Penyuluhan langsung sebagai langkah pencegahan
Edukasi bahaya narkoba adalah penyampaian informasi dan pembinaan yang membantu pelajar memahami risiko penyalahgunaan zat, menolak ajakan, serta memilih kegiatan yang mendukung masa depan. Pada Senin, 26 Oktober 2026, Wakapolresta Pangkalpinang AKBP Rendra Oktha Dinata mengajak sekitar 600 siswa SMK Negeri 1 Pangkalpinang menjauhi narkoba, judi daring, dan perundungan. Pada hari yang sama, Polsek Tayan Hilir menggelar kegiatan Polisi Peduli Pendidikan bagi ratusan siswa MTs Negeri 03 Sanggau, termasuk edukasi tentang bahaya narkoba. Dua kegiatan ini menegaskan bahwa pencegahan narkoba siswa perlu menjangkau mereka langsung di lingkungan belajar, bukan hanya hadir sebagai larangan tertulis. Namun, penyuluhan akan lebih kuat jika menjadi percakapan berkelanjutan, bukan pesan satu arah yang berhenti setelah kegiatan.
SMK: membangun karakter dan pilihan bertanggung jawab
Di SMK Negeri 1 Pangkalpinang, pesan antinarkoba disampaikan dalam pembinaan saat upacara bendera. Rendra mengaitkan perilaku berisiko dengan kewajiban menaati aturan, menjaga keselamatan berlalu lintas, dan menghormati teman. Ia juga mendorong siswa menggunakan masa sekolah untuk belajar, mengembangkan potensi, serta mengejar cita-cita. Pendekatan ini relevan karena pelajar menghadapi banyak pilihan sosial sekaligus sedang membentuk kebiasaan dan tanggung jawab. Menggabungkan larangan narkoba dengan isu perundungan dan judi daring membuat pembinaan menyentuh lebih dari satu ancaman. Meski begitu, sekolah dan kepolisian sebaiknya menyediakan ruang tanya jawab agar siswa dapat membahas tekanan teman sebaya atau cara mencari bantuan tanpa takut dihakimi. Penyuluhan narkoba sekolah paling berguna ketika nasihat disertai jalur dukungan yang jelas.
MTs: menghubungkan narkoba dengan perilaku sehari-hari
Di MTs Negeri 03 Sanggau, pembinaan Polsek Tayan Hilir mencakup persoalan yang dekat dengan rutinitas pelajar: bahaya narkotika, larangan merokok, kedisiplinan, knalpot brong, balap liar, dan penggunaan media sosial secara bijak. Kapolsek Iptu Kusdarwanto mengingatkan bahwa narkotika seperti sabu-sabu dan pil ekstasi dapat berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan, serta meminta siswa tidak mencobanya dengan alasan apa pun. Cakupan materi yang luas memberi konteks bahwa menjaga diri bukan hanya soal menolak narkoba, tetapi juga membuat pilihan aman di sekolah, jalan, dan ruang digital. Dibandingkan pesan SMK yang menonjolkan karakter dan cita-cita, pendekatan MTs tampak lebih dekat dengan aturan dan risiko keseharian. Keduanya berpotensi efektif jika usia dan pengalaman siswa menjadi dasar cara penyampaian.
Dari pesan sesaat menjadi kebiasaan sekolah
Kedua kegiatan menunjukkan upaya pencegahan melalui penyuluhan langsung kepada pelajar, tetapi satu kunjungan tidak cukup untuk memastikan pesan bertahan. Rendra menyebut kerja sama kepolisian dan sekolah diharapkan memperkuat lingkungan pendidikan yang aman, tertib, dan mendukung prestasi. Di Tayan Hilir, kehadiran polisi bersama guru juga dimaksudkan untuk membangun komunikasi lebih dekat dengan peserta didik. Langkah berikutnya semestinya menjaga komunikasi itu melalui pengingat berkala, kesempatan bertanya, serta keterlibatan guru dan keluarga. Dengan begitu, ajakan agar pelajar jauhi narkoba bukan sekadar slogan dalam upacara atau kunjungan, melainkan dukungan yang dapat mereka akses ketika menghadapi tekanan. Perbedaan pendekatan SMK dan MTs bukan kelemahan; justru keduanya menunjukkan bahwa pencegahan lebih masuk akal ketika disesuaikan dengan kebutuhan siswa.






