Uji ekstrem mengungkap titik rawan
iPhone Duo adalah ponsel lipat pertama Apple, dengan layar fleksibel dan engsel yang memungkinkan perangkat dibuka serta dilipat untuk berpindah antara bentuk ponsel dan layar yang lebih luas. Bagi calon pembeli, kabar utamanya bukan bahwa perangkat ini pasti rapuh, melainkan bahwa desain lipat memiliki titik rawan yang terlihat dalam pengujian tertentu. Zack Nelson dari kanal YouTube JerryRigEverything menguji ketahanan iPhone Duo terhadap goresan, debu, pasir, dan tekanan fisik. Dalam tes pasir dan tanah, partikel masuk melalui celah pada engsel berbahan titanium hingga kedua sisi perangkat tidak dapat menutup sempurna. Magnet penutup tidak mampu mengatasi butiran yang terselip. Meski uji tersebut tergolong ekstrem, risikonya relevan bagi orang yang sering memakai ponsel di pantai atau lingkungan berdebu: perlindungan terhadap air dan debu tidak berarti engsel bebas dari partikel yang menghambat gerak.

Layar fleksibel bukan berarti kebal
Uji yang sama memperlihatkan batas lain: saat perangkat ditekuk berlawanan dengan arah lipatan normal, rangkanya tidak patah, tetapi panel AMOLED bagian dalam mengalami kerusakan permanen. Kerusakan dimulai dengan garis hijau, lalu meluas hingga layar kehilangan respons sentuh dan input lain. Ini bukan simulasi pemakaian wajar, sehingga hasilnya tidak membuktikan layar iPhone Duo akan mudah rusak dalam penggunaan sehari-hari. Namun, tes itu memperjelas bahwa panel fleksibel lebih sensitif terhadap tekanan yang salah arah daripada rangka. Lapisan nano-tekstur membantu menyamarkan goresan dan garis lipatan, tetapi bukan jaminan ketahanan terhadap tekanan. Untuk pemilik, pelajaran praktisnya sederhana: hindari menekan atau menekuk layar bagian dalam secara berlebihan, terutama ketika perangkat terbuka. Sementara itu, layar luar dengan Ceramic Shield 2 menunjukkan ketahanan gores yang relatif sebanding dengan layar iPhone pada umumnya.
Pembongkaran memberi konteks, bukan vonis
Pembongkaran iFixit menambahkan gambaran tentang konstruksi yang berada di balik risiko tersebut. Layar internal memakai lapisan nano-tekstur matte untuk mengurangi pantulan dan membantu menyamarkan lipatan. Pemeriksaan mikroskop menunjukkan subpiksel berbentuk oval yang tersusun dalam berbagai sudut; susunan itu diduga membantu mengurangi gangguan visual. Di sisi lain, mekanisme engsel yang kompleks menjadi bagian yang perlu dicermati ketika menilai ketahanan perangkat. Penilaian kemudahan perbaikannya adalah 5 dari 10—hasil terbaik di antara ponsel lipat yang pernah dinilai situs itu, tetapi tetap bukan nilai tinggi. Rincian ini berguna untuk memahami kompromi desain, bukan untuk menyatakan bahwa konstruksi engsel pasti cacat. Pembongkaran dapat menunjukkan bagaimana layar dan engsel dirancang, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan penyebab kerusakan pada unit tertentu.
Laporan retak perlu dibaca dengan hati-hati
Terpisah dari uji ekstrem dan pembongkaran, laporan pengguna menyebut layar internal retak di sepanjang garis tengah, disertai piksel putih horizontal yang tidak lagi berubah. Sejumlah laporan muncul tak lama setelah penjualan dimulai; beberapa pengguna mengklaim retakan terjadi saat pengaturan awal. Ada pula dugaan bahwa komponen di dalam engsel mungkin bergeser dan menekan layar, tetapi itu masih hipotesis berdasarkan laporan pengguna, bukan penyebab yang dikonfirmasi Apple atau pemasoknya. Jumlah laporan yang terkonfirmasi secara daring tidak cukup untuk menghitung tingkat kerusakan tanpa data jumlah unit terjual. Karena itu, calon pembeli sebaiknya tidak menyamakan laporan awal dengan bukti bahwa masalah berlaku pada semua perangkat. Namun, sinyal tersebut tetap layak diperhitungkan: tanyakan cakupan garansi dan layanan perbaikan sebelum membeli, dan periksa layar serta gerak engsel sejak penggunaan awal. Kesimpulannya, iPhone Duo menuntut kehati-hatian lebih di sekitar debu dan tekanan pada layar lipat; bukti yang tersedia menunjukkan risiko, bukan kepastian kerusakan massal.







