Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mahasiswa Bawa Literasi Keuangan Praktis ke Sekolah Menengah

Mahasiswa Bawa Literasi Keuangan Praktis ke Sekolah Menengah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi Keuangan Siswa: Bukan Tambahan, Tapi Kebutuhan Pokok

Literasi keuangan siswa adalah kemampuan pelajar memahami, mengelola, dan mengambil keputusan terkait uang—mulai dari kas kelas, usaha kecil, hingga investasi—dengan memadukan pengetahuan dasar, sikap bertanggung jawab, dan penggunaan alat digital agar keuangan sekolah dan pribadi tertata, transparan, serta mendukung masa depan finansial mereka. Program pengabdian masyarakat mahasiswa UBSI Kampus Tegal menjadikan gagasan ini nyata di ruang-ruang kelas SMP dan SMK melalui rangkaian kegiatan yang terstruktur dan terukur. Alih-alih sekadar teori, mereka membawa praktik manajemen kas kelas, pembukuan usaha kecil, dan edukasi investasi sekolah langsung ke tangan siswa. Pendekatan ini tegas menyatakan: kurikulum sekolah menengah yang mengabaikan literasi keuangan sedang membiarkan generasi muda belajar uang lewat trial and error yang mahal.

Kas Kelas Digital: Laboratorium Kejujuran dan Transparansi

Kas kelas sering dianggap urusan sepele, padahal di sanalah banyak siswa pertama kali bersentuhan dengan praktik keuangan kolektif. Di kelas 8B SMPN 14 Tegal, 30 siswa diajak melihat kas kelas sebagai fondasi kebersamaan yang membiayai kebutuhan sosial, bukan sekadar iuran rutin tanpa arah. Mahasiswa UBSI Tegal mengubah kotak uang dan buku tulis menjadi sistem manajemen kas kelas digital berbasis Microsoft Excel, lengkap dengan template yang otomatis menghitung saldo dan meminimalkan salah hitung. Di titik ini, literasi keuangan siswa bukan lagi slogan; mereka belajar akuntabilitas, transparansi, dan disiplin lewat angka yang bisa diperiksa bersama. Perbandingan pencatatan manual dan digital dibahas secara kritis, menunjukkan bahwa kertas yang mudah hilang tidak sebanding dengan data yang rapi dan bisa diaudit. Jika sekolah serius ingin menanamkan kejujuran, kas kelas digital adalah tempat memulainya.

Pembukuan Usaha Kecil: Dari Cuan Tercatat ke Mindset Wirausaha

Di SMK Al-Irsyad Tegal, 38 siswa akuntansi diajak keluar dari jebakan teori akuntansi yang kering dan masuk ke dunia pembukuan usaha kecil yang konkret. Mahasiswa UBSI membawa template pembukuan digital berbasis Excel dan studi kasus transaksi usaha, memaksa siswa memisahkan kas pribadi dan kas usaha, menghitung keuntungan, serta harga pokok penjualan secara sistematis. "Kami ingin siswa terbiasa mencatat keuangan sejak dini dan memisahkan uang pribadi dengan uang usaha," tegas ketua pelaksana Vivi Dwi Apriliani Saras Wati. Sikap disiplin, jujur, mandiri, dan bertanggung jawab finansial tidak diajarkan lewat nasihat, tetapi lewat baris-baris data yang harus diisi dengan teliti. Ketika ketua program studi akuntansi sekolah menilai template itu bisa mencegah pemborosan dan menertibkan usaha kecil siswa, jelas bahwa pengabdian masyarakat mahasiswa telah menutup celah antara kurikulum dan realitas bisnis kecil yang banyak digeluti remaja.

Mahasiswa Bawa Literasi Keuangan Praktis ke Sekolah Menengah

Edukasi Investasi Sejak Sekolah: Menabung Akal Sehat, Bukan Hanya Uang

Jika kas kelas dan pembukuan usaha kecil menyentuh keuangan hari ini, edukasi investasi sekolah menyasar masa depan. Di SMK Ihsaniyah Tegal, 31 siswa kelas X AKL 2 diajak mengenali investasi sejak bangku sekolah melalui tema "Kenali Investasi Sejak Sekolah, Cerdas Mengelola Uang untuk Masa Depan". Mahasiswa UBSI Tegal tidak menjual mimpi cepat kaya; mereka menekankan perencanaan keuangan, kebiasaan menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami risiko sebelum menempatkan uang pada instrumen investasi. Siswa juga dilatih kritis terhadap tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal dan diajak menjauhi skema ilegal. Di sini, literasi keuangan siswa berarti kemampuan berkata “tidak” pada jebakan finansial, bukan hanya tahu definisi saham atau reksa dana. Pengabdian masyarakat mahasiswa berubah menjadi pelindung mental finansial generasi muda, mengajarkan bahwa keputusan investasi yang buruk bisa merusak masa depan lebih lama daripada nilai ujian yang jelek.

Mahasiswa Bawa Literasi Keuangan Praktis ke Sekolah Menengah

Mengapa Literasi Keuangan Harus Masuk Inti Kurikulum Sekolah Menengah

Total, lebih dari 99 siswa SMP dan SMK terlibat dalam rangkaian pengabdian masyarakat mahasiswa UBSI Tegal yang berfokus pada literasi keuangan siswa, mulai dari kas kelas, pembukuan usaha kecil, hingga investasi dasar. Fakta bahwa kegiatan ini diintegrasikan dengan mata kuliah Character Building menunjukkan bahwa keuangan bukan hanya soal angka, tetapi karakter dan pilihan hidup. Selama ini, kurikulum sekolah menengah cenderung menunda pembelajaran finansial sampai siswa berhadapan langsung dengan gaji pertama, utang konsumtif, atau usaha yang kacau. Program ini membuktikan bahwa pendekatan praktis dan digital mampu mengubah kelas menjadi laboratorium keuangan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya tegas: jika sekolah ingin menyiapkan siswa menghadapi dunia kerja, usaha, dan risiko finansial, literasi keuangan harus diperlakukan setara dengan matematika dan bahasa—bukan sebagai ekstra kurikuler yang mudah diabaikan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!