Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Unair Menempatkan Tata Kelola Data sebagai Fondasi AI

Unair Menempatkan Tata Kelola Data sebagai Fondasi AI
Minat|Analisis Data AI

Data yang tertata mendahului AI yang bermanfaat

Tata kelola data adalah cara organisasi mengatur kualitas, konsistensi, struktur, dan penggunaan data agar dapat diandalkan untuk menghasilkan keputusan serta teknologi yang bermanfaat. Prinsip ini menjadi inti langkah Universitas Airlangga (Unair), yang memperkuat tata kelola dan arsitektur data sebelum mengembangkan kecerdasan buatan (AI).

Pesan itu mengemuka dalam Campus Data Week 2026 di Gedung Nano, Kampus C Unair, Surabaya, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Ketua Pusat Satu Data dan Kecerdasan Digital Unair, Prof. Unggul Heriqbaldi, menegaskan bahwa universitas tidak langsung melompat ke pengembangan AI, melainkan membenahi data terlebih dahulu. Urutan ini patut didukung: model AI secanggih apa pun sulit memberi hasil yang dapat dipercaya bila bahan dasarnya berantakan atau tidak konsisten.

Karena itu, tata kelola data bukan urusan administratif di belakang layar. Data yang rapi dan berkualitas memungkinkan kampus membangun layanan serta produk yang lebih relevan bagi pendidikan dan masyarakat. Tanpa fondasi tersebut, penerapan AI berisiko menghasilkan keluaran yang tampak meyakinkan, tetapi tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar tindakan.

Kolaborasi harus mengarah pada produktivitas

Campus Data Week 2026 dirancang sebagai ruang temu perguruan tinggi, instansi pemerintah, industri, dan mahasiswa. Rangkaian tiga hari yang diselenggarakan Pusat Satu Data dan Kecerdasan Digital Unair untuk Dies Natalis ke-72 itu mencakup diskusi, kompetisi nasional data dan AI, serta kegiatan pengembangan karier. Format ini mengakui kenyataan bahwa membangun ekosistem AI tidak bisa dikerjakan kampus sendirian.

Pengembangan teknologi membutuhkan investasi finansial dan sumber daya manusia, sementara masalah yang hendak diselesaikan sering melintasi batas institusi. Kerja sama kampus, pemerintah, dan industri dapat mempertemukan kebutuhan publik dengan keahlian teknis serta kapasitas penerapan. Namun, kolaborasi hanya bernilai jika menghasilkan solusi yang menjawab masalah nyata, bukan sekadar menambah proyek AI.

Ukuran keberhasilan akhirnya adalah manfaat yang dirasakan masyarakat: layanan pendidikan yang lebih baik, pekerjaan yang terbantu, atau proses yang lebih efisien. Unair mengarahkan pemanfaatan AI untuk melahirkan solusi nyata sekaligus mendukung produktivitas nasional. Dengan ukuran itu, produktivitas AI bukan banyaknya alat yang dibuat, melainkan dampak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Talenta digital menentukan mutu penerapan

Data dan kemitraan tidak akan cukup tanpa orang yang mampu mengolah keduanya. Pusat Satu Data dan Kecerdasan Digital Unair mendorong talenta muda melalui kompetisi nasional yang melibatkan mahasiswa dari berbagai daerah serta sertifikasi bidang data dan AI. Upaya ini penting karena ekosistem AI memerlukan keahlian teknis sekaligus pemahaman tentang batas, mutu, dan dampak hasil yang dihasilkan.

Mahasiswa juga diingatkan agar tidak sekadar menyerahkan tugas kepada AI. Muhammad Reza Erfit, kreator konten AI sekaligus alumni Unair, menekankan bahwa pengguna perlu memahami dan mampu mempertanggungjawabkan hasil yang dibantu teknologi. Itu standar yang semestinya berlaku di ruang kelas maupun tempat kerja: AI boleh mempercepat proses, tetapi tanggung jawab atas keluaran tetap berada pada manusia.

Pengembangan talenta digital dengan demikian bukan pelengkap bagi investasi teknologi. Kompetisi dan sertifikasi dapat membuka jalur belajar, sementara penguasaan dasar keilmuan membantu calon praktisi menilai apakah keluaran AI masuk akal dan layak digunakan. Tanpa kecakapan itu, organisasi berisiko memakai teknologi tanpa memahami konsekuensinya.

Fondasi kuat lebih penting daripada perlombaan adopsi

Langkah Unair menawarkan prioritas yang lebih masuk akal daripada mengejar adopsi AI secepat mungkin: rapikan data, bangun kerja sama, lalu siapkan manusia yang akan mengembangkan dan menggunakan teknologi. Campus Data Week 2026 menjadi wadah untuk mendorong ketiga hal tersebut sekaligus, dengan harapan memperkuat kemandirian dalam pengelolaan data dan pemanfaatan AI.

Arah ini perlu diteruskan melampaui acara dan program pelatihan. Institusi harus menjaga kualitas serta konsistensi data, memastikan kerja sama berujung pada kebutuhan masyarakat, dan menuntut pengguna memahami hasil yang mereka terapkan. Barulah produktivitas AI memiliki dasar yang bisa diuji, bukan sekadar janji.

Kesimpulannya, ekosistem AI yang produktif dibangun dari fondasi, bukan dari sensasi teknologi. Tata kelola data memberi bahan yang dapat dipercaya, kolaborasi memperluas kemampuan, dan talenta digital memastikan AI digunakan dengan cakap serta bertanggung jawab. Urutan kerja Unair layak menjadi pengingat: AI akan berdampak ketika manusia dan data disiapkan terlebih dahulu.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!