Pengalaman langsung memperkuat kesiapsiagaan
Edukasi kebencanaan guru adalah proses membekali pendidik dengan pengetahuan dan pengalaman praktis agar mereka mampu mengajarkan risiko bencana, kesiapsiagaan, serta tindakan yang tepat kepada siswa. Kunjungan langsung ke lembaga geologi dan vulkanologi membuat pembelajaran itu lebih kuat daripada sekadar mengandalkan buku. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, guru MTsN 7 Bantul mengikuti kunjungan edukasi untuk memperluas wawasan tentang kebencanaan, terutama aktivitas gunung api. Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dan mencakup Fakultas Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Pilihan belajar di luar madrasah ini tepat: guru yang memahami bagaimana bahaya dikenali dan dipantau dapat menjelaskan risiko dengan lebih konkret, tanpa berhenti pada istilah dan definisi.

Dari laboratorium geologi ke pemantauan Merapi
Di Fakultas Teknik Geologi UGM, para guru menerima paparan Prof. Esti Hardini mengenai fenomena gunung api, potensi bahayanya, dan pentingnya memahami karakter aktivitas vulkanik. Mereka juga mengunjungi laboratorium untuk melihat berbagai jenis batuan secara langsung—pengalaman yang menghubungkan materi kebumian dengan benda dan proses yang dapat diamati. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan ke BPPTKG untuk mempelajari potensi bahaya aktivitas Gunung Merapi, pemantauan, pengenalan ancaman, dan upaya mitigasi gunung api. Bagi pengajar, urutan ini bernilai: penjelasan ilmiah memperoleh konteks ketika disandingkan dengan laboratorium dan lembaga pemantau. Siswa kelak dapat diajak memahami bukan hanya bahwa gunung api berbahaya, tetapi juga mengapa pemantauan dan kesiapsiagaan diperlukan.
Guru IPS MTsN 1 Bantul belajar di BPPTKG
Upaya edukasi kebencanaan guru juga dilakukan perwakilan guru IPS MTsN 1 Bantul—Dra. Erna Radyanti, Budi Hartono, S.Pd., dan Mufaizah, S.Pd.—yang melanjutkan kunjungan ke BPPTKG setelah menyambangi Departemen Teknik Geologi UGM. Mereka datang bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran IPS Kabupaten Bantul untuk menimba wawasan kebencanaan yang dapat diteruskan kepada murid. Dalam sesi materi, narasumber BPPTKG Deri menjelaskan karakteristik Merapi, status aktivitas terkini, serta manajemen bencana dari tahap pra-bahaya hingga penanganan pascabencana. Para guru juga mengikuti tur kantor, melihat ruang monitor CCTV yang memantau Merapi secara langsung, dan menyaksikan dokumenter tentang erupsi dahsyat Merapi tahun 2010. Kunjungan BPPTKG semacam ini memberi guru gambaran nyata tentang bagaimana pengetahuan, pemantauan, dan tindakan tanggap saling berkaitan.
Bekal lapangan harus dibawa ke ruang kelas
Nilai utama kunjungan bukan pada banyaknya materi yang didengar, melainkan pada kemampuan guru mengubahnya menjadi pembelajaran kebencanaan yang berguna. Melihat batuan, ruang pemantauan, dan dokumentasi erupsi memberi pendidik contoh konkret untuk menghidupkan pelajaran IPS dan materi kebumian. Guru dapat membantu siswa mengaitkan karakter lingkungan dengan potensi ancaman, lalu membahas kesiapsiagaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Materi BPPTKG juga menekankan bahwa kesiapsiagaan memerlukan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku tanggap bencana. Namun, kunjungan hanya akan berdampak jika wawasan tersebut benar-benar diteruskan melalui kegiatan kelas yang kontekstual. Para guru diharapkan menyampaikan pengetahuan yang diperoleh agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengenali kondisi lingkungan dan potensi bencana di sekitarnya.
Kesiapsiagaan dimulai dari guru yang siap mengajar
Kunjungan para guru MTsN 7 dan MTsN 1 Bantul menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan tidak cukup diserahkan pada buku pelajaran atau penjelasan sesaat. Guru perlu memperoleh bekal yang akurat dan pengalaman langsung agar dapat mengajarkan risiko secara masuk akal, sekaligus menumbuhkan kesadaran tanpa menebar ketakutan. Pengalaman di UGM dan BPPTKG menyediakan bahan nyata untuk diskusi, contoh, dan pemahaman tentang langkah mitigasi. Langkah berikutnya ada di madrasah: mengolah pengetahuan lapangan menjadi pelajaran yang berulang, relevan, dan dapat dipahami siswa. Jika kunjungan berhenti sebagai agenda luar kelas, manfaatnya terbatas; jika dibawa masuk ke ruang belajar, ia dapat menjadi bagian dari budaya sadar bencana. Pada akhirnya, guru yang lebih siap memberi siswa bekal lebih baik untuk mengenali bahaya dan meresponsnya.






