Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kecelakaan Berulang di Stasiun KRL: Mengapa Pagar Peron Masih Tertunda?

Kecelakaan Berulang di Stasiun KRL: Mengapa Pagar Peron Masih Tertunda?
Minat|Asia Tenggara

Keselamatan KRL Jakarta di Tepi Peron yang Terbuka

Keselamatan KRL Jakarta adalah keseluruhan kebijakan, infrastruktur transportasi, dan perilaku pengguna yang dirancang untuk mencegah kecelakaan stasiun KRL, termasuk jatuhnya penumpang ke jalur, terserempet kereta, hingga insiden fatal lain di peron yang dipadati ribuan orang setiap hari. Di peron KRL, ruang terbuka antara penumpang dan jalur kereta masih menganga sebagai celah risiko yang dibiarkan terbuka terlalu lama. Celah ini bukan teori di atas kertas; ia sudah menelan korban. Seorang pelajar perempuan kelas 10 SMA tewas tertabrak KRL di Stasiun Jurang Mangu pada 10 Agustus 2026. Beberapa bulan sebelumnya, penumpang perempuan terjatuh ke jalur di Stasiun Manggarai setelah kehilangan keseimbangan ketika berjalan menuju lift. Seorang lansia bernama Ishak (80) juga meninggal setelah diduga terserempet KRL di kawasan Kebon Baru, Tebet. Rentetan ini menunjukkan masalah struktural, bukan kebetulan tragis.

Pagar Peron Kereta: Solusi yang Sudah Jelas, Eksekusinya yang Mandek

Pertanyaan utama hari ini bukan lagi apakah pagar peron kereta perlu, tetapi mengapa pemasangannya terus tertunda. Pengamat perkeretaapian menilai sistem keselamatan KRL saat ini belum sepenuhnya sempurna, terutama karena peron masih terbuka dan mengandalkan garis kuning serta imbauan lisan. Padahal, pagar peron atau platform screen door sudah menjadi standar di moda seperti MRT dan LRT, memisahkan penumpang dari jalur dan hanya terbuka ketika pintu kereta sejajar. Di KRL, celah itu dibiarkan dijaga oleh petugas yang jumlahnya terbatas dan penumpang yang diharapkan disiplin. Menyalahkan perilaku penumpang tanpa memperbaiki desain fisik adalah kemalasan kebijakan. Pagar peron bukan alat ajaib, tetapi ia menambah lapisan perlindungan yang tidak bergantung pada kewaspadaan individu. Dengan 71.603 penumpang turun di satu wilayah operasi hanya dalam rentang beberapa hari jelang Lebaran, mengandalkan kesadaran pribadi saja adalah resep bencana.

Kecelakaan Berulang, Korban dari Pelajar hingga Lansia

Data resmi menunjukkan masalah ini bukan insiden sporadis. "Pada Januari–Agustus 2026, di Jabodetabek terjadi 20 kejadian penumpang yang terperosok di antara celah peron dengan kereta". Artinya, hampir setiap beberapa minggu ada orang yang nyaris atau sudah menjadi korban. Dua insiden tertemper kereta pada 20 Agustus 2026 menewaskan pelajar dan lansia, sekaligus mengganggu perjalanan Commuter Line relasi Bogor dan Tangerang. Di antara Stasiun Pasar Minggu dan Manggarai, KA 1183 tertemper orang sehingga rangkaian harus diperiksa, jalur dipakai bergantian, dan perjalanan sejumlah kereta tertahan hingga penumpang menumpuk di stasiun. Ini bukan sekadar tragedi personal; ini pukulan terhadap keandalan layanan bagi jutaan pengguna harian. Korbannya beragam: pelajar, perempuan dewasa, hingga kakek 80 tahun. Ketika semua demografi rentan, menyebut ini sebagai masalah “kelalaian individu” adalah cara halus untuk menghindar dari tanggung jawab sistemik.

Alasan Teknis dan Regulasi: Hambatan Nyata atau Alibi?

Operator dan pengamat transportasi mengakui memasang pagar peron di seluruh jaringan bukan pekerjaan mudah. Rangkaian KRL yang beroperasi memiliki tipe berbeda dengan konfigurasi pintu yang tidak selalu sama, sehingga posisi pintu tidak selalu sejajar dengan titik yang sama di peron. Berbeda dengan MRT/LRT yang seragam, KRL masih campuran rangkaian impor lama dan produksi baru, sehingga penyesuaian pagar peron butuh rekayasa teknis dan mungkin penyeragaman sarana di masa depan. Di sisi lain, mantan pejabat operator menyinggung soal biaya besar yang harus ditanggung untuk membangun pagar di seluruh stasiun, sementara operator KRL adalah penerima penugasan layanan publik, sehingga pemerintah ikut menentukan ruang gerak anggaran dan prioritas. Namun di balik semua alasan itu, ada gap jelas: kebutuhan keselamatan meningkat seiring lonjakan pengguna, sementara kapasitas implementasi infrastruktur transportasi dibiarkan tertinggal. Kajiannya dikatakan "perlu menyeluruh", tetapi tanpa tenggat waktu dan peta jalan, kata “kajian” mudah berubah menjadi selimut penunda.

Menutup Celah: Dari Edukasi ke Pagar Peron Nyata

Operator mengklaim telah memegang prinsip Safety First, melakukan evaluasi menyeluruh faktor keselamatan pengguna. Program edukasi pun gencar, termasuk sosialisasi kepada pelajar; tahun lalu 111.651 anak sekolah mengikuti program ini. Edukasi penting, tetapi kecelakaan stasiun KRL menunjukkan bahwa informasi saja tidak mampu mengimbangi risiko desain peron terbuka. Pengawasan petugas ditingkatkan, pengumuman keselamatan diminta lebih sering, dan penumpang diimbau tidak berdiri melampaui garis kuning atau bermain gawai saat naik turun kereta. Semua ini langkah minimal, bukan jawaban akhir. Untuk jangka pendek, penambahan petugas dan pengawasan ketat mungkin satu-satunya opsi realistis. Namun untuk jangka menengah, tidak ada jalan lain selain memutuskan: apakah keselamatan KRL Jakarta akan ditopang pagar peron kereta yang nyata, atau terus diserahkan pada garis kuning yang mudah dilangkahi? Menunda artinya menerima bahwa insiden berikutnya hanya soal waktu.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!