Pirolisis menawarkan jalan keluar, bukan izin untuk terus memakai plastik
Pirolisis sampah plastik adalah proses pemanasan plastik dengan kendali suhu untuk mengubahnya menjadi uap yang kemudian dikondensasikan menjadi cairan bahan bakar. Teknologi ini menjanjikan pemanfaatan sebagian limbah yang sulit didaur ulang, tetapi tidak boleh disalahartikan sebagai pengganti pengurangan plastik dan daur ulang mekanis.
Alasannya mendesak: timbulan sampah plastik disebut mencapai 32–40 juta ton per tahun, sementara plastik bernilai rendah seperti kantong kresek, styrofoam, dan residu rumah tangga kerap dibakar terbuka atau menumpuk di tempat pembuangan akhir. Pembakaran terbuka menimbulkan emisi berbahaya, sehingga mengalihkan sebagian sampah ke proses yang terkendali patut diuji. Namun, bahan bakar plastik tetaplah hasil pengolahan limbah, bukan alasan untuk melonggarkan pencegahan sampah. Nilai inovasinya bergantung pada mutu produk, kendali emisi, dan pengelolaan residu—bukan semata-mata pada banyaknya minyak yang dihasilkan.
BRIN menargetkan mutu setara solar
Heru Susanto, periset Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, mengembangkan Petasol dari plastik bernilai rendah. BRIN menyebut produk ini sebagai minyak setara solar; keunggulannya bukan hanya gagasan mengubah sampah menjadi bahan bakar, melainkan upaya mengendalikan proses dan menguji hasilnya.
Reaktor bekerja pada suhu bertahap 200–350 derajat Celsius. Menurut Heru, satu kilogram plastik rata-rata menghasilkan 0,8–1 liter minyak. Plastik basah atau kotor dapat diproses tanpa pencucian maupun pencacahan awal, sementara rancangan alat ditujukan mengurangi risiko penyumbatan. Minyak mentah kemudian dimurnikan, melalui esterifikasi dengan katalis bentonit, dan disaring. Hasil uji laboratorium mencatat angka setana 54,2, melampaui batas minimal solar nasional sebesar 48; kadar sulfur 23,6 ppm; serta penurunan emisi gas buang hingga 79 persen dibanding pembakaran terbuka. Angka ini membuat pendekatan BRIN tampak lebih siap dinilai, tetapi pengujian laboratorium dan penerapan lapangan tetap perlu dibedakan.
Petasol telah digunakan untuk mesin pertanian, genset, dan perahu nelayan. Penerapan tersebut memberi gambaran manfaat praktis bagi pengguna, sekaligus menuntut konsistensi mutu bahan bakar dan pengawasan emisi dalam penggunaan rutin.
Wonogiri membuktikan inisiatif lokal, sekaligus memperlihatkan batasnya
Di Krandegan, Bulukerto, Bank Sampah Berseri (BSB) mengolah plastik menjadi bensin dari plastik memakai peralatan pirolisis rakitan sendiri. Inovasi yang dikembangkan sekitar tiga tahun lalu itu pernah diuji bersama Universitas Gadjah Mada. Berbeda dari Petasol yang diarahkan setara solar, produk BSB diklaim memiliki angka oktan sekitar RON 91—klaim yang perlu dibaca hati-hati karena sumber tidak menyajikan hasil uji laboratorium pembanding.
Dengan alat bermodal sekitar Rp300.000, BSB mengolah 30 kilogram plastik menjadi kira-kira tiga liter bahan bakar, dengan hasil yang bergantung pada jenis plastik. Hasilnya dipakai untuk kendaraan yang mengambil dan mengangkut sampah. Ini contoh kuat bahwa teknologi pengolahan plastik tidak harus bermula dari fasilitas besar. Namun, Riyanto menyebut busi kendaraan perlu diperiksa setiap tiga bulan; residu yang mengganggu komponen mesin menjadi tanda bahwa murah dan bisa beroperasi belum berarti produk siap digunakan tanpa penyempurnaan.

Kolaborasi harus mengutamakan mutu dan keselamatan
Menurut Riyanto, kerja sama BSB dan BRIN dijadwalkan pada 18 November 2026, bertepatan dengan ulang tahun Bank Sampah Berseri. BRIN disebut akan membantu menyempurnakan alat dan proses agar bahan bakar lebih bersih serta residu yang berpotensi mengganggu mesin berkurang. Arah kerja sama ini tepat: kekuatan komunitas ada pada pengalaman lapangan, sedangkan dukungan riset dapat membantu menguji dan memperbaiki mutu.
Dua pendekatan tersebut belum setara untuk dibandingkan langsung. BRIN menyajikan parameter laboratorium dan penggunaan Petasol pada sejumlah mesin; BSB menawarkan rancangan mandiri yang murah serta manfaat operasional lokal, tetapi juga mengakui perlunya perbaikan. Kerja sama sebaiknya menghasilkan pengujian yang transparan atas bahan baku, mutu bahan bakar, emisi, residu, dan dampak pada mesin. Jika standar itu terpenuhi, pirolisis dapat menjadi salah satu alat pengelolaan plastik bernilai rendah—bukan solusi tunggal bagi krisis sampah.






