Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kesenjangan Sains dan Matematika dalam Hasil PISA

Kesenjangan Sains dan Matematika dalam Hasil PISA
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

PISA 2025: Cermin Keras Mutu Pendidikan di Asia Tenggara

Hasil PISA 2025 adalah laporan asesmen internasional terhadap siswa usia 15 tahun yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains, sekaligus pembelajaran di dunia digital, dengan tujuan menilai sejauh mana mereka dapat memakai pengetahuan untuk memecahkan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari di berbagai negara. Dari sudut pandang Asia Tenggara, laporan ini bukan sekadar daftar skor, tetapi cermin keras tentang siapa yang sudah membangun fondasi pengetahuan kuat dan siapa yang masih tertinggal. Organisasi yang menyelenggarakan asesmen ini baru saja merilis hasilnya pada 8 September 2026, melibatkan lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi. Fakta bahwa ini menjadi penyelenggaraan PISA dengan peserta terbesar mempertegas bahwa pemeringkatan pendidikan global kini kian tak bisa diabaikan oleh para pengambil kebijakan.

Dominasi Singapura dan Tiongkok di Pemeringkatan Global

Jika ada pesan paling jelas dari hasil PISA 2025, maka satu di antaranya adalah: Tiongkok dan Singapura kembali menunjukkan diri sebagai kekuatan utama dalam pemeringkatan pendidikan global. Dalam kemampuan membaca, Singapura memimpin dengan skor 535, diikuti Tiongkok 527 dan deretan ekonomi Asia Timur lain yang mengisi 10 besar. Di matematika, Tiongkok berada di puncak dengan 612 poin, sementara Singapura menempel ketat di posisi kedua dengan 563 poin. Untuk sains, pola yang hampir serupa muncul: Tiongkok meraih 597 poin dan Singapura 560, sekali lagi di posisi kedua dunia. "Skor sains telah menurun secara bertahap selama dekade terakhir" dan PISA 2025 mencatat rata-rata performa terendah yang pernah diamati di sains, membaca, dan matematika. Ironisnya, di tengah penurunan global itu, Singapura masih bertahan di papan atas, menegaskan konsistensi kebijakan pendidikan yang berorientasi kompetensi.

Peringkat Pendidikan Asia Tenggara: Jurang Matematika yang Mengkhawatirkan

Ketika fokus dialihkan ke peringkat pendidikan Asia Tenggara, terutama dalam kemampuan matematika siswa, gambaran yang muncul jauh dari merata. Data PISA 2025 menunjukkan kemampuan matematika siswa di kawasan ini memiliki kesenjangan lebar. Singapura berada di posisi pertama dengan skor 563 poin, satu-satunya yang berada di atas rata-rata negara OECD sebesar 463 poin. Vietnam menyusul di posisi kedua dengan 443 poin, Brunei Darussalam 435, Thailand 407, dan Malaysia 397. Di ujung spektrum, skor matematika Indonesia tercatat 364 poin, menempatkannya di posisi kedelapan dari delapan negara Asia Tenggara yang memiliki skor matematika dalam PISA 2025. Selisih antara Singapura dan Vietnam mencapai 120 poin, sementara jurang antara Singapura dan Indonesia bahkan menyentuh 199 poin. Dalam konteks kemampuan matematika siswa, ini bukan sekadar perbedaan angka, tetapi sinyal bahwa satu kelompok negara sudah bergerak menuju pemecahan masalah kompleks, sementara yang lain masih bergelut di level dasar.

Lebih mengkhawatirkan lagi, asesmen mencatat hanya sekitar 17 persen siswa Indonesia yang mampu mencapai sedikitnya Level 2 dalam kemampuan matematika, dibanding rata-rata 65 persen di negara OECD. Level 2 didefinisikan sebagai kemampuan mengenali bagaimana situasi sederhana bisa direpresentasikan secara matematis, seperti membandingkan jarak dua rute atau melakukan konversi harga. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang masuk kategori berprestasi tinggi di Level 5 dan 6, padahal di negara OECD rata-ratanya 8 persen. Hasil ini menegaskan bahwa tantangan kebijakan pendidikan lokal bukan hanya meningkatkan rata-rata skor, melainkan mendesain ulang kurikulum, pola pembelajaran, dan asesmen kelas agar lebih menekankan pemecahan masalah kontekstual, bukan hafalan prosedur. Tanpa itu, jurang matematika di Asia Tenggara akan makin sulit ditutup.

Kesenjangan Sains dan Matematika dalam Hasil PISA

Kemampuan Sains Siswa: Singapura di Puncak, Indonesia Tertinggal

Dalam kemampuan sains siswa, pola hierarki di Asia Tenggara kembali menempatkan Singapura jauh di depan. Negara ini meraih rata-rata skor 560 poin dan berada di Level 4, yang berarti siswanya umumnya sudah mampu memahami gagasan ilmiah lebih luas dan kompleks, menafsirkan bukti, mengevaluasi klaim, dan mengidentifikasi kesalahan. Sebaliknya, kemampuan sains pelajar Indonesia tergolong rendah dibanding tetangga dan menempati peringkat ke-6 dari delapan negara yang diriset. Rata-rata skor sains Indonesia hanya 389 poin dan masuk Level 1a. Di Level 1a, siswa baru dapat mengidentifikasi penjelasan ilmiah atas fenomena sederhana dengan pengetahuan dasar serta informasi yang memerlukan kemampuan kognitif rendah. Mereka belum mampu menyusun atau mengevaluasi penjelasan ilmiah, mengidentifikasi kesalahan interpretasi data, atau memakai konsep yang lebih kompleks. Ketika pemeringkatan pendidikan global menuntut literasi sains yang dapat dipakai dalam pengambilan keputusan publik, posisi ini menjadi alarm serius bagi pembuat kebijakan yang selama ini lebih sibuk mengejar angka akreditasi daripada kompetensi nyata.

Implikasi Kebijakan: Dari Mengejar Skor ke Mencetak Pemecah Masalah

Hasil PISA 2025 jelas memaksa negara-negara Asia Tenggara untuk meninjau ulang orientasi kebijakan pendidikan lokal mereka. Di satu sisi, ada kabar bahwa Indonesia mengalami kenaikan peringkat di kemampuan membaca dan sains secara global, meski skor absolutnya masih jauh di bawah kelompok terdepan. Di sisi lain, kesenjangan dalam kemampuan matematika siswa dan kemampuan sains siswa dibanding tetangga seperti Singapura dan Vietnam memperlihatkan bahwa reformasi selama ini belum menyentuh jantung persoalan. Asesmen ini tidak menguji hafalan rumus atau definisi, tetapi sejauh mana siswa menggunakan pengetahuan untuk memecahkan persoalan nyata. Menghadapi kenyataan bahwa PISA 2025 mencatat rata-rata performa global terendah untuk sains, membaca, dan matematika, negara-negara di kawasan seharusnya menjadikan momentum ini untuk bergeser dari sekadar mengejar skor menuju agenda yang lebih ambisius: mencetak generasi pemecah masalah. Tanpa keberanian mengubah cara mengajar di kelas, menguatkan pelatihan guru, dan menata ulang asesmen nasional agar selaras dengan kompetensi PISA, peringkat pendidikan Asia Tenggara akan terus terpecah antara segelintir juara dunia dan mayoritas yang berjalan di tempat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!