Literasi keuangan sekolah: dari kelas teori menjadi kebiasaan mengelola uang
Literasi keuangan sekolah adalah upaya sistematis memasukkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan mengelola uang ke dalam pembelajaran formal, sehingga siswa sejak usia dini memahami tabungan, pengeluaran, layanan keuangan digital, hingga risiko dan pilihan finansial yang akan mereka hadapi sepanjang hidup. Fokusnya bukan sekadar mengenal bank, tetapi membentuk kebiasaan mengambil keputusan uang secara sadar dan bertanggung jawab. Karena itu, langkah bank dan regulator memperluas program edukasi uang siswa ke ratusan sekolah patut dibaca sebagai strategi jangka panjang, bukan kegiatan seremonial. Literasi keuangan yang kuat akan menentukan apakah generasi muda tumbuh sebagai konsumen impulsif atau warga yang mampu merencanakan masa depan. Jika sekolah abai pada topik ini, maka anak belajar tentang uang dari media sosial dan iklan, bukan dari kurikulum yang terarah.
Bank Sumut dan program OJK Bank Goes to School: skala yang mulai terasa
Penghargaan OJK bank goes to school kepada Bank Sumut bukan sekadar plakat di atas meja, tetapi pengakuan atas skala intervensi ke ruang kelas. Selama Agustus 2025–Agustus 2026, Bank Sumut menyelenggarakan 162 kegiatan literasi keuangan melalui kolaborasi dengan 143 sekolah dan dukungan 68 unit kantor, menjangkau 208 satuan pendidikan dari TK hingga SMA/SMK. Direktur Utama Heru Mardiansyah menegaskan bahwa tujuan mereka adalah membuat pelajar memahami pentingnya menabung, mengelola uang, serta memanfaatkan layanan keuangan digital secara bertanggung jawab. Di sisi regulator, Triyoga Laksito mengingatkan bahwa literasi keuangan adalah mandat bagi seluruh pelaku jasa keuangan, seiring makin luasnya akses masyarakat ke produk keuangan dan indeks literasi Sumatera Utara yang sudah mencapai 71,57 persen, di atas rata-rata nasional. Kalimat ini layak dikutip: "Lembaga jasa keuangan tidak hanya memberikan layanan kepada masyarakat, tetapi juga memiliki kewajiban menjalankan program literasi dan edukasi agar produk keuangan dipahami serta dimanfaatkan secara tepat."
Bahan ajar keuangan gratis di Rumah Pendidikan: saat kurikulum ikut bicara soal uang
Langkah paling strategis dalam literasi keuangan sekolah bukan pada seminar sehari, melainkan pada kurikulum yang konsisten. Di sinilah kerja sama Kemendikdasmen dan OJK menyediakan bahan ajar keuangan gratis melalui platform Rumah Pendidikan menjadi titik balik. Bahan ajar ini mengintegrasikan literasi keuangan ke dalam berbagai konteks pembelajaran: pengelolaan keuangan pribadi, lembaga keuangan, perekonomian digital, perencanaan finansial, investasi, pinjaman, hingga pengelolaan anggaran. Materi seperti “Mengelola Keuangan Pribadi”, “Manajemen Keuangan Kegiatan Kepanitiaan”, “Perekonomian Digital”, dan “Analisis Data dan Peluang” dikembangkan Pusat Kurikulum bersama OJK dan tersedia sebagai perangkat ajar di Ruang Guru dan Tenaga Kependidikan. Menteri Abdul Mu’ti menekankan bahwa buku literasi keuangan syariah yang disusun OJK dapat diakses murid, guru, dan masyarakat secara gratis, dan diharapkan mendorong produktivitas, inklusi, serta kemajuan ekonomi dengan ekonomi syariah sebagai salah satu pilarnya. Tanpa bahan ajar yang terstruktur, literasi keuangan mudah turun menjadi ceramah normatif tentang “hemat” yang murid lupakan begitu keluar kelas.

Keuangan digital dan keuangan syariah generasi muda: mengajarkan risiko, bukan sekadar fitur
Realitas finansial siswa hari ini adalah dompet digital, paylater, dan investasi satu klik. Karena itu, program edukasi uang siswa yang digerakkan bank dan OJK wajib mengangkat pengelolaan uang digital, bukan hanya menabung di buku tabungan. Heru Mardiansyah menyebut pentingnya memanfaatkan layanan keuangan digital secara bertanggung jawab, sementara bahan ajar Kemendikdasmen–OJK memasukkan perekonomian digital dan analisis data ke dalam materi. Di sisi lain, keuangan syariah generasi muda tidak lagi ditempatkan sebagai alternatif pinggiran. Abdul Mu’ti mengapresiasi OJK sebagai mitra pengembangan ekonomi syariah melalui pendidikan, sedangkan Dicky Kartikoyono menyatakan tujuan kolaborasi adalah menyusun strategi besar agar siswa pendidikan dasar menengah memahami keuangan syariah sejak muda. Ferry Juliantono berharap ekosistem ini melahirkan calon wirausahawan muda yang memanfaatkan dan mengembangkan ekonomi syariah. Mengajarkan fitur tanpa membahas risiko dan nilai-nilai akan meninggalkan murid bingung di tengah banjir tawaran produk digital dan syariah.
Kolaborasi lintas institusi: dari lomba ke strategi nasional literasi uang
ISFO 2026 menunjukkan bahwa literasi keuangan bisa menjadi ajang kompetisi sekaligus laboratorium kebijakan. Sebanyak 11.952 peserta dalam 4.030 tim mengikuti rangkaian kegiatan ini, dengan pertumbuhan peserta sekitar 12 persen dan tim 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Namun angka itu baru bermakna jika dikaitkan dengan strategi besar: bank daerah aktif lewat OJK bank goes to school, regulator menyusun indeks literasi dan inklusi keuangan, Kemendikdasmen menyiapkan bahan ajar dan pelatihan guru, serta Kementerian Koperasi dan Masyarakat Ekonomi Syariah mendorong wirausaha muda. Heru Mardiansyah menegaskan bahwa peningkatan literasi keuangan adalah investasi jangka panjang, dan program akan terus diperluas melalui sinergi dengan OJK, pemda, institusi pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan. OJK pun berkomitmen memantau indeks literasi dan inklusi sebagai indikator efektivitas program. Kesimpulannya, jika kolaborasi ini konsisten, kita sedang membangun generasi yang mengerti uang sebelum uang menguasai mereka—dan sekolah menjadi titik awal yang paling masuk akal.





