Skala besar menuntut pelaksanaan yang konsisten
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah asesmen untuk memetakan capaian akademik murid, bukan penentu kelulusan, yang hasilnya dapat membantu sekolah mengenali kebutuhan belajar. Pada hari pertama TKA gelombang kedua, Senin, 2 November 2026, sebanyak 1.338.684 murid SMA, MA, SMK, dan sederajat mengikuti ujian. Skala sebesar ini membuat kestabilan sistem dan mutu pengawasan sama pentingnya dengan soal yang dikerjakan. Pelaksanaan berlangsung secara daring dan semi daring, dimulai dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kemendikdasmen menyatakan hari pertama secara umum berjalan lancar, tetapi kelancaran tidak cukup dinilai dari minimnya laporan gangguan. Asesmen baru layak dipercaya jika setiap murid mendapat kondisi ujian yang memadai dan hasilnya mencerminkan kemampuan, bukan perbedaan akses terhadap perangkat atau dukungan teknis.

Stabilitas sistem perlu dibuktikan sampai ke sekolah
Kabar bahwa sistem gelombang kedua di Madiun lebih stabil patut disambut, tetapi belum menghapus persoalan kesiapan yang dialami sekolah. Di kota itu, ujian yang berlangsung sejak 2 November berakhir pada Kamis, 5 November, dengan 1.373 peserta: 742 siswa SMA dan 631 siswa SMK. Pelaksanaan kali ini dinilai tidak mengalami kendala teknis berarti dibanding ujian sebelumnya. Namun, tidak semua sekolah memiliki komputer yang cukup untuk melayani seluruh peserta secara bersamaan. Untuk mengatasi keterbatasan, penyelenggara membagi peserta ke dalam gelombang dan sesi, sementara sekolah yang kekurangan perangkat dapat menggunakan fasilitas sekolah lain. Pengaturan ini membantu murid tetap bisa mengikuti asesmen, tetapi juga menegaskan bahwa stabilitas bukan semata urusan perangkat lunak: akses terhadap komputer, gladi bersih, dan bantuan teknis harus tersedia secara adil.
Pengawasan harus melindungi integritas dan pemerataan
Kemendikdasmen memperkuat koordinasi dan pengawasan TKA untuk mengantisipasi gangguan teknis sekaligus menjaga integritas asesmen. Posko pelaksanaan menghimpun laporan dari pemerintah pusat dan daerah, dinas pendidikan, serta sekolah agar persoalan bisa ditindaklanjuti; pemantauan juga mencakup kemungkinan pelanggaran yang dapat merusak kredibilitas hasil. Langkah ini tepat, tetapi pengawasan tidak boleh hanya berarti mencari kecurangan. Pemeriksaan kesiapan infrastruktur dan respons cepat ketika sistem bermasalah sama pentingnya, terutama bagi sekolah di wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan geografis dan dukungan teknis. Wakil Menteri Atip Latipulhayat menekankan bahwa kapasitas teknis dan dukungan untuk sekolah kepulauan masih perlu ditingkatkan. Tanpa pemerataan itu, hasil TKA SMA 2026 berisiko lebih banyak mencerminkan ketimpangan fasilitas daripada capaian belajar murid.
Ujian susulan perlu diumumkan dengan jelas
Bagi murid dan keluarga, kepastian jadwal setelah ujian sama pentingnya dengan kelancaran saat mengerjakan soal. Informasi yang tersedia menyebut ujian susulan TKA di Madiun dijadwalkan pada pertengahan November. Agar tidak menambah kecemasan, sekolah dan penyelenggara perlu menyampaikan jadwal, ketentuan peserta, serta mekanisme pelaksanaannya secara jelas melalui saluran resmi. Kepastian tersebut penting bagi murid yang terdampak kendala atau tidak dapat mengikuti jadwal utama, meski tidak boleh diasumsikan bahwa setiap peserta yang absen otomatis berhak mengikuti susulan. Pelaksanaan TKA gelombang kedua menunjukkan bahwa sistem dapat berjalan lebih baik, tetapi keterbatasan perangkat masih nyata. Kesimpulannya, keberhasilan asesmen tidak cukup diukur dari jumlah peserta dan minimnya gangguan: pengawasan yang adil, kesiapan sekolah, dukungan merata, dan informasi susulan yang tegas harus berjalan bersama agar hasilnya dapat dipercaya.






