Kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan
Kesiapsiagaan bencana di sekolah adalah kemampuan siswa dan tenaga pendidik untuk mengenali risiko, melindungi diri, mengevakuasi diri, dan meminta bantuan secara tepat saat keadaan darurat. Kemampuan ini tak tumbuh dari poster atau penjelasan semata; latihan yang berulang membuat prosedur lebih mudah diingat ketika kepanikan muncul.
Pada Kamis, 29 Oktober 2026, PMI Kota Jakarta Pusat mengadakan edukasi dan simulasi gempa di SMKN 21 Jakarta untuk siswa dan guru, termasuk latihan melindungi diri saat guncangan, evakuasi tertib, dan menuju titik kumpul aman. Simulasi gempa sekolah seperti ini memberi siswa kesempatan mempraktikkan tindakan, bukan hanya menghafal instruksi. Latihan yang tepat diharapkan membuat warga sekolah bertindak lebih tenang dan terarah serta mengurangi risiko saat bencana. Karena itu, kesiapsiagaan bencana siswa sebaiknya dibangun lewat latihan berkelanjutan, bukan agenda seremonial yang selesai setelah satu hari.
Langkah yang lebih luas datang dari kerja sama Basarnas dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Nota kesepahaman mereka ditandatangani di Jakarta pada 26 Februari 2026, dengan tujuan memperkuat edukasi kebencanaan, pencegahan risiko, dan budaya sadar keselamatan di sekolah.

Simulasi membangun tindakan, nomor darurat membuka akses bantuan
Latihan evakuasi menjawab pertanyaan “apa yang harus dilakukan?”, sementara sosialisasi layanan SAR menjawab “ke mana meminta bantuan?”. Keduanya penting, tetapi tidak saling menggantikan: siswa yang tahu cara berlindung pun perlu memahami bagaimana melaporkan keadaan darurat ketika bantuan profesional dibutuhkan.
Dalam program SAR Goes to School di SD Inpres Nasipanaf, Kupang, Kantor SAR Kupang mengenalkan pengetahuan SAR kepada 121 siswa. Materinya mencakup cara menghadapi gempa, menyelamatkan diri, serta menolong orang lain, disertai sosialisasi layanan darurat 115. Nomor itu dapat diakses melalui telepon rumah maupun telepon seluler dari seluruh Indonesia untuk melaporkan kecelakaan, bencana alam, atau kondisi yang membahayakan jiwa, serta mencari informasi operasi SAR.
Nomor 115 tidak menggantikan kewaspadaan maupun prosedur evakuasi. Namun, memperkenalkannya di sekolah membuat siswa tahu bahwa meminta pertolongan adalah bagian dari kesiapsiagaan, bukan tindakan yang baru dipikirkan setelah situasi memburuk.

Pertolongan pertama melengkapi kesiapan sekolah
Edukasi keselamatan menjadi lebih lengkap ketika siswa juga belajar membantu orang di sekitarnya. Pada Selasa, 3 November 2026, anggota PMR SMA Negeri 72 Jakarta berkunjung ke markas PMI Jakarta Utara dan mempelajari pelayanan kemanusiaan, ambulans, pertolongan pertama, serta kesiapsiagaan bencana. Kegiatan ini menempatkan pertolongan pertama siswa sebagai keterampilan praktis, sekaligus mengajarkan batas peran: menolong sesuai kemampuan dan menghubungi layanan yang tepat.
Para siswa juga mendapat pengenalan layanan PMI Jakarta Utara, termasuk ambulans medis dan ambulans jenazah gratis selama 24 jam di wilayah DKI Jakarta serta klinik kesehatan gratis di Jakarta Utara. Paparan langsung tentang layanan ini memberi konteks nyata tentang ke mana masyarakat dapat mencari bantuan kemanusiaan dan kesehatan.
Kunjungan, simulasi, dan sosialisasi nomor darurat punya keunggulan berbeda. Simulasi membentuk refleks, latihan PMR mengasah kemampuan menolong, sedangkan pengenalan SAR memperjelas jalur meminta bantuan. Sekolah perlu merangkai semuanya dalam pembelajaran yang konsisten; PMI Jakarta Pusat pun menekankan bahwa latihan berkelanjutan diperlukan untuk membangun sekolah yang lebih aman dan tangguh.

Dari kegiatan sesaat menuju budaya keselamatan
Kolaborasi Basarnas dan kementerian membuka peluang agar edukasi keselamatan terintegrasi di pendidikan dasar dan menengah, sementara latihan PMI dan kegiatan PMR menunjukkan bentuk praktik yang bisa dijalankan di lingkungan sekolah. Tantangannya adalah menjaga kesinambungan: prosedur perlu diulang, nomor bantuan perlu diingat, dan keterampilan perlu dipraktikkan dengan arahan yang sesuai.
Sekolah tak dapat menghapus risiko bencana, tetapi dapat mengurangi kebingungan dan keterlambatan saat keadaan darurat. Simulasi gempa, pengetahuan layanan darurat 115, serta pertolongan pertama siswa membentuk rangkaian kesiapan yang saling melengkapi. Kesimpulannya, pendidikan kebencanaan akan lebih bermakna ketika pengetahuan berubah menjadi kebiasaan: tahu cara melindungi diri, mampu membantu dengan aman, dan paham kapan serta bagaimana meminta pertolongan.






