68 Ribu Pemasok, Angka yang Belum Cukup
UMKM pemasok MBG adalah usaha mikro, kecil, dan menengah yang menyediakan bahan pangan lokal bagi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Lebih dari 68 ribu UMKM di berbagai daerah kini memasok kebutuhan pangan dapur tersebut. Namun, angka itu bukan alasan untuk menganggap keterlibatan usaha lokal sudah memadai. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menilai jumlah pemasok masih perlu ditingkatkan dan pemerintah sedang menyiapkan formulasi perluasan. Pernyataan itu disampaikan di Makassar pada 25 Oktober 2026. Arah kebijakannya patut dinilai dari hasil, bukan dari jumlah skema yang dirancang: semakin banyak usaha daerah yang benar-benar memperoleh akses memasok, semakin luas pula manfaat ekonomi program di luar dapur SPPG.
Tantangannya terlihat dari skala UMKM secara nasional. Data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2024 mencatat sekitar 64,2 juta unit UMKM, setara 99,99 persen dari seluruh unit usaha, serta sekitar 123 juta pekerja atau 97 persen tenaga kerja nasional. Dibandingkan basis sebesar itu, 68 ribu pemasok masih menunjukkan ruang partisipasi yang besar. Angka nasional tersebut tidak berarti setiap UMKM cocok atau siap memasok dapur, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa perluasan tidak semestinya berhenti pada mitra yang sudah terdata.
Pasokan Beragam Harus Berakar di Daerah
Pemasok yang telah terlibat menyediakan beragam kebutuhan pangan, termasuk telur dan bahan makanan lain. Pasokan berasal dari daerah masing-masing dan pelakunya sudah terdata. Ini memberi program MBG peluang untuk menghubungkan kebutuhan rutin dapur SPPG dengan usaha lokal, bukan sekadar membeli produk dari pemasok yang sama di banyak wilayah. Karena itu, memperluas rantai pasok pangan seharusnya berarti membuka akses bagi lebih banyak usaha lokal yang mampu memenuhi kebutuhan dapur, sekaligus memastikan pengadaan berjalan sesuai kebutuhan program.
Bagi pelaku usaha, kesempatan memasok dapat membawa manfaat langsung berupa akses terhadap permintaan program. Namun, jumlah pemasok yang besar saja belum cukup untuk membuktikan bahwa kesempatan tersebar luas. Pemerintah perlu mengukur apakah skema yang disiapkan membuat lebih banyak usaha dari berbagai daerah dapat ikut serta, bukan hanya menambah angka mitra di atas kertas. Ini penting agar manfaat ekonomi MBG menjangkau pelaku usaha akar rumput, sebagaimana tujuan perluasan keterlibatan yang disampaikan pemerintah.
Formulasi Pemerintah Perlu Berujung pada Akses Nyata
Kementerian UMKM tengah menyusun formulasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperbesar keterlibatan usaha lokal dalam penyediaan bahan makanan bagi MBG. Upaya itu berlangsung ketika BGN sedang menata internal lembaganya. Maman mengatakan skema terbaik sedang dirancang agar dukungan UMKM membantu program berjalan maksimal dan tepat sasaran. Kolaborasi tersebut masuk akal: pembenahan tata kelola dan pengadaan dapat menjadi kesempatan untuk memperhitungkan karakter usaha lokal sejak awal, bukan setelah keputusan pemasok telanjur dibuat.
Tetapi formulasi hanya bernilai jika pelaku usaha dapat memahami cara bergabung dan memperoleh peluang memasok. Pemerintah belum menyampaikan rincian skema dalam keterangan yang tersedia, sehingga dampaknya belum dapat dinilai. Ukuran keberhasilan berikutnya semestinya bukan hanya jumlah UMKM yang tercatat, melainkan bertambahnya pemasok yang benar-benar ikut memenuhi kebutuhan dapur SPPG. Dengan begitu, perluasan partisipasi menjadi perubahan nyata dalam rantai pasok pangan, bukan sekadar sasaran kebijakan.
Kesimpulan: Ukur Perluasan dari Pelaku yang Terlibat
Lebih dari 68 ribu UMKM sudah menjadi pemasok pangan MBG, tetapi pemerintah sendiri menilai jumlah itu masih perlu ditingkatkan. Formulasi bersama BGN menawarkan jalan untuk memperluas akses, sementara penataan internal BGN menjadi latar kerja kebijakan saat ini. Tahap berikutnya perlu menghasilkan kesempatan yang lebih nyata bagi usaha lokal untuk memasok bahan pangan dan kebutuhan dapur. Jika jumlah pemasok bertambah tanpa memperluas akses secara bermakna, potensi ekonomi UMKM yang besar akan tetap kurang terhubung dengan program. Keberhasilan MBG karena itu patut dinilai bukan hanya dari kelancaran dapur, tetapi juga dari seberapa luas pelaku usaha daerah ikut menjadi bagian dari rantai pasoknya.






