Capaian nasional belum menjamin pemerataan
Program Bedah Rumah atau Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) adalah bantuan pemerintah untuk membantu masyarakat memperbaiki rumah tidak layak huni melalui dukungan yang mendorong peran serta penerima. Hingga 26 Oktober, capaian program ini dilaporkan mencapai 70,9 persen. Angka tersebut menunjukkan kemajuan, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa bantuan telah menjangkau warga secara merata. Ukuran keberhasilan seharusnya bukan hanya berapa banyak bantuan disalurkan, melainkan juga apakah rumah selesai diperbaiki dan penerima memperoleh dukungan yang sesuai kebutuhannya. Kementerian PKP menargetkan pencairan kuota Jawa Barat, yang terbesar dengan 49.000 unit, dapat rampung pada akhir Oktober. Skala ini mencerminkan besarnya kebutuhan, tetapi juga menuntut pengawasan kuat agar percepatan tidak mengorbankan ketepatan sasaran.
Program ini merupakan bagian dari agenda pembangunan dan renovasi tiga juta rumah. Karena itu, bantuan rumah swadaya semestinya dipandang sebagai awal pemulihan kondisi hidup, bukan sekadar pekerjaan konstruksi. Pemerintah juga menyatakan perlunya pemberdayaan ekonomi, bantuan usaha, dan penyelesaian sertifikasi tanah bagi penerima yang memenuhi syarat. Pendekatan tersebut tepat: renovasi rumah lebih berdampak jika keluarga juga memiliki kepastian atas lahannya dan dukungan untuk memperkuat penghidupan. Namun, manfaat itu hanya akan terasa bila proses administrasi dan pelaksanaan di lapangan bergerak seirama.
Perbatasan membutuhkan dukungan logistik, bukan hanya target
Kementerian PKP mempercepat penyaluran bantuan perumahan, terutama di kawasan perbatasan dan daerah terpencil, dengan target menyelesaikan verifikasi serta penyaluran pada akhir Oktober. Untuk kuota yang dikelola Badan Nasional Pengelola Perbatasan, sekitar 14.500 dari 15.000 unit telah direkomendasikan sebagai penerima. Progres rekomendasi ini menjanjikan, tetapi rekomendasi belum sama dengan rumah yang selesai direnovasi. Di lokasi yang jauh, kendala transportasi dapat menentukan cepat atau lambatnya material tiba. Kementerian menyebut kebutuhan menyewa pesawat, speedboat, dan kapal kecil sebagai hambatan dalam menjangkau penerima.
Artinya, tenggat akhir Oktober tidak cukup bila tidak disertai dukungan logistik yang nyata. Pemerintah perlu memastikan biaya dan moda transportasi tersedia sebelum menetapkan jadwal pengerjaan, sekaligus memantau kemajuan hingga rumah benar-benar layak dihuni. Tanpa itu, percepatan berisiko berhenti pada angka usulan dan pencairan, sementara keluarga di wilayah paling sulit dijangkau tetap menunggu. Prioritas perbatasan patut dipertahankan, tetapi harus diterjemahkan menjadi kemampuan menjangkau lokasi, bukan sebatas perhatian dalam target nasional.

Kota Batu menjadi pengingat bahwa angka nasional menutupi ketertinggalan lokal
Perbandingan dengan Kota Batu memperlihatkan jurang yang tak bisa diabaikan. Hingga pertengahan Oktober, realisasi fisik BSPS di kota itu baru 28,25 persen: 100 dari 354 rumah yang mendapat alokasi telah terbangun. Kota Batu memperoleh anggaran Rp 7,08 miliar, tetapi realisasi fisiknya baru sekitar Rp 2 miliar. Angka nasional 70,9 persen dan capaian lokal tersebut memakai waktu pelaporan berbeda, sehingga bukan perbandingan pada tanggal yang persis sama. Meski begitu, ketertinggalan Batu tetap menjadi sinyal kuat bahwa laju pelaksanaan tidak merata dan membutuhkan tindak lanjut konkret.
Pemerintah pusat meminta percepatan agar target di Kota Batu tuntas sebelum akhir tahun dan mendorong pemerintah kota mengoptimalkan sisa waktu tahun anggaran. Permintaan itu perlu diikuti koordinasi yang jelas, pemetaan hambatan tiap lokasi, serta pelaporan rutin tentang rumah yang selesai—bukan hanya dana yang terserap. Jika percepatan dijalankan tanpa mengabaikan mutu bangunan dan ketepatan penerima, program bedah rumah dapat memenuhi tujuan sosialnya. Kesimpulannya, capaian 70,9 persen memberi alasan untuk optimistis, tetapi keberhasilan sesungguhnya baru terukur ketika ketertinggalan daerah seperti Kota Batu ditutup dan warga perbatasan menerima rumah yang layak.






