Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Skor Matematika Turun Saat Sains dan Literasi Naik

Mengapa Skor Matematika Turun Saat Sains dan Literasi Naik
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Paradoks PISA: Sains dan Literasi Naik, Matematika Turun

PISA adalah asesmen internasional yang mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains, sekaligus menilai sejauh mana sistem pendidikan membantu mereka mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam situasi kehidupan nyata yang kompleks, bukan sekadar menghafal rumus atau teori. Penilaian ini penting karena memotret orientasi kurikulum, kualitas pembelajaran, dan kesetaraan akses pendidikan secara bersamaan. Hasil PISA 2025 yang dirilis pada 8 September 2026 menunjukkan gambaran yang kontradiktif: skor sains naik 6 poin dari 383 menjadi 389, literasi membaca naik dari 359 menjadi 365, tetapi matematika turun 2 poin ke 364. Dari 14.168 siswa di 419 sekolah yang mewakili 3,9 juta siswa usia 15 tahun, tren ini tidak bisa dianggap kebetulan semata. Ketika skor sains dan literasi naik, penurunan kecil di matematika menjadi alarm bahwa arah pembelajaran matematika sedang melenceng.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Kelas Matematika

Penurunan skor PISA 2025 matematika turun 2 poin ke 364 terjadi di tengah narasi keberhasilan sains dan literasi yang naik. Fakta ini mengisyaratkan bahwa problem bukan sekadar kemampuan kognitif siswa, melainkan cara pembelajaran matematika Indonesia dibentuk oleh kurikulum dan praktik mengajar. Data kajian kurikulum menunjukkan rata-rata jumlah kompetensi matematika dalam Kurikulum Merdeka berkurang 28 persen dibanding Kurikulum 2013. Materi memang diklaim lebih esensial, namun sifat matematika yang memerlukan latihan berjenjang dan pengulangan sistematis menjadi terkikis. Tanpa banyak kesempatan berlatih, siswa kehilangan kepercayaan diri dan kelenturan berpikir numerik. Dalam konteks ini, penurunan skor bukan sekadar angka di laporan internasional, tetapi cermin bahwa kelas matematika makin miskin tantangan terstruktur dan kaya proyek yang tidak selalu melatih ketelitian prosedural.

Kurikulum Merdeka: Seimbang untuk Sains, Tidak Ramah Matematika

Kenaikan skor sains dan literasi membaca menunjukkan bahwa pendekatan proyek, inkuiri, dan teks otentik yang diusung Kurikulum Merdeka memberi ruang pembelajaran mendalam untuk dua domain tersebut. Namun, ketika resep yang sama diterapkan mentah-mentah ke matematika, risikonya besar. P5 atau Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, misalnya, menyita jam belajar yang sebelumnya cukup banyak dipakai untuk latihan formal matematika. Evaluasi di sekolah menengah bahkan menemukan tidak ada pengaruh positif P5 terhadap kepercayaan diri siswa dalam matematika, korelasinya justru negatif meski lemah. Disparitas ini memperkuat perdebatan lama: Kurikulum Merdeka belum seimbang antara penguatan karakter dan kompetensi kognitif fundamental. Sains diuntungkan oleh eksplorasi dan eksperimen, literasi diuntungkan oleh berbagai bacaan, sementara matematika kehilangan ruang untuk membangun fondasi numerasi yang kokoh. Ketika semua mata pelajaran dipaksa berproyek, pelajaran yang membutuhkan repetisi runtut seperti matematika menjadi korban.

Akses Meluas, Ketimpangan Kecil: Mengapa Matematikanya Tetap Lemah?

Ada kabar baik yang sering luput dari sorotan. Coverage Index naik dari 0,46 pada 2003 menjadi 0,90 pada 2025, artinya hampir semua anak usia 15 tahun kini berada dalam sistem pendidikan formal. Kenaikan skor terjadi di tengah perluasan akses, bukan karena sampel makin selektif. Lebih jauh, selisih skor antara 10 persen siswa tertinggi dan 10 persen terendah termasuk yang terkecil di dunia, dan pengaruh status sosial ekonomi terhadap kinerja sains hanya 8,6 persen, di bawah rata-rata OECD. Pola yang sama juga tampak pada matematika. Secara moral, ini adalah capaian penting: ketimpangan mutu antar siswa kecil meskipun rata-rata masih rendah. Namun di sisi lain, rendahnya rata-rata mengindikasikan bahwa masalah matematika bukan milik segelintir kelompok, melainkan masalah sistemik. Ketika hampir semua anak berada di sekolah, tetapi sedikit yang mencapai kompetensi minimum matematika, berarti cara kita mengajarkan matematika gagal membantu mayoritas siswa, bukan cuma yang lemah.

Strategi Kemendikdasmen dan Agenda Perbaikan di SD–SMP

Kemendikdasmen mulai menyusun strategi Kemendikdasmen PISA yang berfokus pada penyeimbangan ulang antara kecakapan abad ke-21 dan kompetensi dasar. Salah satu langkah penting adalah mengharmoniskan kerangka Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik dengan kompetensi bernalar yang diukur PISA. Ini sinyal bahwa arah kebijakan mulai menyadari perlunya jalur khusus untuk matematika. Di tingkat SD hingga SMP, implikasinya jelas: pembelajaran eksplisit untuk fakta dan prosedur numerasi harus kembali diposisikan sebagai dasar, sementara pendekatan problem based learning menjadi lapisan berikutnya, bukan pengganti. Tanpa penguatan fakta dan prosedur, penalaran tingkat tinggi yang diukur PISA tidak akan tercapai. Guru perlu didukung untuk mengurangi ketergantungan pada proyek yang dangkal dan memperbanyak latihan terstruktur yang mengintegrasikan konteks kehidupan nyata dengan langkah matematis yang runtut. Jika strategi ini dilaksanakan konsisten, penurunan 2 poin di matematika bisa menjadi titik balik, bukan sekadar catatan kelam di laporan internasional.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!