Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Serapan Anggaran Daerah Melambat: Mengapa Banyak Kabupaten Tertinggal

Serapan Anggaran Daerah Melambat: Mengapa Banyak Kabupaten Tertinggal
Minat|Asia Tenggara

Serapan Anggaran Daerah: Cermin Prioritas Pembangunan yang Mulai Dipertanyakan

Serapan anggaran daerah adalah tingkat pemanfaatan dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang menunjukkan seberapa jauh pemerintah daerah mengubah rencana anggaran menjadi kegiatan nyata, baik berupa pembayaran gaji aparatur, penyediaan layanan publik, maupun belanja modal untuk infrastruktur dan program pembangunan yang langsung dirasakan masyarakat sebelum tahun anggaran berakhir. Pada triwulan ketiga, angka serapan ini mulai menjadi alarm politik dan publik, karena waktu pelaksanaan anggaran semakin sempit sementara banyak program strategis belum bergerak. Ketika serapan melambat, persoalannya bukan sekadar administrasi, melainkan tanda bahwa mesin birokrasi belum bekerja selaras dengan kebutuhan pembangunan dan harapan warga.

Jayapura Lebih Gesit, Grobogan Tertinggal: Kontras Kinerja yang Terlalu Tajam

Data triwulan ketiga menunjukkan kontras serapan anggaran daerah yang tajam. Pemerintah Kota Jayapura mencatat serapan anggaran hingga minggu kedua September sebesar 70,63 persen untuk pendapatan, dengan realisasi belanja 57,06 persen. Angka ini mengirim pesan bahwa mesin fiskal kota mulai bergerak meski masih perlu mengejar realisasi belanja. Sebaliknya, Pemkab Grobogan baru menyentuh 54,93 persen serapan dari total alokasi APBD Rp 2,95 triliun, dengan realisasi Rp 1,62 triliun hingga pertengahan September atau akhir triwulan ketiga. Perbedaan ini bukan angka teknis semata; ini menegaskan disparitas kapasitas manajerial antar daerah. Jayapura berani menargetkan seluruh kegiatan selesai Oktober–November, sementara Grobogan sibuk menjelaskan bahwa rendahnya serapan terjadi karena rekanan belum mengambil termin pembayaran proyek berjalan. Pernyataan pembenar semacam itu menunjukkan bahwa eksekusi anggaran masih terlalu bergantung pada ritme kontraktor, bukan dikendalikan kuat oleh pemerintah daerah.

Karanganyar: Serapan Tinggi, Belanja Modal Macet di Angka 1,6 Persen

Kabupaten Karanganyar menawarkan contoh lain tentang problem kualitas serapan anggaran daerah. Secara total, penyerapan anggaran disebut sudah sekitar 60 persen. Sekilas tampak moderat, namun ketika dibedah, belanja modal pemerintah baru terserap sekitar 1,6 persen. Artinya, anggaran banyak habis di belanja gaji, sementara program pembangunan fisik dan investasi pelayanan publik nyaris tidak berjalan. Ketua DPRD setempat menegaskan bahwa serapan tertinggi masih di belanja gaji, dan menyoroti minimnya belanja modal karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan program pembangunan yang diharapkan masyarakat. Ketidakseimbangan ini memunculkan pertanyaan tajam: apakah APBD sekadar menjadi instrumen membayar pegawai, atau benar-benar menjadi mesin pertumbuhan dan perbaikan layanan? Dengan waktu pelaksanaan anggaran yang disebut hanya tersisa sekitar tiga bulan, ruang untuk memperbaiki ketimpangan komposisi belanja menjadi sangat sempit.

Triwulan Ketiga sebagai Titik Kritis: Birokrasi Lambat dan Risiko Gagal Target

Memasuki realisasi APBD triwulan ketiga, tekanan politik terhadap serapan anggaran daerah meningkat. Di Jayapura, sorotan wakil wali kota dalam apel gabungan ASN memaksa Badan Keuangan menegaskan target bahwa seluruh kegiatan yang telah dianggarkan harus selesai sebelum akhir tahun anggaran, dengan penekanan pada percepatan di Oktober dan November. Di Grobogan, penjelasan bahwa rekanan belum menagih termin pembayaran menunjukkan kelemahan klasik: proses administrasi dan pola kerja mitra belum diselaraskan dengan tenggat anggaran. Sementara itu di Karanganyar, pembahasan Perubahan APBD didorong oleh kekhawatiran bahwa komposisi serapan yang timpang akan menghambat program pembangunan ketika waktu tinggal tiga bulan. Triwulan ketiga seharusnya menjadi fase eksekusi puncak, bukan periode mengulur waktu. Ketika belanja modal tertinggal, dampaknya langsung pada tertundanya perbaikan infrastruktur, layanan dasar, dan potensi pertumbuhan ekonomi lokal yang terabaikan.

Jelang Akhir Tahun: Percepatan Bukan Sekadar Slogan, tapi Ujian Akuntabilitas

DPRD Karanganyar secara terbuka mendorong percepatan program pembangunan, dengan argumen bahwa harapan dan keinginan masyarakat harus segera diwujudkan, sekaligus untuk memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi. Di Jayapura, optimisme bahwa seluruh kegiatan selesai tanpa meninggalkan utang menunjukkan keyakinan birokrasi fiskal, tetapi target tersebut akan menjadi sia-sia bila belanja modal dan program substantif tidak benar-benar tuntas di lapangan. Grobogan, yang menggantungkan lonjakan serapan pada pencairan termin rekanan, berisiko menghadapi penumpukan pekerjaan dan pembayaran di akhir tahun. Menjelang penutupan tahun anggaran, percepatan tidak boleh berhenti sebagai instruksi apel atau catatan rapat. Ia harus terwujud dalam penataan jadwal proyek, pemangkasan prosedur yang menghambat, dan keberanian memprioritaskan belanja modal pemerintah yang memberi manfaat nyata. Pada akhirnya, serapan anggaran daerah bukan angka kosmetik, tetapi indikator apakah pemerintah daerah benar-benar bekerja dan dapat dimintai pertanggungjawaban atas janji pembangunan yang mereka tetapkan sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!