Bekal keuangan dan digital untuk masa depan
OJK Digiclass adalah program edukasi interaktif yang memadukan literasi keuangan dan kreativitas digital untuk membantu pelajar memakai teknologi dengan cerdas, aman, dan produktif. Pada Selasa, 27 Oktober 2026, Otoritas Jasa Keuangan menggelar program bertema “Saatnya Berkarya, Ciptakan Prestasi” di Sekolah Rakyat Menengah Atas Jakarta, dengan sekitar 500 pelajar sebagai peserta. Kegiatan ini bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda dan menempatkan kecakapan praktis sebagai pelengkap pembelajaran di kelas. Langkah ini tepat: anak muda tak cukup hanya bisa mengakses layanan digital dan keuangan; mereka perlu memahami cara menggunakannya, menilai risikonya, serta menjadikannya sarana berkarya. Bagi pelajar Sekolah Rakyat, bekal tersebut dapat membantu menghubungkan cita-cita dengan peluang nyata, tanpa mengabaikan keamanan.
Materi OJK Digiclass menggabungkan pemahaman pengelolaan keuangan dengan kecakapan digital siswa. Di sisi keuangan, tujuannya ialah membangun kebiasaan mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab saat berhadapan dengan produk maupun layanan keuangan. Di sisi digital, pelajar didorong memanfaatkan teknologi secara aman dan produktif, sekaligus mengembangkan potensi melalui kreativitas. Kombinasi ini lebih relevan daripada edukasi yang hanya mengajarkan akses: kemampuan berkarya perlu berjalan bersama kemampuan melindungi diri dan mengelola hasilnya. Dengan begitu, literasi keuangan pelajar bukan sekadar istilah, melainkan bekal untuk memahami pilihan dan konsekuensi yang menyertai aktivitas sehari-hari.

Akses luas belum berarti pemahaman cukup
Alasan edukasi sejak dini terlihat dari angka survei yang dikutip dalam laporan kegiatan. Indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa tercatat 62,72 persen, di bawah indeks nasional sebesar 69,57 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa mencapai 92,76 persen. Artinya, akses ke layanan keuangan relatif luas, tetapi pemahaman belum menyusul pada tingkat yang sama. Kesenjangan ini penting karena akses tanpa pengetahuan dapat membuat pengguna sulit menilai manfaat, biaya, dan risiko sebelum mengambil keputusan. Karena itu, pendidikan keuangan bagi siswa semestinya hadir sebelum mereka menghadapi pilihan yang lebih rumit, bukan setelah masalah terjadi. Digiclass memberi perhatian pada kebutuhan tersebut, meski satu kegiatan tentu bukan pengganti edukasi yang berkelanjutan.
Risiko digital juga bukan persoalan abstrak bagi remaja. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan edukasi diberikan sebagai bentuk perlindungan agar anak muda tidak menjadi korban penipuan atau scam. Pesan ini seharusnya diterjemahkan menjadi kebiasaan konkret: memeriksa informasi sebelum bertindak, berhati-hati terhadap tawaran yang meragukan, serta tidak mudah membagikan data pribadi. Kecakapan digital siswa juga mencakup sikap kritis ketika menerima dan menggunakan informasi, termasuk saat memakai kecerdasan buatan. Teknologi membuka ruang belajar dan berkarya, tetapi manfaat itu hanya bertahan jika pelajar mampu mengenali batas, risiko, dan tanggung jawab penggunaannya.

Dari kelas interaktif menuju kebiasaan
Nilai program ini pada akhirnya bergantung pada apa yang dibawa pulang peserta setelah kelas selesai. Edukasi yang interaktif dapat menjadi awal yang baik, tetapi kebiasaan mengelola keuangan dan memeriksa keamanan informasi perlu dilatih berulang kali di sekolah maupun di rumah. Pelajar perlu memperoleh ruang untuk bertanya, mencoba, dan membahas contoh risiko digital yang dekat dengan kehidupan mereka. Dengan cara itu, pelajaran tidak berhenti sebagai pesan umum tentang kehati-hatian, tetapi berubah menjadi kemampuan yang bisa digunakan saat mengambil keputusan.
OJK menyatakan akan memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas edukasi keuangan serta meningkatkan kecakapan digital masyarakat. Kelanjutan seperti ini penting agar jangkauan program tidak berhenti pada sekitar 500 peserta di satu kegiatan. Namun, ukuran keberhasilan sebaiknya bukan hanya jumlah siswa yang hadir; perubahan pemahaman dan kebiasaan juga perlu menjadi perhatian. Kesimpulannya, OJK Digiclass mengisi kebutuhan nyata di Sekolah Rakyat: mempertemukan pengetahuan keuangan dengan keterampilan digital di tengah akses yang luas dan risiko yang terus berkembang. Jika edukasi diteruskan secara konsisten dan praktis, pelajar akan lebih siap menggunakan teknologi dengan aman sekaligus mengubah kreativitas menjadi peluang.






