas sektor formal.

Dari Grafik ke Kehidupan Nyata: Apa yang Sudah Dirasakan Warga?

Dua tahun terakhir, capaian ekonomi Prabowo-Gibran mulai terasa dalam bentuk yang lebih dekat ke dapur rumah tangga. Pemerintah menjaga harga kebutuhan pokok lebih stabil meski ada komoditas yang naik musiman, melindungi daya beli, dan menahan tarif listrik agar tidak membebani biaya hidup. Upaya membuka kesempatan kerja ikut menurunkan pengangguran, sementara tren kemiskinan dan ketimpangan secara umum membaik. Ke depan, multiplier effect pembangunan ditargetkan benar-benar menyentuh warga melalui akses pekerjaan, harga yang terjangkau, dan kemampuan menabung yang meningkat. Minat besar terhadap program magang dan pelatihan menunjukkan dahaga generasi muda terhadap pekerjaan formal. Namun di level mikro, masih banyak ganjalan: pungutan liar menghambat UMKM, perizinan berbelit, dan implementasi kebijakan yang tidak seragam di daerah, sehingga sebagian manfaat makro hilang sebelum sampai ke kantong masyarakat.

Tantangan Distribusi: Kritik Terhadap Fokus Program Andalan dan Jalan ke Depan

Di balik pujian atas stabilitas, kritik tajam datang dari kalangan ilmu sosial. Guru besar dari sebuah universitas besar menilai pemerintah terlalu berfokus pada program andalan seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa, sementara banyak persoalan dasar warga belum tertangani optimal. Ia mengingatkan bahwa fungsi negara untuk melindungi warga belum terlihat sekuat gencarnya promosi program unggulan. Evaluasi dua tahun ini menyimpulkan ekonomi Prabowo Gibran berada di jalur yang tepat, tetapi dengan pekerjaan rumah besar: memperkuat kelas menengah, mengurangi ketimpangan, serta menutup jarak antara cerita makro dan kenyataan mikro. Pekerjaan berikutnya jelas: memperkuat pelaksanaan di lapangan, memberdayakan UMKM, menertibkan pungutan liar, mempercepat kemudahan berusaha, dan menyinergikan pemerintah pusat, daerah, dan balai pelatihan. Tanpa agenda distribusi yang agresif, pertumbuhan ekonomi inklusif akan berhenti sebagai slogan, bukan pengalaman sehari-hari warga.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!