Angka besar, tetapi belum menjadi garis akhir
Rantai pasok program Makan Bergizi Gratis adalah jaringan usaha yang menyediakan bahan pangan dan layanan untuk memenuhi kebutuhan program, sekaligus menghubungkan produsen dengan pasar secara berkelanjutan. Sekitar 69 ribu UMKM telah terlibat dalam rantai pasok Badan Gizi Nasional, tetapi pemerintah belum menganggap jumlah itu memadai. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan dorongan untuk memperluas partisipasi dalam kegiatan Fora for Kredit Program Pemerintah di Badung, Kamis, 29 Oktober 2026. Capaian tersebut penting karena menunjukkan adanya pintu masuk bagi usaha kecil, tetapi jumlah mitra saja belum membuktikan bahwa kesempatan tersebar merata. Ukuran keberhasilan seharusnya juga mencakup kemudahan usaha baru untuk mendaftar, memperoleh kontrak, dan memasok secara konsisten. Tanpa akses yang terbuka, angka 69 ribu berisiko menjadi statistik partisipasi, bukan ukuran seberapa luas manfaat program menjangkau pelaku usaha.
Perluasan pun harus sesuai kapasitas. Data BGN per Juli 2026 mencatat 63.189 unit usaha terhubung dengan ekosistem MBG, sementara angka sekitar 69 ribu disampaikan kemudian; kedua angka berasal dari waktu pencatatan berbeda dan tidak layak dibaca sebagai ukuran yang bertentangan. Maman menjelaskan bahwa usaha menengah umumnya terlibat dalam pengelolaan dapur, usaha kecil dapat memasok hasil peternakan dan perikanan, sedangkan usaha mikro diarahkan menyediakan pangan harian. Pembagian ini masuk akal, tetapi hanya akan membuka peluang nyata jika skala dan persyaratan kontrak tidak menutup akses bagi pemasok yang lebih kecil.
Survei menunjukkan celah kemitraan
Besarnya daftar pemasok tidak meniadakan kesenjangan akses. Survei Indef yang diterbitkan pada Oktober 2026, berdasarkan pengumpulan data pada Agustus, menemukan hanya 5 persen UMKM formal dan 1 persen UMKM informal yang disurvei telah bermitra atau sedang menjajaki kemitraan dengan MBG. Angka itu menggambarkan responden survei, bukan persentase seluruh UMKM, sehingga tidak bisa dibandingkan langsung dengan data administratif BGN. Namun, temuan tersebut tetap memberi sinyal kuat: bagi banyak usaha kecil, masuk ke rantai pasok belum menjadi proses yang mudah. Indef juga mencatat 22 persen responden melaporkan kegiatan usahanya menurun akibat MBG, sedangkan 5 persen melaporkan peningkatan. Ini adalah laporan responden dalam survei deskriptif, bukan bukti sebab-akibat, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa dampak program tidak dirasakan seragam.
Hambatan tidak hanya terletak pada ketersediaan produk. Menteri UMKM menyebut keterlibatan usaha kecil belum maksimal karena BGN memprioritaskan pembenahan sistem internal setelah ditemukan indikasi pelanggaran hukum. Penataan tersebut penting untuk tata kelola, tetapi perlu disertai jalur pendaftaran yang jelas agar pembenahan tidak berubah menjadi penundaan tanpa kepastian bagi calon mitra usaha lokal. Indef merekomendasikan prosedur pengadaan yang lebih sederhana, kepastian pembayaran kepada pemasok, serta pembiayaan berbasis kontrak. Ketiganya menyasar persoalan praktis: usaha kecil sulit menanggung proses berbelit, menunggu pembayaran tanpa jadwal jelas, atau berproduksi lebih dulu tanpa kepastian permintaan. Menambah nama pemasok di daftar tidak cukup jika risiko dan beban akses tetap dipikul sendiri oleh pelaku kecil.
Peluang daerah perlu ditopang pasar yang pasti
Arah yang lebih menjanjikan adalah membangun ekosistem produksi di daerah, bukan hanya menghubungkan program dengan usaha yang sudah mapan. Maman mendorong agar kebutuhan BGN memicu usaha produktif baru, seperti peternakan ayam, budi daya ikan, dan produksi sayuran. Daerah yang selama ini kekurangan pembeli untuk hasil pertanian berpotensi memperoleh akses pasar melalui rantai pasok MBG. Bagi warga, manfaatnya bisa berupa peluang untuk mulai berproduksi atau memperluas usaha berdasarkan kebutuhan pangan yang nyata. Namun, peluang pasar tidak otomatis menjadi kemitraan yang bertahan. Produksi baru memerlukan informasi kebutuhan, jadwal pengadaan yang dapat diprediksi, standar yang dapat dipenuhi, serta kepastian bahwa hasil panen atau produksi akan terserap. Tanpa hal-hal itu, dorongan menciptakan produsen baru dapat berujung pada pasokan yang tidak tersambung dengan permintaan.
Pemerintah menyatakan perluasan partisipasi akan berjalan melalui penataan internal dan mekanisme pendaftaran terpadu. Langkah ini perlu dinilai dari hasil yang terasa bagi UMKM pemasok MBG: apakah pendaftaran mudah ditemukan, persyaratan sepadan dengan skala usaha, dan pembayaran berlangsung pasti. Penguatan ekosistem daerah juga harus menghubungkan produksi, pengadaan, dan kebutuhan dapur, bukan berhenti pada target jumlah mitra. Pada akhirnya, 69 ribu UMKM adalah pijakan yang berarti, bukan bukti bahwa akses telah terbuka lebar. Program Makan Bergizi Gratis akan memberi dampak ekonomi lebih luas jika pemasok kecil dapat masuk tanpa hambatan yang tidak perlu dan mendapat kepastian untuk terus memasok. Itulah ukuran perluasan yang lebih penting daripada sekadar menambah angka.






