Dari Ajang Lari Menjadi Laboratorium Keberlanjutan Sosial
Maybank Marathon adalah ajang lari internasional berpredikat Elite Label Road Race yang berkembang menjadi laboratorium marathon keberlanjutan sosial, memadukan sport tourism berkelanjutan, misi sosial, dan target event lari netral karbon sebagai satu ekosistem yang menempatkan komunitas, lingkungan, dan inklusivitas sebagai inti pengalaman pelari dan warga lokal. Di Bali, momentum itu terasa sejak 21 sampai 23 Agustus ketika Sustainability Day digelar, bukan sekadar sebagai pengantar lomba, tetapi sebagai pernyataan sikap: olahraga massal tidak boleh lagi netral secara sosial maupun ekologis. Pendekatan ini penting karena format marathon adalah magnet wisata, modal ekonomi daerah, dan panggung narasi; jika panggung besar ini tetap diisi pola konsumsi tak peduli emisi, kita kehilangan kesempatan strategis mengubah perilaku publik. Menjadikan marathon sebagai alat edukasi dekarbonisasi dan inklusivitas adalah pilihan sadar, bukan dekorasi.

14.100 Pelari, 46 Negara, dan 36 Misi Sosial di Balik Nomor Dada
Keberlanjutan sosial terasa nyata ketika 14.100 pelari dari 46 negara berlari bukan hanya untuk catatan waktu, tetapi membawa pesan lintas batas tentang kepedulian. Sebanyak 36 di antaranya secara sukarela menjadi fundraiser melalui program Run for Charity, menggandeng enam NGO dengan fokus konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta dukungan bagi anak-anak dan kelompok berkebutuhan khusus. "Program Run for Charity ini mengajak 36 runner yang mendaftarkan diri secara sukarela dan mengumpulkan dana sejak persiapan hingga setelah lomba," ujar Head of Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny Fransiska. Tren partisipasi sosial ini naik dari 23 pelari pada 2024 yang menggalang Rp430 juta, menjadi 28 pelari pada 2025 dengan donasi Rp725 juta. Fakta bahwa penggalangan dana dipantau transparan melalui platform publik menunjukkan model marathon keberlanjutan sosial yang menempatkan pelari sebagai agen perubahan, bukan hanya konsumen event.

Gerakan ‘Meningkatkan Jejak Hijau’ dan Ambisi Netral Karbon 2030
Jika banyak event sport tourism berkelanjutan berhenti di gimmick hijau, Maybank Marathon mencoba menautkan aksi konkret dengan target jangka panjang. Melalui gerakan ‘Meningkatkan Jejak Hijau’ di Gianyar, rangkaian Sustainability Day dipusatkan di Piduh Charity Café sebagai simbol bahwa dekarbonisasi harus berjalan bersama pemberdayaan sosial. Di sini, penyandang disabilitas terlibat menyiapkan hidangan, sementara pelari, sponsor, dan warga lokal diajak ke program penanaman mangrove, pengelolaan sampah organik, pemanfaatan transportasi ramah lingkungan, dan edukasi pengurangan emisi. Presiden Direktur bank penyelenggara menegaskan ambisi: "Melalui gerakan Jejak Hijau, kami menargetkan Maybank Marathon menjadi ajang lari netral karbon (Carbon-Neutral Marathon) pada 2030." Kolaborasi dengan World Resources Institute melalui program Desa Sanding Bebas Emisi memperlihatkan bahwa skema netral karbon tak hanya dihitung di start–finish, tetapi diperluas ke desa sekitar sebagai laboratorium lingkungan hidup.

Maybank Women Eco-Weavers: Tenun Lombok dan Pemberdayaan Perempuan ASEAN
Pemberdayaan perempuan ASEAN di Maybank Marathon bukan slogan; ia teranyam literal dalam benang-benang tenun. Program Maybank Women Eco-Weavers (MWEW) yang dimulai Maybank Foundation sejak 2016 di Lombok berfokus pada pelestarian tradisi tenun lokal, penguatan ekonomi perempuan, serta penggunaan pewarna dan serat alami yang ramah lingkungan. Pada Sustainability Day di Bali United Training Center, karya para penenun ditampilkan dalam peragaan busana, menggeser persepsi marathon dari ajang lari menjadi panggung budaya dan ekonomi kreatif perempuan. Sejak 30 Juni 2026, ekosistem MWEW telah merambah lima negara ASEAN: Indonesia, Malaysia, Kamboja, Laos, dan Filipina. Di sini, lari, fesyen, dan ekologi saling berkelindan: setiap kain yang lahir dari tangan penenun adalah bukti bahwa sport tourism berkelanjutan bisa mengalirkan pendapatan ke kantong perempuan desa sambil menjaga warisan dan mengurangi jejak ekologis industri tekstil.
Inklusivitas, Literasi Keuangan, dan Makna Baru Sebuah Marathon
Maybank Marathon mengklaim misi ‘Humanising Financial Services’, dan menariknya, misi itu diterjemahkan ke lintasan lari melalui inklusivitas sosial dan edukasi. Piduh Charity Café dipilih sebagai pusat kegiatan karena ia menjadi ruang pelatihan kemandirian bagi anak-anak dan pemuda berkebutuhan khusus, sehingga kehadiran event ini tidak menyingkirkan kelompok rentan, melainkan mengundang mereka ke tengah panggung. Ketua pembina yayasan penyelenggara menegaskan bahwa marathon dirancang untuk mendorong perputaran ekonomi daerah, memperkuat literasi keuangan, membuka akses bagi penyandang disabilitas lewat kategori wheelchair dan dukungan pelatihan kemandirian, sekaligus ikut dalam perjalanan menuju karbon netral 2030. Bupati Gianyar mengapresiasi bagaimana Sustainability Day, dikombinasikan dengan aksi lingkungan, memperlihatkan bahwa ajang olahraga internasional bisa tumbuh selaras dengan kesejahteraan masyarakat lokal. Pada titik ini, marathon keberlanjutan sosial bukan visi abstrak, tetapi praktik yang memberi makna baru pada tiap langkah pelari dan tiap rupiah yang berputar di Gianyar.






