Kesiapsiagaan harus dipelajari sebelum keadaan darurat
Edukasi bencana sekolah adalah proses membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali bahaya, mengambil tindakan aman, serta membantu mengurangi risiko sebelum dan saat keadaan darurat. Nilainya bukan pada seberapa banyak materi disampaikan, melainkan pada apakah anak tahu apa yang harus dilakukan ketika waktu untuk berpikir semakin sempit. Dua program terbaru memperlihatkan cara berbeda untuk mencapai tujuan itu. Rumah Zakat Lampung menggelar Volunteer Goes to School di SDIT Harapan Bangsa, Natar, Lampung Selatan, pada 22 Oktober 2026, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa menghadapi potensi bencana sejak dini. Sepekan kemudian, ITS melalui Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim meresmikan Gerakan Seribu Siswa Sahabat Tangguh Bencana, dengan edukasi bagi ribuan pelajar dari jenjang SD hingga SMA di Jawa Timur. Perbedaan skala mereka penting; sama pentingnya adalah memastikan pelajaran berlanjut menjadi kebiasaan.

Latihan lokal membuat pengetahuan lebih mudah dipakai
Di Natar, Rumah Zakat memadukan penyampaian materi dengan simulasi kesiapsiagaan. Siswa belajar mitigasi bencana, mempraktikkan evakuasi mandiri saat gempa, dan mengenal penanganan kebakaran ringan. Mereka juga diajak mengenali risiko di lingkungan sekolah dan memahami cara menyelamatkan diri secara aman serta tertib. Pendekatan semacam ini punya keunggulan yang sering hilang dalam ceramah: siswa mencoba urutan tindakan, bukan hanya mendengar instruksi. Dalam situasi darurat, kemampuan mencari jalur keluar atau mengikuti prosedur bisa lebih berguna daripada hafalan istilah. Namun, satu kegiatan belum cukup untuk membangun kesiapan yang bertahan lama. Sekolah perlu mengulang latihan, memeriksa jalur evakuasi, dan melibatkan guru agar keterampilan tidak berhenti sebagai pengalaman sehari. Kepala sekolah menyambut program tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan. Rumah Zakat juga berharap semakin banyak sekolah ikut membangun budaya sadar bencana.
Jangkauan luas dapat melahirkan duta kebencanaan
Gerakan ITS menempatkan mitigasi bencana siswa dalam skala lebih luas: seribu siswa dari berbagai jenjang menjadi sasaran edukasi, dengan pelaksanaan di Gedung Pusat Robotika ITS pada 29 Oktober 2026. Peserta juga mencoba simulasi kebencanaan menggunakan teknologi realitas virtual, sebuah cara untuk menghadirkan pengalaman latihan yang berbeda tanpa bergantung sepenuhnya pada kondisi darurat nyata. Sekretaris Daerah Jawa Timur Adhy Karyono menyatakan, “Ketika kesiapsiagaan mitigasinya kuat, 70 persen risiko dapat berkurang saat tanggap darurat”. Angka itu menegaskan alasan untuk berinvestasi pada persiapan, bukan menunggu bencana datang. Namun, jangkauan besar hanya bermakna bila siswa membawa pulang pemahaman yang bisa diterapkan. Wakil Rektor ITS Nurul Widiastuti berharap peserta menjadi duta kebencanaan di sekolah, keluarga, dan lingkungan tempat tinggal. Mereka dapat memperluas manfaat program, sementara kesiapan individu tetap penting karena warga di lokasi sering menjadi pihak pertama yang bertindak sebelum bantuan tiba.

Dari program sesaat ke budaya aman
Program Rumah Zakat dan ITS saling melengkapi: satu menekankan latihan konkret di sekolah tertentu, sementara yang lain memperluas edukasi kepada ribuan pelajar. Keduanya menunjukkan bahwa siswa siaga bencana tidak lahir dari poster atau imbauan saja. Mereka perlu berlatih mengenali bahaya, menyiapkan respons, dan melakukan tindakan yang benar. Sekolah merupakan ruang strategis untuk membangun kebiasaan tersebut, tetapi tanggung jawabnya tidak boleh berhenti pada satu kegiatan. Simulasi berkala, pengetahuan tentang risiko setempat, dan koordinasi dengan keluarga akan membuat pelajaran lebih melekat. Ajakan ITS agar siswa mengenali, menyiapkan, lalu melakukan tindakan memberi urutan yang mudah diingat; harapan Rumah Zakat agar lebih banyak sekolah terlibat memberi arah untuk memperluasnya. Kesimpulannya, edukasi kebencanaan paling kuat ketika skala luas bertemu latihan yang bisa dipraktikkan. Itulah jalan untuk mengubah kesiapsiagaan bencana dari materi pelajaran menjadi budaya keselamatan.






