Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kesenjangan PISA di Asia Tenggara dan Arah Kebijakan Pendidikan

Kesenjangan PISA di Asia Tenggara dan Arah Kebijakan Pendidikan
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

PISA sebagai Cermin Kesenjangan Akademik Pelajar Asia Tenggara

Hasil PISA 2025 adalah penilaian internasional berbasis komputer yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar usia 15 tahun, lalu membandingkannya lintas negara untuk melihat seberapa baik mereka memahami dan menerapkan pengetahuan dalam situasi kehidupan nyata. Di Asia Tenggara, delapan negara ikut serta, dan gambaran yang muncul bukan sekadar peringkat, melainkan jurang kemampuan yang lebar antar sistem pendidikan. Singapura menempati peringkat kedua dunia dan otomatis menjadi yang teratas di kawasan dengan skor tertinggi di semua kategori asesmen utama, jauh melampaui rata-rata negara OECD. Sementara itu, rata-rata hasil 2025 sejumlah negara lain masih berada di bawah capaian 2015, menandakan stagnasi bahkan kemunduran kualitas pembelajaran. Ini bukan lagi persoalan individu siswa, melainkan persoalan tata kelola dan prioritas kebijakan pendidikan.

Literasi Membaca: Peringkat Rendah dan Implikasinya bagi Kebijakan

Potret literasi membaca Asia Tenggara menunjukkan hierarki yang jelas: Singapura berada di puncak dengan skor rata-rata 535 poin dan kemampuan baca level 3. Di sisi lain, pelajar di salah satu negara besar kawasan hanya meraih skor 365 poin dan berada di level 1a, duduk di peringkat ke-7 dari delapan negara yang diriset. Pada level ini, siswa baru mampu memahami makna harfiah teks pendek dan mengaitkan informasi yang letaknya berdekatan, tetapi belum mampu menangkap gagasan utama teks panjang dan kompleks atau melakukan evaluasi kritis terhadap bacaan. "Kemampuan pelajar dalam membaca masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga" adalah peringatan keras: kebijakan pendidikan belum berhasil menjadikan membaca sebagai fondasi berpikir. Tanpa reformasi pengajaran bahasa, budaya membaca di sekolah, dan akses buku bermutu, upaya meningkatkan peringkat kemampuan siswa hanya akan berputar di tempat.

Sains dan Matematika: Jurang Numerasi yang Kian Mengkhawatirkan

Dalam kemampuan sains pelajar, Singapura kembali memimpin dengan skor 560 poin dan berada pada level 4, mampu memahami gagasan ilmiah yang lebih luas, menafsirkan bukti, serta mengevaluasi klaim secara kritis. Negara lain di kawasan, seperti Vietnam dengan skor sains 457 dan Thailand 432, berada di atas sistem pendidikan yang hanya mencatat 389 poin dan level 1a, sehingga menempatkannya di peringkat ke-6 di antara delapan negara yang diriset. Pada level ini, siswa baru mampu mengidentifikasi penjelasan ilmiah sederhana, tetapi belum bisa menyusun atau menguji penjelasan lebih kompleks maupun membaca data secara kritis. Jurang lebih lebar lagi tampak di matematika: Singapura meraih 563 poin, Vietnam 443, sementara sebuah negara besar di kawasan berada di posisi kedelapan dengan skor 364 poin, turun dua poin dari asesmen sebelumnya dan masih terpaut 99 poin dari rata-rata OECD. Hanya sekitar 17 persen siswanya yang mencapai setidaknya Level 2 matematika, dibanding rata-rata OECD 65 persen. Ini menunjukkan kelemahan serius dalam literasi numerasi pelajar yang akan membatasi kemampuan mereka memahami ekonomi, teknologi, dan sains modern.

AspekSingapuraNegara dengan skor terendah
Membaca (poin)535365
Sains (poin)560389
Matematika (poin)563364
Kesenjangan PISA di Asia Tenggara dan Arah Kebijakan Pendidikan

Perbandingan Prestasi ASEAN dan Agenda Reformasi Pendidikan

Perbandingan prestasi ASEAN berdasarkan hasil PISA 2025 memperlihatkan bahwa kesenjangan kemampuan siswa usia 15 tahun antar negara masih sangat lebar. Dalam matematika, selisih skor antara Singapura dan Vietnam yang menempati posisi kedua mencapai 120 poin, sementara jarak Singapura dengan negara terakhir di daftar mencapai 199 poin. OECD secara jelas mengurutkan negara dari skor sains tertinggi ke terendah, dan salah satu negara besar berada di urutan keenam dari delapan peserta ASEAN, sekaligus tertinggal dari Vietnam dan Thailand. Fakta bahwa "kemampuan matematika siswa di negara-negara Asia Tenggara menunjukkan kesenjangan yang lebar" seharusnya menjadi bahan refleksi bahwa pembangunan kawasan tidak akan merata tanpa lompatan di sektor pendidikan. Reformasi kurikulum, peningkatan kualitas guru, dan penataan ulang asesmen nasional harus menjadikan literasi membaca, kemampuan sains pelajar, dan numerasi sebagai target utama, bukan sekadar angka di laporan internasional. Peringkat kemampuan siswa penting, tetapi yang lebih mendesak adalah memastikan mayoritas pelajar benar-benar mencapai level dasar kompetensi yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja di abad ini.

Kesimpulan: Dari Alarm Statistik ke Tindakan Kebijakan

Hasil PISA 2025 bukan sekadar deret angka; ia adalah alarm keras bagi sistem pendidikan di Asia Tenggara tentang betapa lebar jurang kemampuan membaca, sains, dan matematika antar negara. Dominasi Singapura di semua kategori penilaian menunjukkan bahwa investasi konsisten pada mutu guru, lingkungan sekolah, dan budaya belajar mampu menghasilkan capaian tinggi, bahkan ketika negara tersebut sendiri masih menghadapi isu kekurangan sumber daya pengajar. Di sisi lain, stagnasi dan skor rendah di sejumlah negara memperlihatkan bahwa kebijakan pendidikan sering kali belum menyentuh inti persoalan: kualitas pembelajaran di kelas. Untuk menjembatani kesenjangan prestasi ASEAN, pemerintah perlu menjadikan literasi membaca Asia Tenggara, kemampuan sains pelajar, dan numerasi sebagai prioritas anggaran dan regulasi, bukan pelengkap retorika. Jika tidak, peringkat PISA berikutnya hanya akan mengulang pola yang sama: segelintir negara di puncak, mayoritas tertinggal jauh.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!