Bekal menghadapi risiko digital dan sosial
Edukasi tentang judi online dan perundungan adalah pembekalan bagi pelajar untuk mengenali ancaman di ruang digital dan lingkungan sekolah serta memahami pentingnya sikap saling menghormati. Bekal semacam ini tidak boleh berhenti pada larangan: siswa SMP perlu tahu risiko yang sedang dibicarakan dan merasa aman mencari bantuan dari orang dewasa tepercaya ketika menghadapi masalah. Pada Senin (26/10/2026), Ditbinmas Polda Kepulauan Bangka Belitung menggelar kegiatan edukatif di SMP Negeri 5 Pangkalpinang. Dipimpin AKP Nur Kodri bersama jajaran anggota, kegiatan itu menyasar para pelajar dan disambut antusias oleh guru serta siswa. Pilihan untuk hadir langsung di sekolah patut diapresiasi, sebab percakapan tentang bahaya judi online dan bullying lebih bermakna ketika dekat dengan keseharian anak.
Mengenali bahaya judi online
Materi edukasi judi online membahas ancaman judi daring yang disebut marak menyasar kalangan remaja, sekaligus modus penipuan digital yang dapat muncul saat pelajar menggunakan perangkat dan layanan komunikasi. Pesan tentang bijak menggunakan teknologi penting, tetapi siswa juga perlu didorong untuk berhenti sejenak ketika menemukan ajakan atau hal mencurigakan dan menyampaikannya kepada orang dewasa tepercaya. Mengajarkan kewaspadaan tanpa menakut-nakuti membantu remaja memahami bahaya judi online sebagai risiko nyata, bukan sekadar istilah yang asing. Di sinilah nilai pendekatan preventif: memberi bekal sebelum masalah muncul, bukan hanya merespons setelah ada dampak. Penyampaian yang mudah dipahami dan ruang untuk bertanya dapat membuat pelajaran lebih berguna bagi kehidupan digital sehari-hari.
Mencegah bullying di sekolah
Kegiatan itu juga menyoroti pentingnya pencegahan tindakan perundungan atau bullying di sekolah. Para pelajar diingatkan untuk saling menghormati, sebuah pesan sederhana yang perlu terlihat dalam tindakan sehari-hari: tidak merendahkan teman, tidak ikut menyebarkan ejekan, dan tidak membiarkan teman menghadapi perundungan seorang diri. Namun, pencegahan tak seharusnya dibebankan hanya kepada siswa. Guru dan orang dewasa di sekitar mereka perlu menjadi pihak yang bisa didatangi ketika seorang anak merasa terancam atau melihat temannya diperlakukan buruk. Menghubungkan pesan saling menghormati dengan jalur mencari bantuan membuat edukasi lebih utuh. Sekolah yang aman bukan sekadar tempat tanpa konflik, melainkan ruang tempat masalah dapat disampaikan dan ditangani dengan serius.
Edukasi perlu berlanjut
Kehadiran Ditbinmas Polda Kepulauan Bangka Belitung di SMP Negeri 5 Pangkalpinang merupakan bagian dari program “polisi bersama masyarakat”, dengan pendekatan humanis dan preventif. Kegiatan ini layak dipandang sebagai langkah awal, bukan jawaban tuntas. Satu kali penyuluhan dapat membuka percakapan, tetapi pemahaman siswa perlu diperkuat melalui komunikasi berkelanjutan antara sekolah, keluarga, dan pihak yang dapat dimintai bantuan. Inti pesannya jelas: pelajar harus bijak memanfaatkan teknologi, waspada terhadap penipuan digital dan judi online, serta menjaga sikap saling menghormati. Jika siswa mengenali risiko dan tahu kepada siapa mereka bisa bercerita, edukasi akan lebih mungkin berubah menjadi perlindungan nyata. Membekali anak sebelum masalah terjadi adalah pilihan yang lebih baik daripada menunggu dampaknya membesar.






