Pendidikan yang menjangkau seluruh keluarga
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan bagi anak dari keluarga paling marjinal yang memadukan pembelajaran siswa dengan pemberdayaan ekonomi orang tua untuk membantu memutus rantai kemiskinan. Empat sekolah menerima penghargaan sebagai Penyelenggara Sekolah Rakyat Terbaik dalam Mandaya Awards 2026, yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat pada 27 Oktober. Penerimanya ialah SRT 1 Kabupaten Kediri, SRT 1 Kabupaten Takalar, SRT 1 Kabupaten Bogor, dan SRMA 14 Bandung Barat. Pengakuan ini penting bukan semata sebagai penghargaan bagi sekolah, melainkan sebagai tanda bahwa pendidikan lebih berpeluang mengubah nasib ketika dukungannya tidak berhenti di ruang kelas. Bagi keluarga yang hidup dengan keterbatasan, pendidikan anak perlu berjalan seiring dengan upaya menambah penghasilan rumah tangga. Karena itu, pendekatan yang menghubungkan sekolah dan keluarga terasa lebih menjawab persoalan daripada menuntut anak belajar tanpa mengubah tekanan ekonomi di rumah.
Cakupannya telah mencapai sekitar 44.200 anak dari keluarga paling marjinal. Mandaya Awards 2026, yang merupakan penyelenggaraan kedua, diikuti lebih dari 2.146 peserta. Angka tersebut menunjukkan besarnya jangkauan, tetapi dampak jangka panjangnya tetap bergantung pada mutu pendampingan dan kesempatan nyata bagi keluarga untuk membangun penghidupan.
Pelatihan harus berujung pada peluang usaha
Melalui Program LAKSMI, pemberdayaan tidak hanya ditujukan kepada siswa: orang tua dari keluarga prasejahtera juga mendapat pelatihan keterampilan untuk mendukung kemandirian ekonomi. Di Takalar, SRT 1 bekerja sama dengan Sentra Pangurangi untuk melatih orang tua membuat kerupuk dan makanan ringan. Peserta juga memperoleh bahan baku dan peralatan untuk memulai produksi, sehingga keterampilan yang diajarkan dapat segera dicoba dalam kegiatan usaha.
Sebagian orang tua kemudian mulai menjual produk di toko-toko kecil dan membuka warung di rumah. Inilah bagian yang membuat pelatihan usaha orang tua lebih berarti daripada kursus tanpa tindak lanjut: ada jembatan dari belajar keterampilan menuju kegiatan produktif. Namun, contoh tersebut juga memperlihatkan bahwa hasil nyata memerlukan lebih dari motivasi. Akses terhadap bahan dan alat membantu keluarga menerapkan pengetahuan, sedangkan pendampingan usaha menjadi penghubung penting antara pelatihan dan penghasilan.

Kemandirian keluarga sebagai ukuran keberhasilan
Sekolah Rakyat berangkat dari gagasan bahwa pendidikan anak dan kemampuan ekonomi keluarga saling memengaruhi. Ketika anak belajar, sementara orang tua memperoleh keterampilan dan peluang produktif, keluarga mendapat lebih banyak pijakan untuk merencanakan masa depan. Program ini menargetkan keluarga miskin agar tidak terus mewariskan keterbatasan kepada generasi berikutnya.
Berbagai sekolah mengambil jalur yang berbeda. SRT 1 Bogor mengembangkan budidaya lele dari hulu ke hilir, sedangkan SRT 1 Kediri menerapkan pendampingan intensif bagi siswa; di sekolah tersebut, siswa kelas dua sudah ada yang memperoleh golden ticket perguruan tinggi. Contoh-contoh ini memperlihatkan bahwa dukungan dapat mencakup prestasi akademik, keterampilan praktis, dan pendampingan. Tolok ukur yang lebih bermakna bukan hanya penghargaan, melainkan apakah pembelajaran membuka kesempatan bagi anak dan apakah upaya pemberdayaan membantu orang tua menjadi produktif. Kemandirian keluarga perlu dibangun bersama—bukan dibebankan kepada anak saja.
Dari apresiasi menuju dampak yang terjaga
Penghargaan kepada empat sekolah memberi perhatian pada kerja lapangan dalam pengentasan kemiskinan. Data BPS 2026 yang dikutip dalam pemberitaan menunjukkan tingkat kemiskinan nasional turun dari 8,57 persen menjadi 8,07 persen, sementara jumlah warga dalam kemiskinan ekstrem turun dari 2,8 juta menjadi 1,7 juta. Angka nasional itu memberi konteks, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa satu program tertentu menyebabkan penurunan tersebut. Nilai Sekolah Rakyat lebih tepat dibaca dari cara program menghubungkan pendidikan anak dengan upaya memperkuat ekonomi rumah tangga.
Arah ini layak didukung karena keluarga tidak bisa diminta memprioritaskan sekolah tanpa memperhatikan kebutuhan hidup mereka. Namun, penghargaan seharusnya menjadi awal penilaian yang lebih teliti, bukan tanda bahwa pekerjaan telah selesai. Keberhasilan perlu tampak pada pendidikan yang terus membuka jalan bagi siswa dan pada keterampilan orang tua yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan. Dengan menggabungkan keduanya, Sekolah Rakyat menawarkan dasar yang lebih masuk akal untuk memutus rantai kemiskinan: memperluas masa depan anak sekaligus memperkuat kemampuan keluarga hari ini.






