Marathon sebagai Laboratorium Keberlanjutan, Bukan Sekadar Lomba Lari
Marathon berkelanjutan adalah ajang lari jarak jauh yang sengaja dirancang sebagai platform terintegrasi untuk dekarbonisasi, pemberdayaan ekonomi lokal, inklusivitas sosial, dan pelestarian budaya, bukan sekadar perlombaan mencapai garis finis. Dalam kerangka itu, Maybank Marathon tampil berani menjadikan lomba internasional berpredikat Elite Label sebagai laboratorium masa depan netral karbon event dan pemberdayaan perempuan ASEAN. Dengan tema “Pace You Forward”, 14.100 peserta dari 46 negara dijadikan motor untuk mendorong sport tourism Bali sekaligus menguji model baru hubungan antara olahraga, lingkungan, dan ekonomi lokal marathon. Pilihannya tegas: jika event besar masih meninggalkan emisi tinggi dan ketimpangan sosial, maka mereka ketinggalan zaman; Maybank mencoba melakukan kebalikannya.

Jejak Hijau dan Tiga Pilar: Jalan Menuju Netral Karbon 2030
Kunci ambisi netral karbon event ini bukan janji kosong, melainkan arsitektur program yang relatif jelas. Menjelang puncak lomba, Maybank Marathon Sustainability Day diselenggarakan dua hari di Gianyar dan Sustainability Pavilion di Bali United Training Center sebagai ruang uji coba gerakan “Meningkatkan Jejak Hijau”. Di sini, tiga pilar dibentangkan: literasi keuangan, pemberdayaan masyarakat, dan lingkungan-dekarbonisasi. Pilar lingkungan mencakup penanaman mangrove, pengelolaan sampah organik, penggunaan transportasi ramah lingkungan, serta edukasi pengurangan emisi yang melibatkan pelari, sponsor, dan komunitas lokal. Dalam kalimat yang layak dikutip, Steffano Ridwan menyatakan keinginannya “mewujudkan Maybank Marathon sebagai ajang maraton netral karbon (Carbon-Neutral Marathon) pada 2030”.

Piduh Charity Café: Inklusivitas yang Nyata, Bukan Dekorasi
Banyak event berbicara inklusivitas, sedikit yang berani menjadikannya pusat kegiatan. Menempatkan hari pertama Sustainability Day di Piduh Charity Café—ruang pelatihan bagi anak-anak dan pemuda berkebutuhan khusus—adalah pernyataan politik yang cukup jelas. Di sini penyandang disabilitas bukan objek, melainkan subjek yang menyiapkan dan menyajikan hidangan bagi tamu, selaras dengan misi “Humanising Financial Services” yang menempatkan manusia dan komunitas sebagai inti pertumbuhan. Pilar pemberdayaan masyarakat diterjemahkan ke kategori Wheelchair, program Run for Charity, dan dukungan berkelanjutan bagi pusat pelatihan kemandirian. Bupati Gianyar bahkan menegaskan bahwa Maybank Marathon “tidak hanya mendorong perputaran ekonomi dan pariwisata Gianyar, tetapi juga menghadirkan dampak sosial dan lingkungan”. Jika marathon berkelanjutan harus punya wajah, di Gianyar wajah itu adalah komunitas rentan yang mendapat ruang layak.

Pace You Forward: Dari Sport Tourism Bali ke Ekonomi Lokal Marathon
Di balik slogan “Pace You Forward”, marathon ini jelas diarahkan menjadi lokomotif sport tourism Bali. Dengan 14.100 pelari dari 46 negara, event ini diproyeksikan memberi dampak ekonomi sekitar Rp300 miliar bagi perekonomian Bali, naik dari Rp225,5 miliar pada 2025 dan Rp164 miliar pada 2024. Ekonomi lokal marathon mengalir ke akomodasi, transportasi, kuliner, hingga UMKM yang kebagian belanja rata-rata peserta sekitar Rp12,5 juta. Pemerintah daerah melihatnya lebih dari pesta olahraga; ini alat untuk menyehatkan fiskal lokal dan pariwisata yang selama ini terlalu bergantung pada wisata pantai. Pertanyaannya bukan lagi apakah sport tourism Bali penting, tetapi apakah event lain berani memasang standar ekonomi-lingkungan setinggi ini.

Maybank Women Eco-Weavers: Tenun Lokal, Perempuan ASEAN, dan Masa Depan
Dimensi paling menarik dari model ini adalah bagaimana marathon berkelanjutan disambungkan dengan pemberdayaan perempuan ASEAN lewat Maybank Women Eco-Weavers. Program yang menandai satu dekade perjalanan ini telah memberdayakan 2.617 perempuan penenun dan mendukung 3.024 petani di lima negara ASEAN, lengkap dengan penanaman lebih dari 813.500 pohon murbei, 55.300 tanaman kapas, dan pendirian 13 pusat pelatihan tenun. Artinya, ketika pelari menempuh rute di Gianyar, ada rantai nilai lain yang bergerak: pelestarian tenun lokal, penguatan ekonomi perempuan, dan ekosistem tekstil berkelanjutan. Kemitraan dengan Visa serta mitra mobilitas hijau memperkuat pesan bahwa transisi ke netral karbon 2030 bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal siapa yang ikut naik kelas dalam ekonomi baru ini.
Model untuk Maraton Masa Depan: Integrasi, Bukan Tambahan
Pelajaran utama dari Maybank Marathon adalah ini: keberlanjutan tidak lagi boleh ditempelkan sebagai program sampingan. Dari Sustainability Day dua hari di Gianyar, ke gerakan “Meningkatkan Jejak Hijau” yang secara eksplisit diarahkan menuju netralitas karbon 2030, hingga proyeksi dampak ekonomi Rp300 miliar yang memperkuat posisi Bali sebagai destinasi sport tourism, semuanya dirangkai sebagai satu kesatuan. Program pemberdayaan perempuan, inklusivitas penyandang disabilitas, literasi keuangan, dan dekarbonisasi tidak berdiri sendiri; ketiganya dirancang untuk saling memperkuat dan direplikasi di desa-desa adat. Jika maraton lain masih menjadikan CSR sebagai dekorasi, model ini memberi pesan tegas: masa depan event besar adalah integrasi tujuan sosial, ekonomi, dan lingkungan—atau bersiap ditinggalkan pelari, sponsor, dan warga yang semakin sadar.






