Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Sampah Plastik Menjadi Furnitur Bernilai untuk Komunitas

Dari Sampah Plastik Menjadi Furnitur Bernilai untuk Komunitas
Minat|Desain Interior

Ekonomi sirkular: ketika furnitur lahir dari sampah plastik

Ekonomi sirkular pada sektor furnitur adalah pendekatan yang mengubah alur linear pakai-buang menjadi siklus berkelanjutan, di mana sampah plastik dikumpulkan, diolah, dan didesain ulang menjadi furnitur dari sampah plastik yang fungsional, bernilai ekonomi, dan mampu menciptakan lapangan kerja hijau di tingkat komunitas pesisir maupun perkotaan.

Program RAPPO Living persis menunjukkan arah masa depan itu: daur ulang sampah menjadi furnitur bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi model ekonomi baru yang menautkan pengelolaan lingkungan dengan kesejahteraan warga. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berjudul “RAPPO Living: From Plastic Waste to Circular Furniture”, PLN UID Sulselrabar meraih penghargaan Gold pada Indonesian CSR Awards (ICA) dan Indonesian SDGs Awards (ISDA) 2026, di ajang yang diikuti 275 peserta di Jakarta. Pengakuan ini penting, tetapi poin utamanya adalah: ketika perusahaan mau serius, furniture berkelanjutan bisa menjadi mesin ekonomi lokal, bukan hanya pajangan di laporan CSR.

Dari 10,2 ton sampah plastik ke produk bernilai tinggi

RAPPO Living lahir dari kolaborasi antara PLN UID Sulselrabar dan Rappo Indonesia untuk menjawab dua masalah bersamaan: gunungan sampah plastik dan sempitnya peluang ekonomi masyarakat pesisir Makassar. Fokusnya jelas: mengolah plastik jenis high-density polyethylene (HDPE) dan polypropylene (PP) menjadi furnitur dari sampah plastik dan aksesori dengan nilai jual. Di sini, ekonomi sirkular furniture bukan slogan, tetapi alur produksi konkret yang mengubah beban lingkungan menjadi aset.

Data program mencatat 10,2 ton sampah plastik telah diolah menjadi furnitur dan produk turunan, melibatkan lebih dari 200 warga dalam pengumpulan sampah. Ini bukan angka kecil untuk satu komunitas pesisir. Angka itu berarti ratusan ribu kemasan plastik yang tidak berakhir di laut, tetapi menjadi kursi, meja, atau aksesori yang tahan lama. Di sinilah nilai ekonomi tinggi muncul: bahan baku gratis dari lingkungan yang tercemar diubah menjadi produk fungsional dengan umur pakai panjang, menjadikan daur ulang sampah menjadi furnitur sebagai model bisnis yang masuk akal, bukan sekadar kegiatan amal.

Memberdayakan lebih dari 200 warga: dari pemulung dadakan ke pelaku green jobs

Dampak paling penting dari RAPPO Living bukan pada penghargaan, melainkan pada pergeseran peran warga pesisir Untia. Program ini tidak berhenti di pengumpulan sampah; PLN menyediakan sarana produksi, pelatihan, dan pendampingan sehingga warga belajar mengolah, bukan hanya mengumpulkan plastik. Lebih dari 200 orang terlibat aktif dalam rantai pasok ini, dari pengumpul sampai pengrajin. Di sinilah furnitur dari sampah plastik berubah menjadi pintu masuk kemandirian ekonomi.

Pernyataan General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan arah program: dukungan sarana, peningkatan keterampilan, dan pendampingan diharapkan membuka peluang kerja dan memperkuat kemandirian masyarakat. Ini lebih dari sekadar bantuan; ini investasi kapasitas. Ketika warga dibayar untuk kompetensinya—bukan rasa kasihan—merekalah pelaku utama green jobs, bukan obyek program. Model ini patut ditiru: pemberdayaan yang berangkat dari keahlian dan pasar, bukan hanya bagi-bagi bantuan atau proyek musiman.

Mengikat rantai: dari bank sampah ke pasar furniture berkelanjutan

Keberhasilan ekonomi sirkular furniture sangat bergantung pada jaringan, bukan satu aktor. RAPPO Living paham betul hal ini. Program ini memperkuat keberlanjutan melalui kerja sama dengan bank sampah, pengepul, komunitas lingkungan, dan berbagai mitra lain untuk menjamin aliran bahan baku dan memperluas pasar produk. Artinya, furniture berkelanjutan yang dihasilkan tidak berhenti di gudang produksi; ia masuk ke rantai nilai yang lebih luas.

Pendekatan ini mengirim pesan penting: pengelolaan sampah yang baik tidak bisa dipisahkan dari desain produk dan strategi pemasaran. Dengan memanfaatkan sampah plastik secara produktif, program ini mengurangi potensi pencemaran, memperluas peran warga dalam menjaga lingkungan, dan mendorong lahirnya kegiatan ekonomi berbasis daur ulang. Inilah definisi praktis dari daur ulang sampah menjadi furnitur: integrasi penuh antara lingkungan, ekonomi, dan komunitas, bukan proyek satu kali tanam pohon untuk foto seremonial.

Dari penghargaan ke norma baru: saatnya meniru, bukan sekadar mengagumi

Raihan Gold di ICA dan ISDA Awards 2026 memang layak diapresiasi, tetapi penghargaan seharusnya menjadi titik awal, bukan garis akhir. Pengelola program sudah menyatakan penghargaan ini sebagai dorongan untuk terus mengembangkan program yang memberi manfaat berkelanjutan bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Pertanyaannya: apakah model seperti RAPPO Living akan tetap jadi pengecualian, atau berubah menjadi standar baru bagi program sosial perusahaan lain?

Jawabannya seharusnya jelas. Di tengah krisis plastik dan ketimpangan ekonomi, program yang menggabungkan pengelolaan sampah, penciptaan lapangan kerja hijau, dan produksi furnitur fungsional harus dianggap kebutuhan, bukan bonus. RAPPO Living menunjukkan bahwa furniture berkelanjutan bisa lahir dari strategi bisnis yang matang, bukan wacana hijau di atas kertas. Jika lebih banyak perusahaan berani mengadopsi model serupa—dengan komitmen jangka panjang, jaringan mitra, dan fokus pada kapasitas warga—maka kursi dan meja di rumah kita kelak bisa bercerita tentang laut yang lebih bersih dan komunitas yang lebih berdaya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!