Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Aset Keuangan Syariah Tumbuh, Pangsa Pasar Masih 11,24 Persen

Aset Keuangan Syariah Tumbuh, Pangsa Pasar Masih 11,24 Persen
Minat|Asia Tenggara

Pertumbuhan kuat, penetrasi belum sebanding

Keuangan syariah adalah layanan dan kegiatan keuangan yang dijalankan sesuai prinsip syariah, mencakup perbankan serta pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu, pertumbuhan asetnya perlu dibaca bersama dengan seberapa luas layanan tersebut digunakan.

Otoritas Jasa Keuangan mencatat aset keuangan syariah mencapai Rp3.264 triliun per Juni 2026, tumbuh 9,82 persen secara tahunan. Angka itu menandakan industri tetap bertumbuh di tengah dinamika ekonomi nasional dan global, sebagaimana disampaikan Dian Masyita, ekonom syariah sekaligus Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah OJK. Namun, pertumbuhan aset belum otomatis berarti penetrasi luas.

Pangsa pasar syariah masih 11,24 persen. Kesenjangan antara besarnya aset dan porsi pasar tersebut adalah sinyal bahwa tantangan utama bukan sekadar memperbesar neraca, melainkan membuat layanan lebih mudah ditemukan, dipahami, dan digunakan. Tanpa langkah itu, angka pertumbuhan yang mengesankan berisiko hanya mencerminkan penguatan di pasar yang masih terbatas.

Ruang ekspansi bergantung pada kebutuhan nyata

Pangsa pasar yang baru 11,24 persen menunjukkan ruang ekspansi masih besar. Sumber juga membandingkan angka tersebut dengan sekitar 87 persen penduduk yang beragama Islam. Namun, besarnya populasi bukan jaminan bahwa masyarakat akan memilih layanan syariah. Pilihan produk harus menjawab kebutuhan sehari-hari, aksesnya tidak menyulitkan, dan daya saingnya memadai.

Dian Masyita menekankan bahwa pengembangan industri perlu menggabungkan kemudahan akses, daya saing, relevansi produk, serta kepatuhan pada prinsip syariah. Penekanan ini tepat: identitas syariah saja tidak cukup untuk menarik nasabah jika produk tidak sesuai kebutuhan atau proses mengaksesnya terasa rumit. Inovasi produk seharusnya berangkat dari masalah konkret, bukan sekadar menambah pilihan di katalog.

Bagi masyarakat, ukuran kemajuan bukan hanya total aset, tetapi apakah pembiayaan untuk kebutuhan seperti rumah, kendaraan, emas, dan layanan multijasa dapat diakses dengan jelas serta mudah. Industri perlu membangun kepercayaan melalui pengalaman layanan yang kompetitif sekaligus menjaga kesesuaian dengan prinsip syariah.

Digitalisasi harus mengurangi hambatan

Digitalisasi keuangan syariah dapat memperluas jangkauan dengan memangkas hambatan akses, tetapi aplikasi saja tidak cukup. Teknologi baru bernilai jika membantu nasabah menemukan produk yang sesuai, memahami prosesnya, dan mengakses layanan secara lebih mudah. Karena itu, inovasi digital dan pembaruan produk harus berjalan beriringan.

BCA Syariah menjadikan digitalisasi sebagai bagian utama strategi layanan, salah satunya melalui aplikasi BSya untuk memperluas akses perbankan syariah. Platform tersebut menyediakan akses ke pembiayaan emas, KPR, dan multijasa. Perseroan juga menawarkan pembiayaan kendaraan bermotor. Ragam ini menunjukkan bagaimana kanal digital dapat menghubungkan layanan dengan kebutuhan konsumen yang berbeda.

Namun, contoh satu aplikasi belum menyelesaikan persoalan pangsa pasar yang rendah. Tolok ukurnya semestinya bukan sekadar ketersediaan fitur, melainkan kemudahan yang dirasakan nasabah dan relevansi produk. Jika layanan digital tetap rumit atau pilihan pembiayaannya tidak menjawab kebutuhan, teknologi hanya memindahkan hambatan dari kantor cabang ke layar ponsel.

Pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi akses

Aset keuangan syariah sebesar Rp3.264 triliun dan pertumbuhan tahunan 9,82 persen memberi industri alasan untuk optimistis. Tetapi pangsa pasar 11,24 persen mengingatkan bahwa hasil akhirnya belum sebanding dengan potensi yang tersedia. Pertumbuhan aset adalah modal, bukan bukti bahwa layanan telah menjangkau masyarakat luas.

Perluasan pasar menuntut lebih dari kampanye atau peluncuran aplikasi. Lembaga keuangan perlu menawarkan produk yang relevan, menjaga daya saing, mempermudah akses, dan memastikan setiap layanan tetap sesuai prinsip syariah. Aplikasi BSya menjadi salah satu contoh upaya memperluas akses pembiayaan, tetapi kemajuan industri pada akhirnya bergantung pada manfaat nyata yang dirasakan nasabah.

Kesimpulannya, digitalisasi dan inovasi produk bukan aksesori pertumbuhan, melainkan jalan untuk mengubah potensi menjadi penggunaan yang lebih luas. Jika industri mampu menghubungkan teknologi dengan kebutuhan masyarakat, kenaikan aset dapat menjadi pijakan bagi pangsa pasar syariah yang lebih besar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!