Angka besar, tetapi belum menjadi garis akhir
Rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah jejaring pelaku usaha yang menyediakan bahan dan kebutuhan untuk menjalankan layanan gizi, sekaligus menghubungkan produksi daerah dengan permintaan program. Kini, sekitar 68.000 UMKM tercatat menjadi pemasok MBG, sementara Badan Gizi Nasional menyebut sekitar 69.000 UMKM telah terlibat dalam ekosistem rantai pasoknya. Perbedaan angka itu menunjukkan besarnya skala pelibatan, tetapi pesan pemerintah lebih penting: jumlah tersebut belum dianggap cukup. Menteri UMKM Maman Abdurahman mendorong lebih banyak mitra usaha lokal untuk bergabung, dengan harapan jumlah pemasok meningkat signifikan dalam waktu dekat. Sasaran ini masuk akal, tetapi keberhasilan tidak semestinya diukur dari hitungan peserta saja. Yang menentukan ialah apakah pelaku kecil dapat masuk dengan prosedur yang bisa dijangkau dan memperoleh peluang usaha yang berkelanjutan.
Peluang harus terasa sampai ke daerah
Perluasan pemasok akan berarti jika belanja program mengalir ke usaha di sekitar lokasi layanan, bukan hanya bertambah di daftar mitra. Pemerintah menargetkan rantai pasok MBG yang berkelanjutan untuk mendorong usaha produktif di daerah. Contohnya, kebutuhan program dapat memberi dorongan bagi peternakan ayam dan budidaya ikan di wilayah yang sebelumnya belum menekuni sektor tersebut. Petani sayur di daerah dengan pembeli terbatas juga berpotensi mendapat akses pasar baru melalui rantai pasok program. Bagi pelaku usaha kecil, akses pasar yang lebih pasti dapat membantu merencanakan produksi dan membuka ruang bagi kegiatan ekonomi baru. Namun, peluang itu tidak otomatis terwujud hanya karena permintaan program tersedia. Pengadaan perlu memberi ruang bagi kapasitas lokal, sementara mutu, kesinambungan pasokan, dan ketepatan distribusi tetap harus dijaga.
Kemitraan perlu ditopang aturan yang bisa diakses
Dorongan menambah mitra usaha lokal datang ketika pemerintah mengakui jumlah UMKM yang terlibat masih belum memadai. Maman menyatakan, “Saat ini sudah ada 68 ribu UMKM yang menjadi penyuplai untuk program MBG. Kami masih terus mendorong agar pelaku UMKM lainnya menjadi pemasok MBG”. Di saat yang sama, Badan Gizi Nasional tengah menata kelembagaan, termasuk administrasi, standar operasional, dan sistem pengadaan; pemerintah berharap tata kelola itu lebih sesuai dengan karakteristik usaha lokal. Ini langkah penting karena UMKM tidak akan menjadi pemasok hanya berkat ajakan. Mereka membutuhkan persyaratan yang jelas, alur pendaftaran yang terbuka, dan pengadaan yang tidak lebih mudah dijangkau perusahaan besar. Konsolidasi kelembagaan seharusnya dipakai untuk membenahi hambatan tersebut, bukan sekadar merapikan proses internal.
Ukur hasil dari manfaat, bukan jumlah pemasok saja
Arah kebijakan ini menjanjikan, tetapi perlu ukuran keberhasilan yang lebih tajam daripada angka partisipasi. Pemerintah dan kementerian terkait perlu melihat apakah UMKM dapat memasok secara rutin, apakah produk daerah benar-benar terserap, dan apakah kesempatan tersebar melampaui pelaku yang sudah kuat. Maman menegaskan bahwa UMKM seharusnya bukan sekadar objek program, melainkan pihak yang ikut memperoleh manfaat dari perputaran kegiatan. Dengan demikian, ekspansi mitra harus berjalan bersama pembentukan kapasitas produksi serta penguatan hubungan antara pemasok dan kebutuhan di tiap daerah. Program Makan Bergizi Gratis memiliki peluang untuk menghubungkan layanan gizi dengan ekonomi akar rumput, tetapi hasil itu bergantung pada tata kelola yang adil dan konsisten. Kesimpulannya, hampir 70 ribu pemasok adalah pijakan awal; keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika lebih banyak usaha lokal mendapat akses pasar yang nyata dan berkelanjutan.






