Gelombang kedua dimulai dengan pengawasan lebih kuat
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah asesmen untuk memetakan capaian akademik murid, bukan ujian penentu kelulusan, sehingga hasilnya paling berguna ketika pelaksanaannya jujur dan dapat dipercaya. Pada Senin, 2 November 2026, sebanyak 1.338.684 murid SMA/MA/SMK dan sederajat mengikuti hari pertama TKA gelombang kedua, dengan Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran pertama. Kemendikdasmen memperkuat koordinasi dan pengawasan untuk mengantisipasi gangguan teknis sekaligus menjaga integritas asesmen. Langkah ini tepat: jumlah peserta yang besar menuntut pemantauan yang mampu merespons persoalan lapangan, bukan sekadar mencatatnya setelah terjadi. Namun, pengawasan hanya akan bermakna jika dukungan teknis menjangkau semua sekolah secara merata.
Bagi murid, TKA bukan sesuatu yang perlu menjadi sumber kecemasan. Pemerintah menyatakan asesmen ini tidak wajib diikuti seluruh murid dan tidak menentukan kelulusan. Hasilnya dimaksudkan untuk membantu sekolah, guru, dan orang tua mengenali kebutuhan belajar yang perlu diperkuat, bukan untuk mereduksi kemampuan seorang murid menjadi satu angka.
Jumlah peserta menurun dibanding gelombang pertama
Perbandingan angkanya memberi konteks penting. Gelombang pertama TKA SMA/SMK yang telah dituntaskan Kemendikdasmen diikuti 1.601.449 murid dari jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat, sedangkan hari pertama gelombang kedua diikuti 1.338.684 murid. Artinya, jumlah pada hari pertama gelombang kedua lebih rendah 262.765 peserta dibanding angka total gelombang pertama. Perbandingan ini bukan ukuran langsung minat atau keberhasilan, sebab angka kedua hanya mencakup hari pertama, sementara angka gelombang pertama adalah total peserta gelombang tersebut.
Ada latar teknis yang patut diingat: setelah kendala pada Gelombang 1 Hari Kedua Sesi 1, kementerian mengadakan sesi khusus pada 30 Oktober 2026 yang diikuti 530.930 murid. Pengalaman itu memperjelas mengapa pengawasan TKA pada gelombang berikutnya perlu disertai mekanisme penanganan kendala yang cepat dan transparan.

Posko pemantauan harus menghasilkan tindak lanjut
Pemantauan gelombang kedua dilakukan melalui Posko Pelaksanaan TKA dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan satuan pendidikan. Fokusnya mencakup kesiapan infrastruktur, dukungan teknis, koordinasi, serta kemungkinan pelanggaran yang dapat merusak kredibilitas hasil. Menurut pemantauan sementara Kemendikdasmen, hari pertama berlangsung secara umum lancar. Itu kabar baik, tetapi kelancaran pada satu hari belum cukup untuk membuktikan bahwa semua sekolah menghadapi kondisi yang setara.
Kesiapan sekolah di wilayah kepulauan perlu mendapat perhatian khusus karena tantangan geografis dan infrastruktur dapat menghambat akses bantuan teknis. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menekankan perlunya peningkatan kapasitas teknis dan dukungan, terutama untuk menjangkau sekolah-sekolah di Provinsi Kepulauan Riau. Tindak lanjut semacam itu penting agar perbedaan fasilitas tidak ikut menentukan seberapa akurat hasil asesmen menggambarkan kemampuan murid.
Nilai TKA bergantung pada pemanfaatan hasilnya
Pengawasan yang ketat menjaga proses, tetapi tujuan akhirnya adalah perbaikan pembelajaran. Informasi hasil TKA dapat membantu satuan pendidikan, pendidik, dan orang tua memahami kebutuhan murid serta menyusun langkah belajar yang lebih sesuai. Karena itu, hasil asesmen seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan label yang membatasi potensi peserta.
Kemendikdasmen meminta murid mengerjakan soal secara mandiri dan jujur. Pesan itu perlu sejalan dengan tanggung jawab penyelenggara: memastikan dukungan teknis tersedia, laporan masalah ditangani cepat, dan pengawasan diterapkan konsisten di setiap daerah. TKA SMA 2026 akan lebih bermanfaat jika data yang dihasilkan dapat dipercaya dan benar-benar dipakai untuk memperbaiki proses belajar.
Kesimpulannya, peserta TKA pada hari pertama gelombang kedua memang lebih sedikit daripada total peserta gelombang pertama, tetapi perbandingan itu harus dibaca dengan memperhatikan cakupan angka yang berbeda. Penguatan pengawasan adalah langkah yang tepat; keberhasilannya akan ditentukan oleh pemerataan dukungan dan tindak lanjut nyata atas temuan di lapangan.






