Pengaturan peserta menentukan kelancaran ujian
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah asesmen untuk mengukur kemampuan akademik pelajar tingkat akhir, termasuk siswa SMK, melalui ujian yang membutuhkan persiapan peserta, perangkat, dan pengawasan terencana. Pelaksanaan TKA Sidoarjo di SMK ITABA dan SMK YPM 8 menunjukkan bahwa pembagian sesi dan tata kelola pengawas sama pentingnya dengan kesiapan siswa. Di ITABA, ujian dibagi menjadi dua gelombang agar dapat mengakomodasi jumlah peserta sekaligus menjaga kesiapan sarana prasarana. Sementara itu, YPM 8 mengatur 550 siswa ke dalam gelombang berbeda dan menerapkan pengawasan acak. Pendekatan ini bukan sekadar urusan jadwal: pengaturan yang masuk akal membantu sekolah menekan risiko kendala teknis dan memberi peserta lingkungan ujian yang lebih tertib.
ITABA membagi TKA dalam dua gelombang
SMK ITABA Gedangan mencatat 156 peserta TKA. Gelombang pertama berlangsung pada 26–29 Oktober 2026, disusul gelombang kedua pada 2–5 November 2026. Setiap hari ujian terbagi dalam dua sesi, mulai pukul 07.00 hingga 11.30 WIB. Pembagian ini masuk akal untuk sekolah yang perlu menyelaraskan jumlah peserta dengan kapasitas ruang dan perangkat. Namun, kelancaran tidak hanya ditentukan oleh kalender. Kepala sekolah menekankan pentingnya kesiapan komputer dan jaringan internet—dua kebutuhan yang dapat mengganggu ujian bila tidak berfungsi baik. ITABA juga mempersiapkan siswa melalui pendampingan pembelajaran, motivasi, dan latihan berkala sejak Agustus. Untuk ujian akademik SMK, persiapan semacam ini patut dipandang sebagai bagian dari mutu pelaksanaan, bukan pelengkap.
YPM 8 mengandalkan pengawasan acak
Di SMK YPM 8, sebanyak 550 siswa kelas 12 mengikuti TKA dalam dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung hingga Kamis, sedangkan gelombang kedua dijadwalkan pada Jumat, Sabtu, dan Minggu. Pada hari pertama, peserta mengerjakan Bahasa Indonesia di laboratorium komputer sekolah. Pihak sekolah menyebut pelaksanaan sesi pertama dan kedua berjalan lancar tanpa kendala teknis berarti. Hal yang paling menonjol adalah penggunaan sistem pengawasan acak untuk mendukung kredibilitas dan keadilan. Pengawas yang ditentukan melalui sistem generate dapat mengurangi kesan bahwa penempatan pengawas bisa dipilih sesuka hati, sehingga menambah kepercayaan pada proses ujian. Ini menjadi contoh bahwa pengawasan bukan formalitas: tata cara yang transparan ikut menentukan apakah hasil asesmen diterima sebagai cerminan kemampuan peserta.
Pelajaran dari dua pelaksanaan
Pengalaman ITABA dan YPM 8 memperlihatkan dua sisi pengelolaan TKA siswa SMK: kapasitas pelaksanaan perlu diatur, sementara integritas harus dijaga. ITABA menonjolkan pembagian gelombang, kesiapan fasilitas, dan persiapan belajar; YPM 8 mengatur ratusan peserta sekaligus menerapkan pengawasan acak. Keduanya mengingatkan sekolah bahwa asesmen akademik yang tertib bergantung pada perencanaan menyeluruh—mulai dari jadwal dan perangkat hingga penugasan pengawas. TKA bukan hanya soal peserta menjawab soal, melainkan juga soal lembaga memastikan semua peserta memperoleh kondisi ujian yang layak dan proses yang adil. Dengan pengaturan yang jelas serta sarana yang siap, pelaksanaan dapat berjalan lebih tenang dan hasilnya lebih dipercaya. Itulah standar yang semestinya dijaga dalam setiap ujian akademik SMK.






