Molinas: Ambisi Besar, Penetrasi Motor Listrik Masih Kecil
Penetrasi motor listrik adalah porsi kendaraan roda dua berbasis listrik dibanding sepeda motor konvensional yang beredar, dan angka di bawah 1% menunjukkan bahwa adopsi masih sangat terbatas meskipun industri, teknologi, serta program insentif motor listrik mulai dikembangkan secara luas oleh pemerintah dan pelaku usaha. Program Motor Listrik Nasional (Molinas) sendiri dirancang sebagai platform terbuka yang mengintegrasikan manufaktur, komponen, baterai, infrastruktur pengisian, pembiayaan, distribusi hingga layanan purnajual. Diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus, Molinas dimaksudkan menjadi mesin akselerasi besar, bukan proyek kecil di pinggir kebijakan transportasi. Namun fakta di lapangan keras: kontribusi motor listrik hanya sekitar 0,9% terhadap penjualan motor nasional dan penetrasi terhadap populasi motor konvensional masih di bawah 1%. Artinya, kita belum berbicara soal revolusi, tetapi eksperimen yang belum menembus arus utama.
Paradoks Pasar: Industri Tumbuh, Penjualan Mandek
Secara industri, gambarannya tampak menjanjikan. Ada 83 perusahaan terdaftar di Kementerian Perindustrian, dengan 69 di antaranya fokus pada sepeda motor listrik roda dua. PT Len Industri saja sudah punya kapasitas produksi sekitar 100.000 unit per tahun dan menargetkan 1 juta unit pada 2028, sementara kebutuhan motor listrik diproyeksikan 1,5 juta unit. Mereknya bertambah, kapasitas naik, lokalisasi komponen berjalan. Namun pasar motor listrik Indonesia dinilai masih jalan di tempat: penjualan tidak tumbuh secepat kapasitas dan dominasi motor konvensional di atas 6 juta unit per tahun belum terusik. Lonjakan dari 17.000 unit pada 2022 menjadi 77.000 unit pada 2024 terbukti sangat bergantung pada subsidi, dan penjualan turun sekitar 23% ketika insentif dihentikan. Ini menyingkap masalah utama: tanpa dukungan kebijakan yang konsisten dan strategi permintaan yang matang, industri hanya membangun kapasitas, bukan pasar nyata.
Lima Hambatan Adopsi Molinas yang Jarang Dibahas Tuntas
Aismoli menyebut ada lima kesenjangan yang menghambat adopsi Molinas dan pasar motor listrik Indonesia: keterjangkauan harga, kepercayaan konsumen, layanan purnajual, nilai jual kembali, serta kepastian kebijakan pemerintah. Keterjangkauan bukan hanya soal harga awal, tetapi persepsi total biaya kepemilikan yang masih kabur di mata pengguna motor harian. Kepercayaan konsumen dipengaruhi banyak hal: umur baterai, jarak tempuh nyata, dan kecemasan kehabisan daya ketika infrastruktur pengisian belum merata. Layanan purnajual dan nilai jual kembali juga jadi titik lemah; konsumen terbiasa dengan jaringan bengkel dan pasar bekas motor konvensional yang sangat luas, sedangkan ekosistem motor listrik baru merangkak. Namun yang paling krusial adalah kepastian kebijakan: pelaku usaha menilai tanpa aturan yang jelas, sulit menyusun strategi jangka panjang dan meyakinkan konsumen bahwa motor listrik bukan tren sesaat.
Subsidi dan Insentif: Efektif, Tapi Masih Salah Sasaran
Lonjakan penjualan 2024 tidak bisa dilepaskan dari insentif motor listrik yang saat itu mencapai Rp7 juta per unit dan jelas mengerek daya beli masyarakat. Ketika insentif dihentikan, penjualan turun sekitar 23%, menegaskan bahwa kebijakan fiskal memang menggerakkan permintaan, tetapi sementara. Kini pemerintah menyiapkan insentif baru Rp3 juta per unit dengan anggaran Rp3 triliun untuk mendukung pembelian hingga 1 juta unit motor listrik nasional, plus proyeksi kebutuhan anggaran insentif yang meningkat hingga Rp6,4 triliun pada 2029. Di atas kertas, angka ini agresif. Di lapangan, pelaku industri justru lebih mempertanyakan "kapan" dan "bagaimana" insentif berjalan ketimbang besarannya. Tanpa timeline, ruang lingkup, dan kriteria yang jelas, insentif hanya menjadi berita, bukan alat pengubah perilaku konsumen. Apalagi subsidi BBM yang masih kuat justru menekan biaya penggunaan motor konvensional sehingga mengurangi daya tarik beralih ke listrik.
Industri Menunggu Kepastian, Konsumen Menunggu Alasan Kuat
Pelaku industri sepakat bahwa kepastian kebijakan lebih penting dibanding sekadar angka subsidi. Mereka sudah telanjur berinvestasi besar dan enggan meninggalkan pasar, tetapi tanpa sinyal jangka panjang yang jelas, investasi ini berisiko menjadi kapasitas menganggur. Menurut mereka, ruang lingkup dan kriteria program insentif harus gamblang, lengkap dengan timeline pelaksanaan, agar strategi bisnis dan komunikasi ke konsumen dapat disusun secara realistis. Di sisi lain, konsumen menunggu alasan kuat untuk beralih: harga yang masuk akal, jaringan pengisian dan swap battery yang bisa diandalkan, layanan purnajual yang mudah diakses, serta keyakinan bahwa motor listrik punya pasar bekas dan tidak akan tiba-tiba kehilangan dukungan. Jika Molinas ingin mencapai target jutaan unit, kebijakan tidak cukup mengundang pabrikan; kebijakan harus menempatkan pengguna sebagai pusat. Tanpa itu, penetrasi motor listrik akan tetap terjebak di bawah 1% dan Molinas menjadi proyek besar dengan dampak kecil.






