Edukasi pencegahan harus sesuai usia dan lingkungan
Edukasi anti perundungan di sekolah adalah pembelajaran pencegahan yang membantu siswa mengenali perilaku berbahaya, memahami dampaknya, dan tahu kepada siapa mereka dapat meminta pertolongan. Pendekatan polisi di sekolah menunjukkan bahwa pesan keselamatan paling berguna ketika disesuaikan dengan usia serta risiko yang dihadapi siswa sehari-hari. Di SD Negeri Cabi, Polsek Simpang Empat, Kabupaten Banjar, memberikan edukasi tentang perundungan, narkoba, judi daring, dan penggunaan sepeda listrik; kegiatan ini ditempatkan sebagai langkah untuk mengenalkan risiko sejak dini. Sementara itu, di SMK ABI, Surabaya, Polsek Simokerto menggabungkan pencegahan perundungan dengan keselamatan berkendara dan keamanan sekitar sekolah dalam kegiatan pagi pada 3 November 2026, mulai pukul 06.00 WIB. Perbedaan fokus itu masuk akal: anak SD perlu bekal mengenali ajakan berbahaya, sedangkan pelajar SMK juga berhadapan dengan mobilitas jalan raya dan ruang publik.

Di SD, membangun keberanian menolak dan bercerita
Untuk siswa sekolah dasar, pencegahan bullying sekolah sebaiknya dimulai dari pemahaman sederhana bahwa merundung bukan candaan. Polsek Simpang Empat menjelaskan bahwa perundungan dapat mengganggu kondisi psikologis, proses belajar, dan rasa percaya diri anak. Pesan semacam ini penting karena anak mungkin belum mudah membedakan gurauan dengan tindakan yang menyakiti, atau belum berani melapor. Materi di SD Negeri Cabi juga memperluas perlindungan ke risiko narkoba dan judi daring, dengan imbauan agar siswa menolak ajakan negatif. Penggunaan sepeda listrik turut dibahas: anak diminta memperhatikan aturan keselamatan dan tidak mengendarainya sembarangan di jalan raya. Saran praktisnya jelas—bila mengalami atau mengetahui hal yang membahayakan, anak perlu segera bercerita kepada orang tua atau guru. Edukasi polisi sekolah akan lebih kuat bila keluarga dan tenaga pendidik mengulang pesan itu melalui komunikasi terbuka dan pengawasan, bukan hanya dalam satu kunjungan.
Di SMK, keselamatan mencakup jalan dan pergaulan
Konteks pelajar SMK menuntut perhatian yang lebih luas daripada hubungan antarsiswa. Di SMK ABI, petugas Polsek Simokerto mengatur lalu lintas di depan sekolah sekaligus menyampaikan pentingnya memakai helm dan mematuhi aturan untuk menekan risiko kecelakaan. Edukasi pencegahan perundungan tetap menjadi bagian kegiatan, dengan penekanan pada hubungan yang baik dan larangan merugikan teman. Petugas juga mengenalkan layanan Polri 110 agar siswa dan warga mengetahui saluran untuk meminta bantuan atau melaporkan gangguan keamanan. Kombinasi ini terasa relevan: keselamatan pelajar tidak berhenti di dalam kelas, tetapi juga mencakup perjalanan menuju sekolah dan lingkungan sekitarnya. Berbeda dari materi untuk anak SD yang menekankan pengenalan bahaya dan keberanian bercerita, pendekatan di SMK ABI lebih langsung mengaitkan perilaku dengan keputusan nyata di jalan, interaksi sosial, serta cara mencari pertolongan.
SMK 13 menyoroti tawuran dan pengaruh media sosial
Di SMK 13, Desa Cukanggalih, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Unit Binmas Polsek Curug mengadakan program Polisi Peduli Pendidikan pada Rabu siang pukul 13.00 sebagai bagian dari upaya Cegah Tawuran Antar Pelajar (CETAR). Fokusnya berbeda dari SMK ABI: siswa diminta menjauhi tawuran, menghindari penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang, serta menggunakan media sosial dengan bijak. Mereka juga diingatkan agar tidak mudah terhasut ajakan atau informasi yang belum jelas tujuan maupun kebenarannya, dan tetap mengutamakan pendidikan. Ini menunjukkan bahwa pencegahan tidak cukup berupa larangan; siswa perlu diajak menilai pengaruh kelompok dan informasi digital yang dapat memicu konflik. Di ketiga sekolah, benang merahnya adalah membekali pelajar agar mampu mengenali risiko dan mencari dukungan. Namun, pilihan materinya mengikuti konteks: perlindungan awal di SD, keselamatan lalu lintas di SMK ABI, dan pencegahan konflik serta pengaruh daring di SMK 13.
Kegiatan semacam ini hanya akan berdampak jika berlanjut sebagai kerja bersama. Polsek Simpang Empat menyatakan program Polisi Peduli Pendidikan akan terus menyasar sekolah-sekolah di wilayahnya. Polsek Simokerto juga mendorong kerja sama dengan sekolah dan masyarakat untuk memperkuat kepatuhan lalu lintas serta mencegah gangguan keamanan. Di Curug, harapannya adalah sinergi polisi, sekolah, dan siswa menjaga lingkungan pendidikan tetap aman dan bebas dari tawuran maupun penyalahgunaan narkoba. Kesimpulannya, edukasi polisi sekolah paling bernilai ketika tidak memakai satu paket pesan untuk semua jenjang. Materi harus dekat dengan pengalaman siswa, lalu ditopang oleh guru dan orang tua agar keberanian menolak, melapor, dan menjaga teman menjadi kebiasaan.






