Keselamatan perlu dipelajari sebelum keadaan darurat
Edukasi keselamatan sekolah adalah pembelajaran yang membekali pelajar untuk mengenali bahaya dan mengambil tindakan awal yang aman saat keadaan darurat, melalui penjelasan serta latihan langsung. Pendekatan ini lebih berguna daripada penyuluhan satu arah: siswa perlu berlatih agar pengetahuan berubah menjadi kesiapan. Di Mimika, program Safety Goes to School mengawali rangkaian pembukaan kompetisi pemadam kebakaran dan penyelamatan pada 24 Oktober 2026. Lebih dari 1.000 pelajar SMP dan SMA mengikuti pelatihan dari tim penyelamat profesional di 10 sekolah. Materinya mencakup resusitasi jantung paru, penanganan perdarahan, serta pemadaman api dengan alat sederhana dan APAR. Penggagasnya menekankan bahwa tujuan kegiatan bukan sebatas mengenalkan risiko, melainkan menanamkan budaya keselamatan sejak dini. Harapannya, pelajar menjadi agen keselamatan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekolah. Ukuran keberhasilan yang penting bukan ramai atau tidaknya acara, tetapi apakah keterampilan itu tetap diingat ketika bantuan belum tiba.
IFRC memperluas pelajaran kesehatan dan keselamatan
Rangkaian edukasi dalam kompetisi penyelamatan juga memberi ruang bagi pelajar untuk belajar di luar kelas. Siswa SMK Negeri 3 Kesehatan dan Pekerjaan Sosial Mimika mengunjungi ajang IFRC yang berlangsung di Timika pada 21–31 Oktober 2026. Mereka melihat perlombaan dan mengunjungi stan yang menyajikan informasi kesehatan, layanan, serta kegiatan sosial. Materi di stan kesehatan antara lain membahas malaria dan demam berdarah, sementara siswa juga memperoleh pemahaman mengenai cara menolong seseorang dalam keadaan darurat, baik di dalam maupun di luar ruangan. Kunjungan seperti ini mempertemukan pengetahuan dengan konteks nyata. Namun, paparan informasi saja belum cukup untuk membangun tanggap darurat siswa; sekolah perlu menghubungkannya dengan latihan berulang dan panduan yang mudah diingat. Dengan begitu, wawasan tentang kesehatan dan keselamatan tidak berhenti sebagai pengalaman kunjungan, tetapi dapat menjadi bekal untuk mengenali situasi dan mencari pertolongan secara tepat.
Latihan membuat respons lebih terukur
Di SMAN 4 Pekalongan, ratusan pelajar mengikuti sosialisasi dan simulasi tanggap darurat yang digelar petugas pemadam pada 28 Oktober 2026. Mereka bergantian mencoba memadamkan api dengan APAR dan mempelajari cara menggunakan kain atau karung goni basah untuk menangani titik api kecil. Sebagian siswa sempat gugup, tetapi praktik membantu mereka memahami teknik dasar dan mengurangi rasa panik. Seorang siswi kelas X mengatakan ia kini merasa lebih siap membantu jika kebakaran darurat, seperti kebakaran tabung gas, terjadi. Kegiatan itu juga mencakup simulasi penanganan ular liar dan evakuasi hewan, sehingga pelajar belajar menjaga jarak serta mengandalkan teknik yang aman. Simulasi kebakaran sekolah bukan pengganti bantuan petugas; nilainya terletak pada latihan mengenali batas kemampuan, bertindak hati-hati, dan segera meminta bantuan. Sekolah menyebut mitigasi kebakaran sebagai program tahunan bagi lebih dari 620 peserta didik.
Urgensi latihan semakin jelas karena di Pekalongan tercatat sekitar 13 hingga 14 kasus kebakaran lahan dan bangunan sepanjang Oktober. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa edukasi perlu berlanjut, bukan berhenti setelah satu sesi praktik. Siswa juga didorong membagikan pengetahuan mitigasi kepada keluarga dan warga sekitar, sementara tim penyelamat hewan setempat bersiaga sepanjang waktu menghadapi ancaman satwa berbahaya.
Penggunaan APAR perlu dibarengi kesiapan
Dalam rangkaian kegiatan pendidikan IFRC, Tim Tanggap Darurat PT Nusa Halmahera Minerals mengajarkan penggunaan APAR kepada siswa SMAN 1 Mimika pada 23 Oktober 2026. Setelah penjelasan teori, siswa berkesempatan mencoba alat di bawah pengawasan petugas. Latihan ini memberi bekal dasar untuk memahami fungsi APAR dan langkah awal menghadapi kebakaran, tetapi keterampilan tersebut harus digunakan secara aman dan tidak mendorong siswa mengambil risiko di luar kemampuannya. Nilai utama kegiatan ini adalah membiasakan pelajar mengenali alat, mengikuti arahan, dan memahami pentingnya kesiapsiagaan. Pengajaran praktik juga sejalan dengan pelatihan di Mimika dan Pekalongan: budaya keselamatan terbentuk ketika siswa bukan hanya mendengar, tetapi mencoba dalam kondisi terkendali. Agar manfaatnya bertahan, sekolah perlu mengulang latihan dan memastikan siswa tahu kapan harus mengutamakan evakuasi serta meminta bantuan petugas.
Kesimpulannya, edukasi keselamatan paling bermanfaat ketika menggabungkan pengetahuan kesehatan, latihan pemadaman, dan simulasi evakuasi. APAR memberi siswa keterampilan awal, bukan jaminan bahwa setiap kebakaran dapat mereka tangani. Latihan yang terarah, berulang, dan menekankan batas aman akan membuat pelajar lebih siap merespons keadaan darurat tanpa mengabaikan keselamatan diri.







