Pendampingan yang membuka jalan kembali ke sekolah
Program Sekolah Rakyat adalah layanan pendidikan dan pemulihan terpadu bagi anak dari keluarga paling rentan, yang menghubungkan kegiatan belajar dengan dukungan kesehatan, gizi, dan pemberdayaan keluarga. Setelah beroperasi lebih dari satu tahun, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut program ini telah mendampingi dan memulihkan lebih dari 44.000 anak di seluruh Indonesia. Capaian itu mencakup anak yang pernah hidup di jalanan dan mengamen, anak putus sekolah, serta mereka yang bekerja sebagai kuli bangunan atau pembantu rumah tangga. Sebagian bahkan belum pernah bersekolah; ada pula remaja berusia 17–18 tahun yang belum bisa membaca dan perlu menjalani rehabilitasi serta penyetaraan lebih dahulu. Angka 44 ribu memberi gambaran luasnya jangkauan, tetapi ukuran keberhasilan selanjutnya ialah apakah anak-anak tersebut dapat bertahan belajar dan memperoleh jalan yang lebih aman menuju masa depan.
Pendidikan perlu ditopang kebutuhan sehari-hari
Anak jalanan sekolah tidak cukup dibantu dengan kursi belajar dan pelajaran. Ketika keluarga menghadapi kemiskinan, kebutuhan pangan, kesehatan, dan tempat tinggal dapat menentukan apakah anak mampu hadir dan terus belajar. Karena itu, pendekatan Sekolah Rakyat patut dinilai dari keterpaduan layanannya, bukan semata jumlah sekolah atau peserta. Program ini menyasar anak dari keluarga pada Desil 1–4 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional dan menggabungkan akses pendidikan gratis dengan Makan Bergizi Gratis, pemeriksaan kesehatan gratis, kepesertaan PBI-JK, serta pemberdayaan orang tua. Rangkaian dukungan itu memberi peluang agar beban dasar keluarga tidak seluruhnya jatuh pada anak. Namun, keberlanjutan pendampingan tetap penting: akses masuk sekolah adalah langkah awal, sedangkan pemulihan kemampuan belajar dan kehadiran yang konsisten memerlukan perhatian jangka panjang.
Hunian keluarga ikut menentukan akses belajar
Komitmen Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menyiapkan lahan untuk rumah orang tua siswa menunjukkan bahwa dukungan pendidikan juga perlu melihat kondisi keluarga. Bupati Syaharuddin Alrif menyampaikan, dari 500 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 di Sidrap, sekitar 200 memiliki orang tua yang belum mempunyai rumah. Pemkab menawarkan beberapa lahan, termasuk yang berada dekat sekolah dan di sejumlah kecamatan, serta siap berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan kementerian atau lembaga terkait untuk membahas teknis rencana pembangunan. Rencana ini belum sama dengan rumah yang sudah terbangun; tahap koordinasi dan tindak lanjut akan menentukan dampaknya. Meski demikian, arah kebijakannya tepat: tempat tinggal yang layak dapat membantu keluarga menjaga kestabilan, sehingga anak lebih mungkin memperoleh lingkungan yang mendukung pendidikan.
Capaian harus diikuti mutu dan tindak lanjut
Skala program sudah meluas: terdapat 182 titik Sekolah Rakyat, terdiri atas 100 sekolah permanen—93 telah digunakan dan tujuh masih dibangun—serta 82 sekolah rintisan. Sulawesi Selatan memiliki sembilan lokasi yang beroperasi dan empat lokasi baru yang akan dibangun, menjadikannya wilayah dengan titik terbanyak di luar Jawa menurut keterangan Mensos. Perluasan memberi lebih banyak anak kesempatan mengakses pendidikan, tetapi angka lokasi sebaiknya berjalan beriringan dengan mutu pengajaran, pendampingan, dan dukungan keluarga. Untuk Sidrap, tindak lanjut atas lahan yang ditawarkan akan menjadi ukuran penting apakah komitmen hunian berubah menjadi bantuan nyata. Sekolah Rakyat memiliki dasar yang menjanjikan: memulihkan anak sekaligus memperhatikan rumah tangganya. Keberhasilan akhirnya bukan hanya 44 ribu anak yang terjangkau, melainkan pendidikan yang dapat mereka lanjutkan dengan dukungan keluarga yang memadai.






