PISA sebagai Cermin: Kabar Baik Literasi, Alarm Keras di Numerasi
Hasil PISA adalah asesmen internasional yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun, dan dalam siklus terbaru skor literasi membaca dan sains naik sementara matematika turun, sehingga memunculkan gambaran campuran: ada pemulihan kualitas pembelajaran di satu sisi, tetapi krisis numerasi yang belum tertangani di sisi lain. Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merilis hasil PISA terbaru di Jakarta, menunjukkan membaca naik dari 359 menjadi 365 poin dan sains dari 383 ke 389 poin, sedangkan matematika turun dari 366 ke 364 poin. Kenaikan 6 poin di dua domain ini patut diapresiasi karena terjadi ketika banyak negara mengalami penurunan capaian akademik. Namun penurunan skor matematika dan turunnya proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum dari 18,40% menjadi 16,93% menandakan bahwa numerasi masih menjadi titik lemah struktural dalam sistem pendidikan.
Angka-angka yang Tak Bisa Diabaikan: Skor, Peringkat, dan Learning Poverty
Jika hanya melihat tren skor, hasil PISA 2025 membawa kabar yang tampak positif: literasi membaca naik ke 365, sains ke 389, sementara matematika hanya turun 2 poin ke 364. Tetapi di balik angka itu, jurang pembelajaran tetap lebar. Persentase peserta didik yang mencapai kompetensi minimum membaca memang naik dari 25,40% menjadi 27,11%, dan sains dari 34,10% ke 36,81%. Namun mayoritas siswa masih berada di kelompok berkemampuan rendah, terutama di sains yang mencapai 63,2% low performers, jauh di atas rata-rata OECD 25,7%. Lebih serius lagi, laporan Bank Dunia menyebut learning poverty mencapai 53%: lebih dari separuh anak tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun. Anak diperkirakan menempuh 12,4 tahun sekolah, tetapi hanya 7,8 tahun belajar efektif, dengan 8 tahun untuk perempuan dan 7,6 tahun untuk laki-laki. Ini bukan sekadar masalah skor tes; ini adalah bom waktu produktivitas yang akan memengaruhi angkatan kerja puluhan tahun ke depan dan mengancam target pembangunan jangka panjang.
Peta Persaingan Regional: Disalip Tetangga, Tertinggal dari Negara Berprestasi Tinggi
Dimensi lain dari hasil PISA 2025 yang sering luput dibahas adalah posisi dalam performa pendidikan internasional. Secara peringkat, skor matematika 364 menempatkan sistem pendidikan di posisi ke-78 dari 90 negara peserta, sebuah penurunan dibanding siklus sebelumnya. Lebih menggelisahkan, Filipina yang sebelumnya berada di bawah kini menyalip dengan lonjakan eksponensial: skor membaca naik 20 poin ke 367, matematika naik 16 poin ke 371, dan sains naik 17 poin ke 373, pencapaian tertinggi sejak ikut PISA 2018. Bandingkan dengan membaca 365 dan matematika 364, artinya di dua domain utama Filipina kini unggul 2 poin di membaca dan 7 poin di matematika. Di saat yang sama, Vietnam tetap menunjukkan konsistensi sebagai negara berpendapatan menengah dengan hasil tinggi, mencatat skor sains 457 dan sebelumnya berada di peringkat 31 dunia untuk matematika dan sekitar posisi 34–35 untuk membaca dan sains. Pergeseran ini mengirim pesan jelas: persaingan regional bukan lagi wacana abstrak, tetapi realitas yang langsung memengaruhi daya saing sumber daya manusia dan posisi ekonomi di kawasan.
| Domain | Skor PISA Terbaru | Tren |
|---|---|---|
| Membaca | 365 | Naik 6 poin dari siklus sebelumnya |
| Matematika | 364 | Turun 2 poin, peringkat 78 dari 90 |
| Sains | 389 | Naik 6 poin, tetapi 63,2% low performers |

Membaca Hasil PISA dengan Kacamata Kebijakan, Bukan Sekadar Peringkat
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan menegaskan hasil PISA tidak boleh dibaca hanya dari sisi peringkat karena jumlah negara peserta berubah tiap siklus dan membuat ranking bias; fokus utama harus pada skor dan bagaimana menggunakannya sebagai bahan perbaikan berkelanjutan. Sikap ini tepat, tetapi tidak cukup kalau tidak diikuti transformasi serius di ruang kelas. Data PISA menunjukkan siswa mampu menghitung ketika rumus tersedia, tetapi kesulitan mengubah soal cerita sehari-hari menjadi model matematika. Artinya krisis numerasi bukan semata kekurangan hafalan konsep, melainkan lemahnya kemampuan pemecahan masalah dan penerjemahan konteks nyata ke bahasa angka. Menurut laporan yang sama, pemerintah sudah menetapkan target ambisius dalam RPJMN: 409 untuk membaca dan 419 untuk matematika, sementara posisi saat ini baru 365 dan 364. "Dengan posisi saat ini 365 dan 364, dibutuhkan lompatan signifikan" adalah pernyataan yang menyiratkan betapa besar selisih antara capaian aktual dan cita-cita kebijakan.
Dari Alarm ke Aksi: Menutup Jurang Numerasi dan Learning Poverty
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah hasil PISA 2025 menggambarkan masalah, tetapi sejauh mana sistem berani berubah. Tingginya learning poverty 53% dan rata-rata 7,8 tahun belajar efektif menunjukkan bahwa pembenahan tidak bisa berhenti pada kurikulum atau asesmen semata; ini soal ekosistem pembelajaran dari kelas, keluarga, hingga kebijakan makro. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merespons dengan meluncurkan Gerakan Numerasi Nasional dan empat pilar tindak lanjut: penguatan pembelajaran literasi-numerasi di satuan pendidikan, peningkatan kompetensi guru, dan pemanfaatan Asesmen Nasional sebagai sistem peringatan dini. Langkah ini bergerak ke arah yang benar, tetapi skala masalah menuntut implementasi yang jauh lebih tajam: dukungan intensif bagi sekolah dengan capaian rendah, pelatihan guru yang fokus pada pengajaran pemecahan masalah, dan integrasi indikator learning poverty ke dalam perencanaan pembangunan jangka menengah. Kesimpulannya tegas: kenaikan literasi dan sains adalah modal, tetapi tanpa revolusi numerasi dan pengurangan learning poverty, mimpi pembangunan jangka panjang akan bertumpu pada pondasi rapuh.






