Apa yang Sebenarnya Dirombak dalam Buku Pelajaran SD-SMA?
Perombakan buku pelajaran SD SMA adalah rencana pemerintah untuk mengganti dan memperbaiki buku teks dari kelas awal SD hingga akhir SMA, dengan fokus bukan hanya pada materi, tetapi juga pada kualitas kertas, ukuran dan desain huruf, tata letak, serta kenyamanan baca siswa dalam penggunaan sehari-hari.
Intinya, pemerintah ingin mengangkat kualitas buku teks dari sekadar “cukup ada” menjadi “nyaman dipakai”. Rencana ini lahir setelah Presiden Prabowo Subianto mengecek langsung buku pelajaran di sekolah dan menilai kualitas fisik serta tampilan bukunya masih lemah, dari bahan yang mudah rusak sampai cetakan yang kurang nyaman digunakan dalam proses belajar mengajar. Pemerintah menargetkan perombakan menyeluruh untuk semua jenjang SD sampai SMA, bukan hanya kelas-kelas tertentu. Langkah ini jelas bukan kosmetik; ini adalah sinyal bahwa pengalaman membaca siswa akhirnya diakui sebagai bagian inti dari mutu pendidikan.

Fokus Baru: Huruf Lebih Besar, Kertas Lebih Kuat, Desain Lebih Manusiawi
Sorotan terbesar dalam kebijakan baru ini adalah desain huruf pembelajaran dan kualitas fisik buku. Presiden melihat langsung tulisan buku yang kecil memaksa anak SD membaca dengan jarak sangat dekat, yang dinilai tidak baik bagi kesehatan mata. Ukuran huruf 11–12 poin yang selama ini lazim dipakai dinilai kurang ideal untuk membaca jangka panjang. Pemerintah ingin ukuran huruf lebih nyaman, tata letak lebih mudah diikuti, kertas lebih kokoh, dan hasil cetakan yang tidak cepat pudar atau sobek.
Di sini pemerintah sebenarnya sedang berkata: kenyamanan baca siswa bukan bonus, tetapi kebutuhan minimum. Buku pelajaran SD SMA yang dipegang anak-anak setiap hari seharusnya tahan lebih dari satu tahun pelajaran, bisa diwariskan ke adik kelas, dan cukup menarik sehingga siswa tidak langsung lelah begitu membuka halaman pertama. Kebijakan ini juga diarahkan untuk menghasilkan tampilan buku yang lebih menarik dan ramah baca bagi anak pada tahap awal literasi, terutama kelas 1–3 SD.

Mengapa Pemerintah Bergerak Sekarang, dan Apa Dampaknya bagi Siswa?
Pemicu utama perombakan ini sederhana: kunjungan lapangan Presiden Prabowo ke sekolah-sekolah, saat ia menemukan bahan buku yang mudah rusak dan sebagian sudah dalam kondisi rusak. Selain itu, tulisan yang kecil dan kualitas cetakan yang tidak ramah mata membuat pengalaman belajar menjadi melelahkan. Pemerintah kemudian diminta mengecek semua buku pelajaran SD-SMA satu per satu dan membandingkannya dengan buku ajar di negara tetangga sebagai bahan evaluasi kualitas buku pelajaran nasional.
Dampak praktisnya bagi siswa cukup besar. Buku pelajaran yang lebih nyaman dibaca diharapkan meningkatkan minat baca, membantu pemahaman, dan membuat proses belajar tidak lagi terasa seperti hukuman bagi mata. Perubahan desain juga disinergikan dengan upaya menghadirkan buku tulis bergaris besar untuk kelas 1–3 SD guna melatih kebiasaan menulis tangan dan mengurangi ketergantungan pada gawai. Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Presiden ingin tampilan buku yang lebih menarik dan fisik yang lebih kuat agar dapat dipakai lebih lama oleh siswa.
Suara Guru: Buku Masih Layak, Tapi Materinya Perlu Lebih Dekat dengan Hidup Siswa
Menariknya, di lapangan banyak guru menilai buku pelajaran sekarang “masih layak” digunakan. Tenaga pendidik di Banjarmasin menyebut sebagian besar buku yang dipakai murid masih dalam kondisi baik, meski ada kerusakan ringan karena dipakai tiap hari. Bagi mereka, masalah terbesar bukan hanya kertas atau tinta, melainkan relevansi materi dengan kehidupan nyata siswa. Ada materi dan contoh yang dianggap terlalu umum dan kurang dekat dengan lingkungan sekitar siswa.
Di sinilah risiko kebijakan ini: jika perombakan berhenti pada kualitas kertas dan ukuran huruf, pemerintah akan melewatkan inti persoalan yang dirasakan guru, yaitu bagaimana isi buku membantu siswa memahami dunia mereka sendiri. Guru berharap pembaruan tidak berhenti pada fisik buku, tetapi juga membuat materi lebih kontekstual, sederhana, dan menarik bagi anak. Dengan kata lain, perombakan fisik buku pelajaran SD SMA penting, tetapi tanpa pembaruan isi, reformasi ini akan terasa setengah hati.
Apa Langkah Berikutnya dan Bagaimana Seharusnya Kita Menilainya?
Pemerintah telah diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap buku pelajaran dari SD sampai SMA, kemudian membandingkannya dengan buku di kawasan Asia Tenggara sebagai standar pembanding. Ada pula instruksi khusus untuk merancang buku tulis dan buku pelajaran untuk kelas 1–3 SD dengan tampilan lebih besar dan menarik, yang disebut akan mulai dibagikan pada tahun ajaran berjalan.
Secara prinsip, langkah ini patut didukung: kualitas buku teks dan kenyamanan baca siswa akhirnya mendapat perhatian setara dengan kurikulum. Namun, masyarakat pendidikan perlu kritis: perombakan fisik harus berjalan beriringan dengan evaluasi materi, relevansi contoh, dan cara buku membangun kemandirian belajar. Buku pelajaran SD SMA yang ideal bukan hanya kuat secara fisik dan enak dibaca, tetapi juga membumi, dekat dengan pengalaman siswa, dan mendorong mereka tertarik membaca tanpa disuruh. Jika tiga unsur itu digarap sekaligus—fisik, desain huruf, dan isi—barulah reformasi buku pelajaran layak disebut lompatan, bukan sekadar penyegaran kosmetik.






