Sustainability Day: Ketika Marathon Menjadi Gerakan Sosial dan Lingkungan
Maybank Marathon Sustainability Day adalah rangkaian agenda pra-lomba yang mengubah sebuah marathon Bali bersertifikasi Elite Label menjadi panggung kolaborasi untuk marathon keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan perempuan, dan pelestarian budaya, menjadikannya lebih dari sekadar event lari biasa dengan fokus pada dampak sosial jangka panjang.
Digelar di Sustainability Pavilion, Bali United Training Center, Gianyar, menjelang puncak Maybank Marathon 2026 in Partnership with Visa, acara dua hari ini sengaja dirancang sebagai ruang temu komunitas, mitra, dan masyarakat untuk aksi nyata keberlanjutan. Ini bukan pemanis sampingan, melainkan pesan utama: marathon skala besar wajib memikul tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2012, marathon Bali 2026 ini melangkah jauh melampaui kompetisi olahraga; ia bertransformasi menjadi platform kolaborasi yang merangkai pelari, desa, perempuan penenun, hingga petani serat alami dalam satu narasi perubahan.
Pilihan menempatkan Sustainability Day di jantung ekosistem latihan sepak bola modern juga simbolis: olahraga di era sekarang tidak cukup hanya soal prestasi, tetapi juga tentang warisan apa yang ditinggalkan untuk lingkungan dan komunitas di sekitar lintasan lomba.

Satu Dekade MWEW: Pemberdayaan Perempuan yang Menjawab Isu Lingkungan
Wajah paling kuat dari Sustainability Day adalah perayaan satu dekade Maybank Women Eco-Weavers (MWEW), program yang membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan olahraga tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan ekonomi kreatif, tekstil lestari, dan pelestarian budaya.
MWEW berfokus pada pelestarian warisan tenun ASEAN, penggunaan tekstil tradisional ramah lingkungan, sekaligus peningkatan inklusi keuangan perempuan. Hingga 30 Juni 2026, program ini telah memberdayakan 2.617 penenun perempuan dan 3.024 petani di kawasan ASEAN, membudidayakan 813.500 pohon murbei, 55.300 tanaman kapas, 18.700 pohon abaka, serta membangun 13 pusat pelatihan tenun, satu galeri, dan satu laboratorium pewarna alami. Angka-angka ini menunjukkan bahwa narasi pemberdayaan tidak boleh berhenti di panggung seremoni; ia harus terukur dan menyentuh akar produksi.
Penting dicatat, pelestarian warisan budaya dalam program ini berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Artinya, tenun tidak dilihat sebagai artefak museum, melainkan sebagai sumber penghidupan yang terhubung dengan rantai nilai global dan lari bertaraf internasional. Di titik inilah MWEW memberi kedalaman makna pada marathon keberlanjutan lingkungan: setiap langkah pelari dapat dikaitkan dengan serat, pewarna alami, dan tangan-tangan perempuan yang berdaya di lima negara.

Jejak Hijau dan Ambisi Event Lari Netral Karbon
Di luar tenun, pesan paling politis dari Sustainability Day adalah kejelasan target: menjadikan Maybank Marathon sebagai event lari netral karbon pada 2030. Di tengah banyaknya lomba lari yang masih berfokus pada jumlah peserta dan rekor waktu tempuh, langkah ini menegaskan bahwa reputasi masa depan ditentukan oleh seberapa kecil jejak emisi yang ditinggalkan.
Melalui gerakan “Jejak Hijau”, penyelenggara mulai menata tonggak konkret: penghitungan jejak emisi yang terukur serta perancangan langkah dekarbonisasi jangka panjang sebagai fondasi marathon keberlanjutan lingkungan. Ini menunjukkan pemahaman bahwa status netral karbon bukan label promosi, tetapi hasil dari proses teknis, perhitungan, dan intervensi yang konsisten. Kutipan pentingnya jelas: “Semangat inilah yang kami wujudkan melalui gerakan ‘Jejak Hijau’ di Maybank Marathon, sejalan dengan aspirasi kami untuk mewujudkan Maybank Marathon sebagai ajang maraton netral karbon (Carbon-Neutral Marathon) pada 2030.”
Di titik ini, Maybank Marathon memberi standar baru bagi marathon Bali 2026 lain: bila sebuah lomba berlabel Elite Label Road Race saja berani menetapkan target netral karbon, maka event skala lebih kecil tidak punya alasan untuk abai terhadap isu iklim.

Warisan Budaya, Ekonomi Desa, dan Wajah Baru Marathon Bali
Salah satu pesan paling menarik dari Sustainability Day adalah penegasan bahwa pelestarian budaya dan penguatan ekonomi desa bukan agenda terpisah dari penyelenggaraan marathon, tetapi bagian organik dari desain acara.
Peresmian inisiatif “Jejak Hijau Desa Sanding” menggambarkan bagaimana desa tidak sekadar menjadi penonton yang lintasannya dilalui pelari, tetapi subjek transformasi menuju desa berkelanjutan. Di sisi lain, Piduh Charity Program yang memberdayakan 100 generasi muda, penyandang disabilitas, dan anak yatim di Bali menegaskan bahwa nilai ekonomi sebuah event internasional wajib kembali ke komunitas akar rumput, bukan berhenti di sektor jasa formal.
Sustainability Day juga menampilkan lokakarya menenun dan gelar wicara yang menghubungkan penenun, sponsor global, dan mitra mobilitas berkelanjutan dalam satu panggung dialog. Dari sini, terlihat jelas bahwa pelestarian warisan budaya lokal berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat berkelanjutan, menjadikan marathon Bali 2026 sebuah etalase bagaimana olahraga, tradisi, dan ekonomi hijau dapat saling menguatkan alih-alih saling menggusur.
Mengapa Format Kompetisi Besar Harus Menjadi Laboratorium Keberlanjutan
Maybank Marathon membuktikan bahwa inisiatif keberlanjutan bisa dan harus menjadi bagian integral dari format kompetisi skala besar di Bali, bukan sekadar lampiran CSR. Ketika ajang lari berpredikat Elite Label Road Race memprioritaskan dampak sosial dan lingkungan, ia mengubah definisi sukses: bukan hanya podium, tetapi ekosistem.
Sebagai wadah kolaborasi yang menyatukan masyarakat, komunitas, dan mitra untuk menginspirasi aksi nyata keberlanjutan, marathon ini relevan bagi pelari, pegiat lingkungan, pelaku ekonomi kreatif, hingga pemerintah lokal. Di satu sisi, peserta menikmati standar internasional sebuah lomba; di sisi lain, mereka menjadi bagian dari cerita besar tentang event lari netral karbon dan pemberdayaan komunitas.
Kesimpulannya tegas: di era krisis iklim dan ketimpangan sosial, event olahraga besar yang tidak memikirkan keberlanjutan akan segera terasa ketinggalan zaman. Maybank Marathon Sustainability Day menunjukkan arah baru—bahwa masa depan marathon Bali, dan event olahraga pada umumnya, ada pada persilangan antara keberanian menetapkan target netral karbon, konsistensi pemberdayaan perempuan, dan keberpihakan pada warisan budaya lokal.






