Perpustakaan keliling sekolah: definisi dan alasan menjadi prioritas
Perpustakaan keliling sekolah adalah layanan perpustakaan berbasis kendaraan yang membawa koleksi buku langsung ke sekolah dasar dan permukiman, terutama di daerah yang belum memiliki ruang perpustakaan memadai, sehingga akses literasi daerah tidak bergantung pada bangunan fisik, melainkan pada mobil perpustakaan program yang dapat berpindah dari satu titik ke titik lain secara terjadwal. Dalam konteks kesenjangan fasilitas antar sekolah, perpustakaan keliling bukan sekadar pelengkap, tetapi instrumen utama layanan perpustakaan SD di banyak wilayah. Ketika ruang perpustakaan sulit disediakan dan anggaran terbatas, mobil perpustakaan keliling menjadi kompromi realistis: koleksi tetap bergerak, meski gedung tidak ada. Karena itu, kebijakan literasi yang mengabaikan perpustakaan keliling berarti membiarkan ribuan siswa tumbuh tanpa pengalaman rutin berinteraksi dengan buku.
Bogor: literasi kelautan menunjukkan potensi perpustakaan keliling tematik
Contoh paling menarik dari mobil perpustakaan program datang dari kolaborasi PT Pertamina International Shipping (PIS) dengan dinas arsip dan perpustakaan di Kabupaten Bogor. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Ocean LiteraSEA, PIS merevitalisasi tiga Mobil Perpustakaan Keliling dengan fokus literasi kelautan. Revitalisasi ini bukan sekadar mengecat ulang kendaraan, tetapi mencakup perbaikan mesin, pengadaan alat pemindai barcode, pemindahan videotron, dan pengisian buku-buku bertema laut. Menurut Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, edukasi kelautan perlu ditanamkan sejak dini untuk membangun kepedulian generasi muda terhadap laut. Pernyataan ini menegaskan bahwa perpustakaan keliling sekolah bisa diarahkan menjadi medium pendidikan tematik yang strategis, bukan hanya gudang buku umum. Lebih jauh, mobil ini dirancang menjangkau sekolah dan permukiman, sehingga anak-anak dapat mengakses bacaan tentang laut di sekolah maupun dekat rumah.

Bantul: ketika perpustakaan keliling menambal ketimpangan fasilitas
Gambaran kontras muncul di Bantul, di mana layanan perpustakaan SD masih jauh dari merata. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan setempat mengakui bahwa perpustakaan sekolah dasar di kabupaten ini belum seragam: ada yang layak, ada yang belum. Keterbatasan ruang di sekolah dan desa membuat pembangunan perpustakaan permanen sulit dilakukan. Di tengah kondisi ini, perpustakaan keliling sekolah menjadi penopang utama akses literasi daerah. Melalui layanan perpustakaan keliling, sekitar 200 judul buku dibawa dan dipinjamkan ke sekolah, lalu diganti dengan koleksi baru setelah masa peminjaman berakhir. Layanan mandiri memungkinkan sekolah datang langsung ke dinas untuk meminjam jumlah buku yang sama. Kedua skema ini jelas bukan kemewahan, melainkan upaya darurat untuk memastikan siswa tetap punya bahan bacaan di tengah fasilitas yang belum ideal.
Tantangan anggaran dan infrastruktur: mobil ada, tapi sulit bergerak
Meski terbukti penting, perpustakaan keliling sering terjebak dalam paradoks: kendaraan ada, kebutuhan besar, tetapi anggaran dan infrastruktur tidak mendukung. Di Bantul, layanan perpustakaan keliling hanya bisa berjalan satu hingga dua kali sepekan karena keterbatasan anggaran operasional dan bahan bakar. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses literasi daerah bukan hanya soal punya mobil, tetapi soal kemampuan mengoperasikannya secara rutin. Di tingkat nasional, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar, menegaskan bahwa tantangan utama literasi kelautan adalah membangun akses, sehingga revitalisasi mobil perpustakaan keliling bersama PIS dipandang sebagai instrumen penting untuk mengakses bacaan bertema kelautan. Tanpa dukungan anggaran yang stabil, perpustakaan keliling berisiko menjadi simbol kosong: program ada di atas kertas, tetapi jarang menyentuh halaman sekolah.
Solusi: menjadikan perpustakaan keliling sebagai pilar kebijakan literasi
Jika perpustakaan keliling sudah terbukti menjadi solusi strategis untuk menjangkau sekolah dasar yang belum memiliki perpustakaan memadai, maka langkah logis berikutnya adalah mengangkatnya menjadi pilar kebijakan, bukan proyek sampingan. Di Bantul, pemerintah daerah merencanakan program literasi yang didanai APBD pada tahun depan dan berharap dukungan koleksi buku dari anggota dewan untuk memperluas akses bacaan. Ini sinyal positif, tetapi harus diikuti keberanian mengalokasikan anggaran operasional yang cukup agar mobil benar-benar bergerak secara teratur. Di sisi lain, model Bogor dengan literasi kelautan menunjukkan bahwa kemitraan sektor swasta bisa memperkuat layanan perpustakaan SD dan memperluas jangkauan ke permukiman. Kesimpulannya, masa depan akses literasi daerah bergantung pada sejauh mana pemerintah dan mitra mau menganggap perpustakaan keliling sebagai kebutuhan dasar pendidikan, bukan sekadar program seremonial.






