Pemerintah Rombak Total Buku Pelajaran SD-SMA: Antara Kualitas Cetak dan Budaya Baca

Pemerintah Rombak Total Buku Pelajaran SD-SMA: Antara Kualitas Cetak dan Budaya Baca
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Redesain Buku Ajar: Koreksi Serius atas Kualitas Buku Sekolah

Redesain buku ajar SD-SMA adalah kebijakan pemerintah untuk merombak total buku pelajaran, mulai dari kualitas fisik, ukuran huruf, hingga isi dan peranannya dalam menumbuhkan budaya baca, setelah Presiden menilai buku sekolah mudah rusak dan kurang nyaman dibaca oleh siswa. Langkah ini bukan sekadar ganti sampul, tetapi upaya menyentuh jantung standar pendidikan nasional yang selama ini mengabaikan hal sepele: kenyamanan membaca dan daya tahan buku. Pemicu kebijakan ini jelas dan konkret: kunjungan Presiden Prabowo ke sejumlah sekolah yang memperlihatkan buku pelajaran SD-SMA dengan kertas tipis, sudah sobek, dan tulisan yang begitu kecil hingga memaksa anak membaca dari jarak sangat dekat. Bagi pemerintah, keadaan tersebut bukan lagi sekadar kekurangan teknis, melainkan tanda bahwa kualitas buku sekolah telah lama diperlakukan sebagai pelengkap, bukan sebagai prasyarat dasar pembelajaran yang layak.

Pemerintah Rombak Total Buku Pelajaran SD-SMA: Antara Kualitas Cetak dan Budaya Baca

Masalah Utama: Buku Mudah Rusak dan Huruf Terlalu Kecil

Sorotan Presiden terhadap buku pelajaran SD-SMA berangkat dari dua masalah yang sangat praktis: kualitas bahan yang rendah dan ukuran huruf yang terlalu kecil. Buku yang seharusnya dapat digunakan berulang, bahkan diwariskan ke adik kelas, justru cepat rusak dan tampak tidak layak pakai. Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Presiden mengecek satu per satu buku pelajaran di sekolah dan menemukan banyak yang "bahannya mudah rusak" dan sebagian bahkan sudah dalam keadaan rusak. Dampaknya langsung dirasakan orang tua dan siswa: buku pelajaran SD-SMA tidak bisa bertahan beberapa tahun, memaksa keluarga terus mengganti buku dan mengurangi peluang pemanfaatan kembali. Ukuran huruf yang kecil juga membuat anak, khususnya di jenjang SD, membaca sangat dekat ke buku, yang jelas tidak sehat untuk mata dan berpotensi menormalisasi kebiasaan menulis kecil demi menghemat kertas. Jika dibiarkan, kualitas buku sekolah semacam ini justru melemahkan proses belajar.

Pemerintah Rombak Total Buku Pelajaran SD-SMA: Antara Kualitas Cetak dan Budaya Baca

Instruksi Presiden: Tim Khusus dan Banding dengan Standar ASEAN

Tanggapan pemerintah terhadap masalah kualitas buku sekolah bukan setengah hati. Presiden Prabowo menginstruksikan pembaruan total buku pelajaran SD hingga SMA dan memerintahkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti membentuk tim khusus untuk mengevaluasi seluruh buku ajar yang beredar. Instruksi ini disampaikan dalam rapat terbatas di Istana Merdeka bersama Mensesneg Prasetyo Hadi dan Seskab Teddy Indra Wijaya, menandakan bahwa redesain buku ajar ditempatkan sebagai agenda strategis, bukan proyek kosmetik. Yang menarik, pemerintah tidak ingin bekerja dalam gelembung. Setelah mempelajari buku pelajaran nasional, Presiden memerintahkan perbandingan dengan buku ajar negara tetangga sebagai acuan mutu, dari isi hingga kualitas cetak. Dengan kata lain, standar pendidikan nasional untuk buku pelajaran SD-SMA akan dikalibrasi terhadap standar ASEAN, sehingga kelemahan bahan kertas, layout, dan keterbacaan tidak lagi dianggap normal, tetapi sesuatu yang harus diperbaiki agar setara dengan lingkungan kawasan.

Tiga Fokus Pembaruan: Fisik, Isi, dan Budaya Membaca

Redesain buku ajar SD-SMA yang disiapkan pemerintah menyasar tiga lapis perubahan yang saling berkaitan: fisik, materi, dan budaya. Pada sisi fisik, buku pelajaran ditargetkan memiliki huruf yang lebih besar dan menarik, tampilan yang lebih layak, serta bahan kertas yang lebih awet sehingga buku bisa digunakan dalam jangka waktu panjang dan diwariskan. Buku ajar diharapkan memiliki tampilan yang lebih menarik, ukuran huruf yang lebih nyaman dibaca, serta menggunakan bahan yang lebih baik sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Pada sisi isi, pemerintah ingin memastikan materi buku menanamkan karakter kebangsaan sekaligus menguatkan konten sains, teknologi, matematika, dan bahasa Inggris. Sementara itu, dari sisi budaya, redesain buku pelajaran dibingkai sebagai upaya menggalakkan kembali kebiasaan wajib gemar membaca seperti didikan keluarga, menjadikan buku sebagai titik pusat aktivitas belajar, bukan sekadar pelengkap di tas sekolah. Ini menunjukkan bahwa standar pendidikan nasional sedang digeser: buku bukan hanya media informasi, tetapi alat pembentuk karakter dan kebiasaan.

Dampak ke Siswa dan Orang Tua: Akses Bacaan dan Mengurangi Ketergantungan Gawai

Bagi siswa dan orang tua, konsekuensi praktis dari perombakan buku pelajaran SD-SMA akan terasa di meja belajar sehari-hari. Buku yang lebih kuat dan huruf yang lebih besar berarti anak tidak perlu memicingkan mata, tidak harus membaca dari jarak sangat dekat, dan bisa memakai buku selama beberapa tahun tanpa cepat rusak. Pemerintah juga menyiapkan buku tulis khusus bergaris besar untuk siswa kelas 1–3 SD, sebagai koreksi atas kebiasaan menulis sangat kecil yang muncul karena keinginan menghemat buku tulis. Menariknya, kebijakan memperkuat buku fisik bukan dimaknai sebagai penolakan terhadap teknologi, tetapi sebagai cara mengurangi ketergantungan berlebihan pada gawai di ruang kelas, sejalan dengan tren sejumlah negara maju yang mulai membatasi gadget di sekolah. Dengan buku yang layak dan redesain buku ajar yang mendukung budaya membaca, aksesibilitas pendidikan membaik: anak punya bacaan yang enak dibaca, orang tua tidak terus dibebani buku cepat rusak, dan standar pendidikan nasional bergerak ke arah yang lebih sehat bagi mata, pikiran, dan kebiasaan belajar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!