Penghargaan yang menandai perubahan cara mengajar
Inovasi pembelajaran digital adalah penggunaan teknologi dan media interaktif untuk membantu siswa memahami materi melalui pengalaman yang lebih aktif, menarik, dan sesuai kebutuhan mereka. Penghargaan bagi dua guru madrasah pada 2026 memperlihatkan bahwa perubahan itu dapat berangkat dari gagasan guru, bukan semata dari perangkat baru. Eko Himawan, guru MIN 1 Sumenep, meraih Juara 1 Kompetisi Nasional Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi (IT) 2026 setelah memperoleh nilai tertinggi di antara finalis. Sementara itu, Rachmita Aulia Mekatronika Arifin, guru MTsN 6 Malang, mendapat Best 2 Kategori Inovasi Media dalam kompetisi nasional yang sama. Dua capaian tersebut penting bukan karena pialanya, melainkan karena keduanya memberi contoh bahwa media pembelajaran IT dapat dirancang dekat dengan kebutuhan belajar di kelas.
Kompetisi ini digelar melalui kerja sama MGMP Informatika madrasah di Jawa Timur dengan Departemen Teknologi Informasi ITS. Penghargaan Eko diserahkan pada 4 November 2026 oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar. Namun, pengakuan publik hanya menjadi awal. Ukuran keberhasilan yang lebih berarti adalah apakah media tersebut dipakai secara konsisten dan membantu siswa memahami pelajaran, bukan berhenti sebagai karya presentasi.

Media digital perlu menjawab kebutuhan siswa
Kemenangan Eko menegaskan bahwa media belajar digital bernilai ketika teknologi memperbaiki pengalaman belajar, bukan sekadar menambahkan layar ke kelas. Kompetisi tersebut mempertemukan inovator pendidikan dari berbagai daerah dan menilai karya yang kreatif, interaktif, serta sesuai perkembangan teknologi. Pendekatan ini layak didorong: siswa dapat lebih tertarik saat materi disampaikan dengan cara yang memberi ruang untuk berinteraksi, sementara guru memperoleh pilihan baru untuk menyesuaikan penyajian dengan kebutuhan kelas. Eko menyebut penghargaan itu sebagai dorongan untuk terus menghadirkan media yang adaptif dan menyenangkan. Sikap tersebut lebih penting daripada mengejar teknologi paling mutakhir. Media yang sederhana tetapi relevan dan digunakan berulang kali bisa memberi manfaat lebih besar daripada aplikasi canggih yang hanya muncul saat lomba.
Tantangan setelah kompetisi adalah memastikan karya inovatif masuk ke praktik mengajar sehari-hari. Sekolah dan madrasah perlu memberi ruang bagi guru untuk menguji media, menerima masukan siswa, lalu memperbaikinya. Tanpa tindak lanjut seperti itu, penghargaan hanya mencatat prestasi individu dan belum tentu mengubah pengalaman belajar. Karena itu, capaian Eko sebaiknya dibaca sebagai ajakan untuk menyebarkan praktik baik dan membangun kebiasaan berbagi antarpendidik.
PEKA membuat peluang matematika bisa dieksplorasi
Karya Rachmita menunjukkan bagaimana inovasi pembelajaran matematika dapat berfokus pada pemahaman konsep, bukan hanya latihan hitung. PEKA, singkatan dari Penjelajah Kemungkinan dan Peluang, merupakan media matematika berbasis web untuk materi peluang. Siswa dapat menjalankan simulasi, mengamati kemungkinan hasil percobaan, dan mempelajari konsep melalui aktivitas interaktif. Dengan demikian, peluang tidak hanya hadir sebagai rumus di papan tulis; siswa dapat melihat bagaimana hasil percobaan membantu menjelaskan konsep. Platform ini juga dilengkapi fitur TUP-AI sebagai pendukung pembelajaran. Rachmita mengembangkan PEKA atas inisiatif pribadi untuk memanfaatkan teknologi sekaligus membawa nama MTsN 6 Malang.
Skala kompetisi memberi konteks pada capaian itu: dari 202 peserta, 20 orang terpilih sebagai finalis untuk mempresentasikan karya, dan Rachmita meraih Best 2 Kategori Inovasi Media. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa materi matematika dapat menjadi fokus inovasi yang konkret. Nilai PEKA bukan hanya pada bentuk webnya, melainkan pada pergeseran dari penjelasan dan perhitungan semata menuju eksplorasi siswa. Agar manfaatnya nyata, guru tetap perlu mengaitkan simulasi dengan tujuan pelajaran dan memandu siswa menafsirkan hasil.
Dari prestasi menuju praktik kelas yang berkelanjutan
Eko dan Rachmita memperlihatkan dua arah inovasi yang saling melengkapi: media digital untuk memperkaya pengalaman belajar secara umum dan perangkat khusus untuk membantu memahami konsep matematika. Keduanya juga menunjukkan bahwa guru madrasah berprestasi bukan hanya penerima teknologi, tetapi dapat menjadi perancangnya. Namun, penghargaan nasional belum otomatis membuktikan dampak belajar jangka panjang. Sekolah perlu memastikan media mudah diakses, relevan dengan kondisi siswa, dan terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran, sementara guru memerlukan kesempatan untuk berbagi dan memperbaiki karyanya.
Kesimpulannya, prestasi kedua guru ini patut diapresiasi sebagai bukti kreativitas pendidik madrasah, tetapi keberhasilan akhirnya harus diukur di ruang kelas. Media belajar digital dan inovasi pembelajaran matematika akan berarti ketika digunakan secara berkelanjutan, membantu siswa memahami materi, dan mendorong mereka aktif mengeksplorasi. Piala membuka perhatian; penerapan sehari-hari yang menentukan dampaknya.






