Molinas: Ambisi Besar, Realitas Pembiayaan yang Sempit
Program Motor Listrik Nasional (Molinas) adalah kebijakan pemerintah yang menempatkan sepeda motor listrik sebagai tulang punggung elektrifikasi transportasi, dengan menjadikan pembiayaan dan cicilan motor listrik nasional sebagai alat utama agar masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah bisa beralih dari motor berbahan bakar minyak ke motor listrik secara bertahap dan terjangkau. Di atas kertas, program ini tampak meyakinkan: presiden sudah meresmikan, regulasi bergerak, dan narasi penghematan energi diulang di setiap panggung. Namun di lapangan, kredit motor listrik sulit diakses, terutama lewat perbankan umum. Pembiayaan motor listrik masih terkonsentrasi di beberapa perusahaan multifinance, sementara bank komersial bergerak pelan dan berhitung ketat. Kesenjangan inilah yang membuat Molinas berisiko menjadi slogan kebijakan tanpa dukungan finansial yang memadai.
Ledakan Angka EV: Pertumbuhan yang Menipu?
Secara statistik, pembiayaan kendaraan listrik terlihat mengesankan. Otoritas keuangan mencatat pembiayaan kendaraan listrik tumbuh 34,70 persen secara tahunan menjadi Rp24,60 triliun per Juni 2026. Salah satu pemain besar pembiayaan, BCA Finance, menyebut porsi pembiayaan kendaraan listrik sudah menyentuh sekitar 15 persen dari total pembiayaan kendaraan yang mereka salurkan. Kutipan konkret ini menunjukkan bahwa pasar EV roda empat dan sebagian segmen premium bergerak cepat. Namun angka tersebut menutupi fakta bahwa cicilan motor listrik nasional bukan motor penggerak utama lonjakan itu. Pembiayaan masih lebih ramah untuk mobil listrik dan segmen konsumen yang bankable, bukan mayoritas pengendara roda dua. Di sisi lain, pembiayaan mobil baru dan bekas berbahan bakar minyak dari multifinance bahkan turun, yang membuat pertumbuhan EV tampak lebih dramatis daripada perubahan nyata di garasi rumah masyarakat.

Mengapa Kredit Motor Listrik Masih Dianggap Berisiko
Kunci masalahnya: lembaga pembiayaan belum yakin bahwa motor listrik adalah aset yang aman untuk dibiayai jangka panjang. Laporan riset independen terbaru menunjukkan tiga sumber utama keraguan, yaitu risiko produk dan teknologi, ketidakpastian nilai jual kembali, serta ketidakjelasan permintaan pasar dan kebijakan jangka panjang. Risiko produk berkaitan dengan lebar dan tidak ratanya kualitas motor listrik, daya tahan baterai, rekam jejak produsen, dan kekuatan layanan purna jual. Jika kualitas tidak stabil, motor menjadi agunan yang lemah. Di atas itu, pasar jual kembali masih tipis, sehingga lembaga pembiayaan takut menanggung kerugian jika terjadi gagal bayar. Pemerintah memang menempatkan pembiayaan sebagai pilar penting Molinas, tetapi tanpa kejelasan standar teknis dan jaminan pasar, bank dan multifinance cenderung bersikap defensif.
Dampak ke Konsumen: Biaya Harian Murah, Gerbang Awal Tetap Mahal
Bagi pengguna harian, motor listrik menawarkan janji yang sangat konkret: biaya energi dan operasional lebih rendah dibanding motor berbahan bakar minyak. Seorang peneliti menyatakan bahwa biaya operasional dan energi yang lebih rendah memang membuat motor listrik semakin menarik bagi konsumen, tetapi harga awal yang tinggi masih menjadi hambatan besar. Sisi ekonomi dan performa motor listrik makin memikat pengendara karena pengeluaran rutin bisa ditekan, namun uang muka dan cicilan tetap terasa berat tanpa skema pembiayaan yang ramah. Di sinilah paradoks Molinas: program Molinas subsidi dan insentif lain di tingkat kebijakan tidak otomatis berubah menjadi cicilan yang mudah diakses di dealer. Tanpa pembiayaan kendaraan listrik yang lebih berani, manfaat penghematan hanya dinikmati segelintir konsumen yang sanggup membeli tunai atau punya akses kredit ke multifinance tertentu.
Apa yang Harus Berubah Agar Molinas Tidak Macet
Pelaku pembiayaan besar mengaku sedang menunggu dan mempelajari arah Molinas sebelum menentukan posisi. Direktur utama salah satu perusahaan pembiayaan menyatakan bahwa mereka masih mengkaji program ini, meski menegaskan akan mendukung program pemerintah dan mencari cara memposisikan diri setelah kajian selesai. Mereka bahkan sudah memasukkan pembiayaan EV ke dalam ajang pameran pembiayaan mereka, tetapi tanpa target khusus untuk segmen ini. Sikap menunggu ini wajar dari sisi manajemen risiko, tetapi berlawanan dengan urgensi kebijakan publik. Jika Molinas ingin mengubah pasar, bukan sekadar mengikuti arus, pemerintah perlu masuk lebih dalam ke sisi pembiayaan: menjamin standar kualitas produk, memberi kepastian regulasi jangka panjang, dan mendorong skema penjaminan risiko agar kredit motor listrik sulit bertransformasi menjadi cicilan yang masuk akal bagi jutaan calon pengguna. Tanpa itu, angka pertumbuhan EV akan terus naik di laporan, tetapi jalan Molinas di permukaan tanah tetap tersendat.





